|
Dalam kredo Ortodoks Yunani manusia terdudukkan sebagai mahluk yang agung dan mulia. Penempatan ini menyebabkan Dostoisevsky menghampiri manusia sebagai yang agung pula. Dalam upaya untuk menciptakan “keagungan manusia” dan “bukan manusia agung, sebagaimana pada Nietzsche, ia menampilkan Raskolnikov, tokoh protagonist Crime and Punishment, melebihi dimensi sosok manusia agung Nietzsche, dari orientasi ontologis “kehendak buta” Schopenhoer, yaitu suatu kekuatan sublim yang sebagasi landasan kekuatan dan hidup. Raskolnikov adalah gambaran manusia yang penuh dengan vitalitas, dalam dirinya tersimpan kekuatan maha dahsyat serta tidak terpahamkan oleh nalar. Ia memiliki intelektual tinggi dan sarat dengan gagasan-gagasan agung tentang manusia. Raskolnikov dituntut agar mampu untuk hidup sendiri dan memutuskan hubungan dengan humanitas. Raskolnikov adalah representasi manusia dengan predikat kehendak berkuasa. Menurut Dostoievsky, manusia terdiri dari dua kategori yaitu manusia luar biasa dan manusia biasa. Manusia luar biasa memiliki hak untuk melakukan kejahatan dan melanggar hukum. Hak tersebut bukan hak resmi, melainkan lebih merupakan hak yang berasal dari suara hati atau batin. Hak tersebut menentukan kesadaran untuk melakukan tindakan besar demi satu tujuan yang pasti, yaitu memberikan makna terhadap hidup dan menciptakan suatu signifikasi baru terhadap humanitas. Raskolnikov mengatakan bahwa sebagai manusia luar biasa ia memiliki hak, hak itu adalah hak batin untuk memutuskan dengan kesadaran total untuk melanggar hukum [Dostoievsky [CP]: 263]. Raskolnikov tersiksa oleh pertanyaan tentang apakah ia mampu melewati batas-batas dan apakah ia berhak untuk melanggar hukum yang ada. Manusia luar biasa wajib melakukan kejahatan, membunuh dan menumpahkan darah manusia. Tugas suci ini harus dilaksanakan demi kata hatinya dan demi predikatnyasebagai pengujar gagasan-gagasan agung kemanusiaan. Pembunuhan mutlak dilakukan sebagai syarat untuk menciptakan suatu tatanan dunia baru. Napoleon merupakan acuan baginya untuk menjalankan misi penghancuran tradisi, hukum konvensional guna penegakan prinsip-prinsip kemanusiaan demi penciptaan peradaban universal. Kekuatan itu merupakan landasan bagi manusia yang berani berhenti dan memetik sesuatu daripadanya. Raskolnikov menegaskan bahwa manusia harus memiliki keberanian [Dostoievsky (CP) :423-424] untuk melewati batas-batas dan melakukan pembunuhan. Tanpa keberanian manusia tidak lain adalah kutu busuk. Atas dasar pemikiran inilah Raskolnikov melakukan pembunuhan. Melakukan pembunuhan adalah manfestasi saei nihilistic manusia. Tujuan hidup adalah untuk menciptakan suatu nilai baru yang berorientasi pada upaya untuk meninggikan martabat manusia; melaksanakan misi suci dengan menumpahkan segenap pikiran dan energi demi kepentingan manusia dan sekaligus menjadi pegangan Raskolnikov. Pembunuhan yang dilakukan tidak bermotif untuk memperoleh keuntungan, bukan pula untuk membantu keluarga yang sedang dihimpit oleh kesulitan keuangan. Akan tetapi membunuh untuk menemukan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lain yang dimaksud adalah sejenis pembuktian diri dan karenanya manusia mutlak menerobos batas-batas, mampu pula melanggar hukum tanpa dihantui oleh perasaan bersalah. Pembunuhan yang dilakukan oleh Raskolnikov adalah pembunuhan kasuistri. [Dostoievsky (CP: 317] Pembunuhan kasuistri adalah pembunuhan tanpa motif yang berorientasi pada upaya afirmasi diri, berada diluar batas-batas moralitas dan bukan suatu pembenaran. Raskolnikov sendiri, ia tidak kuasa untuk menjelaskan motif yang tersembunyi dibalik pembunuhan yang dilakukannya. Kekuatan tersebut berkuasa penuh serta tidak terpahamkan dan terus menyiksa dirinya. Raskolnikov menulis teori-teori pembunuhan yang bermotif pada pendewaan terhadap kejahatan dalam majalah “Preview”. Dalam artikel itu disebutkan bahwa manusia adalah agung sejauh melakukan kejahatan. Permasalahan melakukan atau tidak melakukan kejahatan lebih merupakan pertimbangan moral. Sementara pembunuhan itu sendiri tidak berkaitan dengan moral. Raskolnikov membunuh bukan untuk menguasai milik orang lain, bukan pula untuk menolong sesama akan tetapi semata-mata untuk memperoleh sesuatu yang lain. Memperoleh sesuatu yang lain adalah suatu kondisi patologis mental. Raskolnikov sendiri tidak mengetahui persis apa yang mendorongnya untuk melakukan pembunuhan. Membunuh demi pembunuhan adalah suatu aspek maotivatif. Karena di balik pembunuhan keji terdapat sesuatu kekuatan absurd dan tidak terpahamkan. Pembunuhan tanpa larangan dianggap sebagai tindakan agung sejauh dilakukan sesuai dengan dorongan hati nurani. Pembunuhan adalah suatu mediasi menuju kesempunaan manusia. Makna eksistensial yang tersirat dalam pembunuhan adalah suatu nilai intrinsik suatu tindakan tanpa motif, tanpa tujuan. Pembunuhan berada di luar pertimbangan moral, bukan masalah baik dan jahat [Dostoievsky (CP : 425]. Raskolnikov berpegang teguh pada prinsip dan keyakinannya sebagai manusia luar biasa dengan mengidentifikasikan diri sebagai Napoleon. Sebagai manusia agung ia sadar akan kemutlakan untuk memiliki keberanian. Keberanian adalah syarat mutlak dimiliki demi kepentingan seluruh umat manusia [Dostoievsky (CP :263-264] Sosok manusia Raskolnikov mengisyaratkan suatu maksim bahwa manusia tunduk pada hukum “degenerasi-regenerasi”. Dalam dataran ini, sosok manusia Raskolnikov adalah suatu dasar pijak montologis untuk memahami manusia dalam arti baik dan buruk, dan kebebasan yang diaktualisasikan dalam masing-masing, kemampuan melacurkan diri dan memperbudak diri; dalam hal Raskolnikov, dalam beberapa idea mengimposed seluruh person sebagai suatu yang kurang tepat; dalam hal diri manusia awah tanah tercermin kondisi galau dan mencekam dimana status ontologism diri menjadi suatu yang dilematis; menjadi sesuatu atau tidak sama sekali. Menjadi diri sendiri atau menjadi orang lain atau di luarnya sekaligus. Identitas diri tertampilkan sebagai sesuatu yang eksistensial. Kegalauan dan disorientasi dalam diri gambaran kerentanan manusia serta ketidaktahanan untuk melaksanakan beban kebebasan pada Inquisitor agung. Oposisi biner antara baik dan buruk, antara “kebebasan untuk kebaikan” dan “kebebasan untuk keburukan “ dalam proses mediasi dramatik, mengungkapkan moral dasar dan dimensi religius dalam diri manusia di bawah tingkat memperbudak diri yang berasal dari luar, ide paksaan yang memungkinkan regenerasi. Lebih lanjut mediasi terlempar kedalam fokus tiga dimensi dapat dibaca dalam batasan pemahaman tentang manusia secara lebih mendalam dalam suatu keseluruhan. Dalam tingkatan simbolisme penyakit sebagai mediasi antara sakit dan sehat, mediasi wilayah rumit termasuk pengobatan tidak hanya karena berkat Sonya semata, akan tetapi juga berasal dari dalam diri Raskolnikov sendiri, dari dimensi moral religius, dimensi totalitas manusia. Dengan demikian Dostoievsky meletakkan totalitas manusia sebagai mediator antara unsur-unsur berlawanan. Di sini, posisi antara ide abstrask dari suatu relitas nalar dan perasaan yang yang dimasukkan, dimensi moral-religius membawa persona total ke depan dalam merespon ciuman Kristus. Keseluruhan mediasi ini adalah tempat integrasi kesalahan dalam person, sebagaimana pada Kristus dengan Inquisitor Agung. Dostoievsky mengatakan untuk merangkul opos ketegangan oposisi biner baik dan buruk, bahwa kebebasan diaktualisasikan dalam konteks, bahwa kita dibutuhkan kesadaran untuk aktualisasi ketegangan antara baik dan buruk sesuai dengan dominasi dan ide kosong, terhadap kebutuhan orang lain dari kita, bahwa kita ditebus oleh kasih. Terdapat kontras antara dunia degenerasi dan dunia regenerasi. (McBrind : 34-35). |
| yourshop.cc December 3, 2008 11:58 PM PST http://www.watchesforsale.us | ||
| Leave a Comment: |