"Mari kita berfilsafat secara reflektif dan kritis mengulas realitas keseharian" DR. Sinkop Boas Boangmanalu




   



Web ini diasuh oleh ,DR.Sinkop Boas Boangmanalu, Pengajar di Departemen Filsafat Universitas Indonesia yang selama hampir 30 tahun berkutat dengan pemikiran Marx dan Dostoevsky







rss feed



 
May 2, 2008
MARX SEORANG FILSUF MORALIS?

Tulisan  sumir dan seminal tentang moral  Marxian  ini  harus diakui berani dan bersifat  subversif, tentu saja  tak terbantahkan berorientasi provakatif,  tidak pelak lagi  sekaligus sebagai  respon terhadap semangat “posmodernisme”  dan  “dekonstruksi” dan “hiper-realitas”  dewasa ini. Gagasan gagasan sentral Marx  tentang humanitas,   dalam persentuhannya  dengan moral Marxian  nyaris  terlupakan namun secara tak terelakkan patut pula untuk  diserukan  tentang pentingnya dipertimbangakan dalam   terutama pula  pada  tuntutan mendesak  untuk diketengahkan  dalam diskursus  moral.

                                                                                 _________

 

 

Walaupun Marx bukan seorang filsuf moral bukan berarti ia mengabaikan  moral. Marx tidak pernah berusaha mengkonstruksikan teori moral secara sistematik dan runut. Namun penting diingat bahwa komitmen moral, - selanjutnya disebut moral Marxian -  tercermin pada perjuangan hakiki tentang kebebasan - berorientasi humanitas dan berpuncak pada kebebasan. Kebebasan dengan demikian merupakan dasar ontologis  moral Marxian yang telah digarap  sejak  awal  Naskah Naskah Paris dan dielaborasikan secara  proporsional  dalam karya transisional, karya politik dan ekonomi serta dalam  seluruh karyanya  pada masa tua. Setidak-tidaknya  dalam  tahap awal perkembangan pemikirannya  terdapat pandangan tentang moral.

         

Tema sentral  moral Marx adalah  bagaimana merealisasikan  kebebasan   manusia.  (Maszaros, 1970:  162). Kebebasan, dengan demikian adalah medan  pergumulan dan kontemplasi filosofis Marx yang telah diungkapkannya sejak awal dalam Naskah-Naskah Paris tatkala bergumul dengan masalah alienasi kerja dan aktivitas serta kesadaran manusia.  Pada saat itulah aspek moral  serta kaitannya dengan  produktivitas manusia direnungkan. Garapan moral tersebut  tersebar dalam hampir seluruh karya-karya  Marx  tua. Dalam Manuscript, Marx mengatakan bahwa, komunisme  adalah  penghapusan positif  hak milik pribadi,  alienasi diri manusia, dan  demikian  apropriasi riil  alam manusia melalui dan bagi manusia. Adigium Marx yang tersohor  tentang bagaimana relasi manusia  dengan alam, dengan  agama  merupakan titik tolak materialisme. Dikatakan bahwa:

 

 It is,  therefore, the return  of man  himself as a social, i.e. really  human being, a complete and  conscious return which assimilates all the wealth  of previous  development. Communism as awfully developed  naturalism is humanism and as  fully developed  humanism is naturalism is humanism and as a fully  developed  humanism is naturalism.  It is the definitive resolution of antagonism between  objectification and self-affirmation, between  individual and species. It is the solution of the  riddle  of history and knows itself to be this solution (Peffer, 1990 :  54-55).

 

Dalam marxisme  moral  adalah sesuatu yang bersifat konstan dalam perubahan. Istilah konstan dalam perubahan mengandung arti bahwa moral terdudukkan dalam  ranah supra struktur yang merupakan derivasi ajek dari kondisi obyektif materil masyarakat. Ini berarti bahwa tema moral dalam kaitannya dengan kebebasan, kendatipun  tidak sacara eksplisit  dan terperinci, tersebar  hampir dalam seluruh karya-karanya. Akan tetapi analisis dan deskripsi filosofis tentang moral tentu saja tidak tertemukan  secara rinci, sistematik dan lugas  dalam suatu karya tersendiri, sebagaimana juga  terjadi pada agama.  Moralitas marxisme dengan demikian lebih merupakan  pemikiran eklektik.  Moralitas  Marxian tersebar  dalam tulisan-tulisan Jurnalistik pada periode  liberalisme radikal  (1841-1843)  dalam periode  humanisme revolusioner (1843) dalam  Original  Marxisme (1844-l845, dalam karya-karya transisi (1847- 1858),  dan akhirnya pada  karya-karya tua (1858-1883).   Moralitas dalam  artian dan pemahaman marxisme bukanlah  suatu koleksi  preskripsi  abstrak dan bukan larangan, akan tetapi  suatu fungsi positif  dari masyarakat dari  individu-individu yang nyata.  (Ibid, 1990: 187).  Dalam marxisme, moralitas  bukan    dipaksakan  ke dalam masyarakat dari luar,  bukan pula  merupakan produk  alam   supra historis manusia.   Kondisi sosial  merupakan sumber moral adalah titik berangkat Marx dalam merealisasikan kebebasan yang menjadi  cita-cita moral. Moralitas sedemikian selanjutnya disebut dengan moralitas Marxian sebagai  antipoda  dari moralitas yang menempatkan Tuhan, daya sublim transendental sebagai sumber.  (Kelle,   1973:  246).  Moralitas  adalah suatu  bentuk dari  kesadaran sosial  yang merefleksikan relasi antara  manusia dalam kategori dan pemahaman  tentang  etika sebagai sumber penilaian tentang baik dan buruk, sumber pilihan bebas manusia.

         

Manusia dalam kehidupan  kesehariannya  -  sesuai dengan kondisi obyektif masyarakat membentuk  nilai  abstrak, atau  moralitas sebagai pengejawantahan  dari kondisi objektif kehidupan keseharian – dalam masyarakat kapitalistik, telah memiliki ideal moral, prinsip prinsip, aturan  dan  regulasi  dan peta kognitif serta pola  tindakan dan perangkat nilai tertentu. Sebagai akibatnya kesadaran moral masyarakat muncul sebagai  penilaian  sosial dari satu tindakan individu, yaitu,  suatu penilaian  dari signifikasi sosial mereka. Dengan demikian  kesadaran  tidak lain adalah  suatu ekspresi  dari  sifat alamiah  sosial manusia.  (Ibid, 1973 :  244). Karena  struktur masyarakat dan kepentingannya  ditentukan  oleh  sistem ekonomi sebagai basis, maka  moral  ditentukan sesuai dengan perkembangan cara cara produksi masyarakat. Masyarakat berubah sesuai dengan perubahan ekonomi yang menyertainya. Moralitas  berubah sesuai dengan perubahan  basis ekonomi, cara produksi masyarakat yang melandasinya.  Perkembangan masyarakat yang disertai oleh perubahan  dalam  struktur ekonominya secara tak terelakkan  mengakibatkann perubahan dalam moralitas. Moralitas  adalah  fakta historisitas dan kongkret.  Moralitas bukan   abstrak,  imutabel,  abadi  dan  ekstra historis. Dalam  masyarakat berkelas,  moralitas  memiliki  watak  kelas. Karena kesadaran kelas  adalah  produk   sosial, maka  moralitas  kelas  penguasa  sebagai yang dominan dengan sendirinya merupakan nilai dominant dalam masyarakat. (Ibid, 1973: 246). Moralitas menurut Marx:

 

It was, along with  the most ideological superstructure, simply the expression  of man’s material interests.  The  phantom formed in the human  brain are also, necessarily, sublimates of their material life-process, which is empirically verivitiable and bound to material premises.  Morality, religion, metaphysics, all the rest of ideology, and their corresponding forms of consciousness, thus no longer retain in semblance of independence.  (Walker, 1989: 107).

          

Marx menyebutnya kelas dengan  nilai intrinsik dan makna eidos menurut Husserl,   dan ontologik menurut Heidegger. Yang dikandungnya bukan  sebagai kekuasaan melainkan  sebagai dominasi Konsep dominasi. Konsep demikian selanjutnya dielaborasikan oleh Gramci pada  abad XX. Kelas bukanlah keterberian  ajek dan bersifat niscaya, akan tetapi  sebagai suatu kontigensi, suatu keharusan sejarah.  Dengan kontigensi berarti moralitas dalam marxisme pastilah bersifat konstan terutama dalam perubahan makna dan orientasi.  Moral sebagai yang bermukim dalam  ranah super-struktur dalam marxisme pasti pula bersifat nisbi. Dikatakan nisbi karena moralitas terdeterminasikan oleh kekuatan obyektif  keadaan material   kehidupan sosial. Sebagai  suatu kontigensi  maka moralitas terhubung dengan dominasi dan bukan lagi dengan kekuasaan sebagaimana  lazim ditafsirkan  selama ini. Dominasi yang dimaksudkan disini adalah dominasi dalam orientasi dan pengertian Faulcaudian tentang kekuasaan.  Dominasi juga  dimaksudkan dalam  pemahaman Gramcy.

         

Gramcy  hendak mentransplantasikan pemikiran humanisme Machievelli  dalam tataran masyarakat abad XX. Menurut Faulcout, kekuasaan tersebar dan ada dimana-mana. Kekuasaan tidak lagi tersentralisir dalam institusi negara dan pranata resmi masyarakat, melainkan ada dalam setiap unsur konstitutif manusia dan kehidupan.  Namun apapun bentuk kekuasaan yang terdapat dimana saja, terutama  dalam  lingkup masyarakat kapitalis tetap mempertahankan watak eksploitasinya. Dominasi merujuk  pada  tuntutan  mendesak  dalam ranah sosial dan moralitas  tentang pentingnya penjelasan struktur kelas dengan dinamika, kualifikasi ontologis serta kategori-kategori sosial yang dikandungnya. (Giddens: 45). Namun penting untuk dipahami, jika  Darwin  memukan teori evolusi, maka Marx menemukan teori pertentangan kelas.  Konflik laten dan antagonisme  antar kelas merefleksikan gejolak moralitas yang terselesaikan lewat dialektika. Dengan dialektika, maka moral dalam marxisme juga tertandai oleh perubahan dan tidak pernah bersifat ajek dan imutabilitas tinggi. Antagonisme antar kelas tak terbantahkan mendasari moralitas marxisme.

         

Moralitas  marxisme terkait secara kohesif dengan praxis dan senantiasa pula   terproyeksikan  sebagai terapheutik menuju  tercapainya masyarakat tanpa kelas.  Makna dan pengertian kelas pada Marx terpastikan bersifat heuristik dan celakanya cenderung  mikris dan terlupakan. Padahal pelupaan terhadap  kelas  akan meruntuhkan bangunan marxisme, terutama karena di atasnya moralitas dibangun. Analisa kelas inilah juga  merupakan permasalahan paling rumit, kabur sebagaimana diakui oleh Marx sendiri.  Penting untuk digarisbawahi, bahwa menempatkan  teori kelas dalam pengertian baku dan dogmatis mengakibatkan gagasan-gagsan sentral Marx tentang humanisme terfalsifikasikan. Dengan heuristik berarti kelas-kelas masyarakat dengan segenap  kekuatan internal menjadikan Marx tetap  berfungsi emansiporis dalam masyarakat teknokratis. Kelas dalam pengertian Neo-Marxisme menerangi  analisis kelas yang keliru terhadap humanisme Marx yang tertuang dalam Naskah-Naskah Paris. Marxisme sebagai metode, sebagaimana ditawarkan oleh George Luckack,  kelas dan makna  heuristik  serta kaitannya dengan  historisitas  Dilthey, dan  strukturis Gidden diletakkan dalam suatu interpretasi hermeneutic emansipatoris  harus  didudukkan  pada  status  ontologis kelas  secara, lebih dinamis, terutama  dalam pengertian  metode konstrukvitas  merupakan kekuatan dinamis kelas. Kelas yang ada dalam  setiap zaman dan realitas  masyarakat apabila ditilik  secara filosofis  merupakan  kontribusi bagi perkembangan  masyarakat.

         

Apa yang terjadi dewasa ini adalah  makna  eidos  dan  karakteristik ajeg kelas hampir tetap memperlihat legitimasi dan relevansinya sesuai dengan perkembangan kapitalisme itu sendiri.  Dewasa ini analisis kelas menjadi relevan justru  ketika terjadinya  lompatan    transformatif ke masyarakat kapitalisme. Para manajer dan pemegang saham dan berbagai status personal  pada pasca Marx, ditempatkan sebagai kelas heuristik dalam pengertian klasik, akan tetapi  yang  lebih  luas  merupakan  landasan bagi  eksistensi  kelas, dan dominasi yang  tetap mengejawantahan  kepentingan kepentingan  kapitalis tetap langgeng. Dengan perkataan lain, kelas penguasa tetap, par excellence,  mempertahankan  karakteristik primordialnya  dan klaim  atas hak prerogatifnya sebagai  kelas eksploitatif  dengan cara yang  canggih serta rasionalitas.  Transformasi moralitas sesuai dengan  perubahan  makna heuristik kelas, berikut dengan kandungan makna   dinamis dan nisbi tersebut tidak ayal lagi merupakan suatu kekuatan tersembunyi   terpastikan menarik untuk digali. Potensi  ini tetap relevan  untuk diperbincangkan. Jika selama ini masalah moralitas dituduh termarginalkan oleh Marx,  maka  sebaliknya  moralitas Marxian  sepertinya menjadi aktual untuk diangkat sebagai  suatu diskursus  dan perdebatan  akademis. Klas dalam pengertian ini dapat dijadikan sebagai debat epistemologis dalam  problematika ontologis kelas.

          

Agama dalam pengertian Feuerbachian serta merta mentransformasikan watak busuk kapitalisme dalam suatu etika baru. Dengan transformasi tersebut moralitas tetap memperlihatkan  validitas  moral sebagai yang  berubah-ubah sesuai dengan  eksistensi kelas-kelas dominan yang berkuasa dalam masyarakat.  Kalau dikatakan marxisme dituduh  kehilangan  pengaruh dan validitasnya seiring dengan perkembangan  masyarakat, maka  yang harus ditengerai adalah  intervensi politis  dan ideologis, dan bukan  makna intrinsik ontologisnya.  Moralitas, dengan demikian dideterminasikan  oleh   kondisi eksistensi sosial. Tetapi karena manusia adalah  mahluk berkesadaran  maka ia bebas  bertindak  sesuai dengan kehendak dalam suatu situasi tertentu. Sebagai seorang  individual, manusia  memainkan peran  penting otonominya dalam memilih, dan  mengadakan pilihan bebas dalam tindakannya, manusia  melaksanakan kebebasan, terutama  kebebasan  kehendak, dan  kebebasan memilih.  (Kelle,   1973 : 244).  Kebebasan  menjadi  dasar untuk memeriksa  status qou moralitas  secara keseluruhan atau sebagai  sebagai  fenomenon  tertentu, kendatipun   kebebasan tersebut ada  dalam realitas, sebagai yang termaterikan dalam  perangkat moral  definit  dalam   setiap sejarah perkembangan masyarakat. (Ibid, 1973:  247). Etika Marxisme  menganggap  imutabilitas  peran moral  sebagai  kenyataan dependensi mereka  dalam upaya sadar mengubah  kondisi masyarakat dan historisitas   dan strukturasi mereka. Itulah sebabnya, tak terbantahkan  Marxisme  cenderung lebih mengandalkan pendekatan  sejarah kongkret  terhadap moral, terhadap penilaian moral  dan tingkah laku  manusia  dari kelas yang berbeda beda  dari masa  ke masa. (Ibid, 1973: 247). Relativisasi  moral  marxian  tak terbantahkan  adalah suatu keniscayaan  makna ontologis kelas mengakibatkan  perubahan terhadapnya sebagai  sesuatu yang imutabilitas hanya berlangsung   dalam bentuk peri-peri,  dalam keadaan ektsrnal atau bentuik luar dan bukan makna  eidos yang dikandungnya..   

         

Dalam   konteks ini  dimensi kelas yang menjadi sentral dalam Marxisme  terhindar dari  distorsi makna.  Analisis perkembangan masyarakat dalam pengertian kelas secara ontologis memperoleh  iklim  baru yang bersifat membebaskan.  Marx mestinya tidak diadili dalam sejarah implementasinya dalam panggung politik dan kekuasaan,   dalam kegagalan aplikasi teoritisnya dalam sejarah, melainkan didudukkan dalam  visi  pencerahannya yang bersifat  mumpuni  dapat mengatasi dilema disorientasi moral yang selama ini  didaulat sebagai tanggung jawab kapitalisme. Dengan  heuristik moral  sebagai acuan bagi  implementasi dan aktualisasi nilai ultim humanitas yang  terdeterminasikan oleh  kapitalisme  dan globalisasi dewasa ini moralitas yang sesungguhnya merupakan ekspresi kepentingan politik kekuasaan dan ideologi kelas penguasa, watak rakus  kapitalis terdekonstruksikan.  Moralitas dengan sifat cair dan mengalir, analog dengan dengan  sifat postmodernisme dan orientasi pluralistik dewasa ini.

          

Marx adalah prekusor  bagi upaya untuk menghancurkan logosentirme moral divina,  dan  pencetus  awal  jargon meta-narasi  yang  merayakan orientasi demokratik, multi kulturalisme dengan satu syarat  Marx tidak lagi dipandang sebagaai dogma akan tetapi sebagai metoda seperti yang diusulkan  oleh Kamenka dan George Luckack.  Atas dasar orientasi tersebut, moral marxian   menjadi  aktual dipersandingan  dengan displin ilmu lain. Penguakan perpektif baru tersebut, humanisme Marx mustahil termarjinalkan.  Tuhan dan daya sublin transendental sebagai sumber moral dan menjadi sikap  dan pemikiran abad pertengahan terdekonstruksikan. Manusia menjadi otonom. Belenggu  teretas, namun logosentrisme  ekonomi yang dituduhkan  kepada Marx dapat terjebak pada menafikan  dogmatisme Marx sebagaimana klaim  ideologis.  Perbutan pengaruh dan kekuasan yang berorientasi marxisme-Leninisme, ideologi partai  yang semula  dianggap kembali kepada praxis Marx, sesungguhnya telah menditorsi marxisme itu sendiri.  Ingat,  misalnya tuduhan  Neo-Marxisme terhadap  kekuasaan  Stalinistik  dan kultus  despotisme  Maoistis,  serta dominasi kekuasaan partai komunis  secara mengesankan telah menyulap  wajah marxisme  menjadi sesuatu yang tidak ramah,  menakutkan.

           

Pemikiran Marx terstigma oleh  peristiwa politik dan historisitas.  Kondisi faktual ini  melahirkan Euro-komunisme, suatu gerakan  komunis non revolusioner, kelompok ini   menjadi  kubu yang  dibenci dan mutlak disingkirkan. Uni Soviet dan negara-negara satelit Eropa Timur adalah musuh utama Eurokomunisme. Budaya demokrasi Eropa Barat  menolak perjuangan revolusioner melalui kekerasan.  Sebaliknya Eurokomunisme  cenderung  meletakkan opsi pada  perebutan kekuasaan  melalui  potensi yang ada dalam suatu masyarakat.  Sejarah  membuktikan tiada satu formula tunggal yang dapat dijadikan sebagai obat bagi  penyakit  global kemanusiaan.  Kegagalan  marxisme  terhadap komitmen kemanusiaan terletak pada  kesalahan persepsi terhadap hukum yang menggerakkan  masyarakat  yang seharusnya  diletakkan  pada  keharusan untuk  melaksanakan  gerakan  piecemeal” dan evolusistis.  Gerakan peacemal Popperian, yang dimaksudkan adalah aktivitas  sadar manusia dalam mengadakan  lompatan  atau perubahan  masyarakatsecara bertahap melalui pendayagunaan potensi tanpa menghancurkan misi negara.  Mereka  melaksanakan cara-cara demokrasi yang lebih elegan, perjuangan parlemetaristik serta perubahan gradualisme.  Untuk tujuan itu,   bekerjasama dengan agama yang  menjadi musuh komunis.  Moralitas yang mengandaikan kebebasan sebagai mahkota manusia dicapai melalui praxis yang dikotbahkan Marx adalah suatu bentuk moralitas yang  patut dihormati. Gagasan-gagasan humanitas Marx tentang alienasi, filsafat kerja dan terutama dimensi moralitas yang tersebar dalam hampir seluruh karyanya.  Pemikiran awal, karya masa transisi dan  Marx tua dari perspektif ilmiah patut pula dijunjung tinggi. Moralitas agama yang luhur selama ini sering disalahgunakan melalui moralitas  marxisme dapat menjadi cermin. Kekuatan destruktif tersebut selamanya menjadi marxisme. Marxisme merupakan bantaran pemikiran yang kokoh sejauh ia diperlakukan dalam kapasitasnya sebagai yang terbaptiskan sebagai ilmu pengetahuan dan sebagai pusat orientasi pembebasan atau emansipatoris. Inilah moralitas sesungguhnya dari marxisme. 

         

Moralitas marxisme sebagai konstan nisbi  analog  dengan  perjuangan   epistemolog meta-narasi dan perang terhadap segala bentuk “logosentrisme” dan “orientasi  positivistik”   yang  menjamin kelanjutan serta resistensi atau ` daya lentur serta kebertahanan  fungsional kapitalisme modern, dengan muatan emansipatoris yang dikandungnya.  Pemahaman terhadap moral Marxian  yang sarat  dengan nilai-nilai humanitas yang termarjinalkan, sarat dengan bias politik dan ideologisasi,  sakralisasi     dan dogmatikalitasi dan  kecenderungan rekayasa  secara tak terbantahkan menggerogoti moral Marxian. Namun seiring dengan kemajuan dan tuntutan zaman

Posted at 03:36 am by moan_bb
Make a comment  

 
Apr 30, 2008
KARL MARX: ANTI AGAMA VS PENEGAK KEMURNIAN IMANI

Di Eropa,  sejak  abad rasionalisme dan mencapai masa akut pada  reformasi gereja, konsep Ke-Tuhanan, persepsi dunia transendensi  dalam  bentuk deisme Inggris, Jerman dan Prancis agama  menjadi memperoleh  signifikasi baru.

 

Gagasan Marx tentang agama  tersebar  di dalam tulisan-tulisan terutama banyak dipengaruhi oleh Hegelian  muda seperti Feuerbach, Stirner dan Thomas Hess serta  Bruno Bauer. Kritik Marx terhadap menimbulkan repons dan reaktif pada institusi agama dan kehidupan religius dan berujung kebencian terhadap Marx. Namun sebahagian  lainnya  menyambutnya sebagai "promoteus sang pencerah" dalam tradisi  Iliade epos Junani kuno.  Atas nama kekuasaan dan kekudusan agama, Marx dinyatakan sebagai musuh Tuhan dan seteru abadi agama. Marxisme diidentikkan dengan Marxisme-Leninisme bahkan teranalogikan dengan komunisme.

 

Kerancuan episteme ini menyulut kontroversi dalam pemahaman univok dan keniscayaan ekivok gagasan-gagasan Marx, sehingga watak emansipatoris yang dikandungnya  menjadi bias namun menjadi aktual diperbincangkan dewasa ini.  Dalam Contribution to the  Critique of Hegel's Philosophy of Right, Marx menegaskan bahwa basis kritik terhadap  kehidupan religiusitas adalah : manusia  membuat  agama, bukan  agama membuat manusia. Agama, sesungguhnya, adalah  kesadaran dan takzim-diri manusia yang  belum menemukan dirinya,  atau  manusia yang kehilangan dirinya. Akan tetapi  manusia  bukanlah  mahluk abstrak yang tergerogoti dari luar dunia. Manusia adalah  dunia manusia. Negara  dan masyarakat menciptakan agama, yang  tidak lain adalah suatu kesadaran terbalik.  Agama adalah teori umum dunia ini, ensiklopedia, logika  dalam bentuk popular, point d'honneur, spiritual, entusiasme,  sanksi moral,  komplemen serius dan dasar  umum  dari konsumsi dan justifikasi dunia. Agama tidak lain adalah realisasi  impian  atau bayangan esensi manusia yang tidak memiliki realitas sesungguhnya. Perjuangan terhadap agama dengan demikian secara langsung  adalah perjuangan terhadap dunia.

 

Penderitaan  agamis  segera menjadi  manifestasi  dari penderitaan riil,  dan protes terhadap penderitaan riil.  Agama  adalah keluhan manusia yang tertekan, hati dari dunia yang tidak memiliki hati, sebagaimana adanya  adalah roh dari kondisi yang tidak memiliki roh. Marx menandaskan bahwa : 'kritik  agama, dengan demikian adalah  suatu kritik  kucuran air mata, yang lingkaran kudusnya adalah agama'. Atas dasar ini, kritik  sorgawi beralih menjadi kritik bumi, kritik agama menjadi kritik hukum dan kritik  teologi menjadi kritik politik.  (Kamenka, 1983.  Hal:  116

 

Agama adalah candu masyarakat. Untuk  mengalahkan agama sebagai khayalan dibutuhkan untuk kebahagiaan yang nyata.  Kebutuhan membuang khayalan tentang keadaan mereka adalah kebutuhan untuk menyerah kepada kondisi yang mengisyaratkan khayalan. Kritik Marx terhadap agama yang menjadi fokus  alienasi  berbalik menjadi berbalik  menjadi phobos. Marxisme ditakuti dan dihujam. Marx  sebagaimana  Darwin dan Nietzsche  serta Freud dituduh sebagai anti Tuhan. Pada hal Marx tidak pernah anti kepada Tuhan. Atau sungguh-sungguh seorang ateis, sebagaimana dimafumkan  sebagai seorang materialis.

 

Mengatakan Marx sebagai anti Tuhan adalah suatu  kenaifan  intelektual.  Dilema  marxisme terletak pada paradoks ini. Herbert Marcuse, tokoh Neo-Marxisme, dalam  One Dimensional Man,  membongkar  kecanggihan kapitalis dalam mentransformasikan  eksploitasinya  dalam masyarakat konsumer melalui penciptaan kebutuhan palsu. Dengan kebutuhan palsu maka  lahir pulalah kesadaran palsu. Dalam masyarakat berdimensi satu kaum  Proletariat kehilangan vitalitas revolusionernya. Sebagai gantinya  kelompok ini  terserap dan afirmatif di dalamnya. Mereka menjadi penyangga sistem. Kesadaran berubah menjadi kesadaran palsu. Fetisisme mengisyaratkan lahirnya kesadaran palsu. Mereka membela parasit yang seharunya disingkirkan. Dan  mereka bahkan menjadi  garda terdepan  dari cara produksi kapitalistik. Terperangkap dalam sistem,  kaum buruh menjadi mandul dan konservatif,   dan bahkan tertransformasikan dalam sistem tersebut. Kapitalisme  yang menjadi seteru klasiknya menjadi pengayom sekaliogus   ahli waris eksploitasi kapitalistisme.

 

Dalam  Marx Tentang Agama, Raines mengatakan bahwa ateisme Marx bukan sekedar kebutaan terhadap Tuhan, akan tetapi kritik Marx terhadap agama mengangkat sebuah masalah yang memang ada bagi agama. Agama rentan terhadap godaan untuk berkuasa dan  agama mudah dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Kritik agama Marx, demikian Raines, di satu pihak merangsang agama-agama untuk menunjukkan bahwa agama  tidak mesti  mendukung struktur kekuasaan duniawi yang ada, di lain pihak memaksa agama untuk melihat keterlibatannya dalam penindasan dan ketidak-adilan sosial, pelbagai permasalahan sosietal segala zaman.  Sebagai refleksi praxis, penting untuk dieksplisitaskan bahwa agama-agama sebaliknya boleh berterimakasih kepada Marx karena kritiknya yang tidak membabi-buta, melainkan tajam dan terarah - membuka perspektif baru, menyegarkan dan penuh harapan, mengusung visi emansipatoris, dan berbagai kemungkinan  kepada mereka untuk mengangkat diri ke luar dari sebuah koalisi tidak sedap dengan para penguasa segala zaman yang mengancam harkat agama itu sendiri. 

 

Reiner melanjutkan eksposisinya tentang sikap reflesif Marx terhadap agama dengan menandaskan bahwa Krtitik Marx terhadap agama dimaksudkan untuk menjelaskan bagaimana esensi manusia harus diungkapkan dan bukan untuk dimanipulasikan. Agama  harus diakui  berpotensi untuk  dijadikan dalih dan pembenaran  ideologi tertentu.  Apabila hal ini terjadi agama  menjadi sangat  eksklusif dan menakutkan bagi  orang, kelompok di luar agama tersebut. Sejarah juga  mengajarkan bahwa agama acapkali  mengabsahkan kekejian dan kejahatan. Agama  perlu mengadakan refleksi diri dan tidak perlu untuk menggugat ateisme dan takut akan maxim Marx tentang agama yang disebut sebagai candu masyarakat. Refleksi  imani melalui pembacaan dan dialog tekstur Marxisme barangkali  dapat lebih mendewasakan diri dalam menyikapi agama sekaligus merupakan himbauan imani agar agama lebih peka terhadap masalah-masalah kongkret manusia dan kehidupan.

 

Melalui maklumat Marx tersebut agama akan lebih  tidak akan mencurigai dan menafikan humanisme.  Keterasingan dan upaya meperjuangkan kesadaran kolektif yang bersandar pada kesadaran otonom individu dapat dijadikan sebagai titik  tolak untuk merancang suatu  strategi menuju  suatu  masa depan yang lebih human.


Posted at 02:21 am by moan_bb
Comment (1)  

 
Apr 9, 2008
KOMENTAR MENARIK

Bersama ini kami tampilkan komentar menarik yang kami terima dari Saudara Tomy Dwinta Ginting  untuk kuis KOMENTAR BERHADIAH.  Meskipun komentar ini agak “terlambat dikirimkan”, namun tidak ada salahnya ditampilkan untuk didiskusi oleh kita para pencinta pemikiran Marx.

 

MENGAPA BUKU-BUKU MARX PENTING & PERLU DIBACA?

Oleh: Tomy Dwinta Ginting, mahasiswa ITS Surabaya

 

Buku-buku Karl Marx penting dibaca, sebab pemikirannya lahir penuh ketajaman dan kedalaman serta keluasan sebagai suatu antitesa dari tesa filsafat liberalisme yang melahirkan kapitalisme  sebagai suatu sistem ekonomi-politik di periode abad ke-19 dulu. Liberalisme ketika itu merupakan penerapan paham yang dicetuskan oleh Adam Smith, sebagai antitesa dari paham 'kapitalisme-intervensi negara' atau yang dikenal sebagai merkantalisme.

 

Ketajaman pemikiran Marx bisa kita baca secara meyakinkan dalam Kapital (I-III), yang membedah bagaimana nilai pakai komoditi menjadi uang, kemudian uang berubah menjadi kapital, dan kapital menjadi kapitalisme. Dan setiap proses perubahan itu ternyata penuh dengan penindasan, mulai dari nilai pakai komoditi menjadi nilai tukar (setelah melewati waktu kerja), kemudian pekrja itu sendiri tak mendapatkan bayaran setimpal sesuai waktu yang dihabiskannya untuk berproduksi akibat diambil begitu saja sebagai nilai lebih oleh kaum pemilik alat produksi (kaum borjuis). Kelak, nilai lebih ini terus berakumulasi menjadi kapital, dan kapital ini pun berakumulasi pula yang nilainya diambil oleh para pemilik kapital, atau kaum kapitalis. Dan Karl Marx pun membedah dengan tajam bagaimana sistem akumulasi tadi melahirkan kelas-kelas dalam masyarakat. Hal ini membuat Marx maju beberapa langkah, karena mampu memasukkan pisau bedah tinjauan ekonomi-politik ke dalam perut stratifikasi sosial masyarakat melampaui teori-teori sosiologi yang pernah ada sebelumnya di zamannya dulu.

 

Kedalaman pemikiran Marx bisa kita baca secara meyakinkan dalam karya-karya seperti Tesa-tesa Atas Feurbach, yang mampu menyelami permasalahan tua nan berkarat di dalam dunia pemikiran yaitu pertentangan antara idealisme versus materialisme. Marx menekankan bahwa pandangan yang menganggap seakan-akan ada dualisme antara idealisme versus materialisme bisa diakhiri melalui tindakan ajaib yang disebut sebagai 'praksis'. Karena disatukan 'praksis', antara idealisme dengan materialisme tak bisa lagi disebut sebagai dualisme, tetapi sebagai 'dialektika'. Sekali lagi, pandangan ini memecahkan permasalahan tua nan berkarat yang dipusingkan oleh pemikir-pemikir filsafat sebelum Marx. Katanya, 'Tindakan pemahaman adalah suatu tindakan sosial, yang bersifat praktis'. Tak cukup dengan itu, ia mengajak (sekaligus mengejek) para pemikir itu bahwa sudah cukuplah para filsuf sibuk menafsirkan dunia, yang perlu adalah mengubahnya.

 

Keluasan pemikiran Karl Marx bisa kita baca secara meyakinkan sejak Marx Muda menuliskannya di dalam Naskah-naskah Ekonomi-Politik 1844 (Naskah-naskah Paris). Naskah-naskah tersebut, yang diterbitkan setelah ia meninggal, yang merupakan tulisan-tulisan awal yang kental akan prinsip-prinsip moral humanis. Dari tulisan-tulisan tersebut kita dapat meletakkan titik awal berangkat melalui pembacaan ketak tentang bagaimana ia membangun kapal humanisme sebelum kelak kelak meluaskan penjelajahannya melalui samudera hakikat materialisme-historis, sampai di pulau-pulau hukum-hukum perkembangan dan tranformasi sosial kelak.

 

Naskah-naskah Paris berisi tentang hubungan atau relasi antara manusia dengan kerja (kelak dikembangkannya secara menawan dan tajam dalam Kapital) hingga keterasingan atau alienasi manusia dalam masyarakatnya.

 

Buku-buku Karl Marx perlu dibaca pada abad ke-21 ini, sebab pemikirannya masih mampu untuk membedah krisis kapitalisme global yang sudah kita rasakan di tahun 2008 ini (melalui tinjauan deterministik ekonomi-politik). Pemikiran Marx juga masih mampu membedah krisis keterasingan manusia di dalam masyarakat konsumsi abad ke-21 di negara dunia ketiga seperti Indonesia, yang bisa kita tinjau melalui pisau bedah cara-cara produksi dan fetisisme komoditi.

 

Sebagai anak muda Indonesia, saya berpendapat bahwa buku-buku Marx sangat perlu dibaca apabila kita butuh untuk membedah lahirnya negara Indonesia paska PD II di abak ke-20 lalu, melalui kacamata materialisme-historis. Indonesia-sejak ia masih merupakan ratusan suku-suku yang tersebar lalu menjelma kerajaan-kerajaan hingga menjadi negara kolonial hingga negara merdeka yang modern- ternyata masih tak sepenuh bertransformasi secara sosial. Maksudnya, kita masih menjumpai feodalisme di sebuah negara yang saat ini sudah menerapkan liberalisme baru di dalam sistem perekonomian kapitalisnya. Kita juga masih menjumpai bagaimana cabang-cabang produksi penting dimasukkan sebagai proyek liberalisasi, namun yang menguasai alat-alat produksinya bukan kaum borjuis nasional, namun kaum borjuis transnasional.

 

Fenomena seperti diatas membuat kita butuh untuk membaca Marx dengan kritis. Artinya, kita tak perlu menganggap bahwa pemikiran Marx sebagai sesuatu yang final dan absolut, namun perlu dikembangkan sesuai dengan apa yang berlaku di tanah air ini. Dalam kesempatan ini pula, saya berharap agar kita-sebagai anak-anak muda calon pemimpin masa depan negeri dan dunia, untuk melanjutkan tradisi agung yang sudah dimulai oleh para pendiri negara ini. Kita bisa melanjutkan apa yang sudah dimulai oleh Soekarno, Hatta, Syahrir, dll. Mereka membaca dan mempelajari pemikiran-pemikiran Karl Marx, dan mengembangkannya untuk konteks bumi pertiwi tanah airnya ketika itu. Maka lahirlah konsepsi seperti marhaenisme ala Soekarno atau koperasi ala Hatta. Mereka  mempelajari pemikiran Marx tanpa membabi buta menganggapnya sebagai dogma.

 

Sebagai penutup, saya menyimpulkan bahwa buku-buku Marx penting dan perlu dibaca agar kita bisa menghayati mengapa Marx sampai berkata, "Saya bukan Marxis". Perkataan ini kelihatan ebagai canda, namun sesungguhnya ilmiah.

 

Mari membaca dan mempelajari pemikiran Karl Marx!    


Posted at 07:21 pm by moan_bb
Comment (1)  

 
Apr 7, 2008
PERTANYAAN MENARIK DARI SEORANG SAHABAT

Saya mendapatkan email dari Seorang sahabat di Balikpapan yang sedang mengalami kegundahan hati. Ia sedang bergumul dengan sebuah pertanyaan yang menurutku cukup menarik untuk didiskusikan. Agar juga menjadi bahan pemikiran bagi kita semua para peminat pemikiran Marx, saya mencoba mengekspos pertanyaan Saudara Arafid ini agar menjadi bahan diskusi bagi kita semua.

 

Demikian bentuk pertanyaannya.

 

Salam Pak Boas,

 

Saya Arafid, tinggal di Balikpapan sebelumnya saya tinggal dan kuliah di Makassar,

sejak awal kuliah saya ikut pengkaderan organisasi prodemokrasi di kampus.

Latarbelakang saya awalnya dibangun dari filsafat terutama konsep filsafat islam

yang pelopori seperti Ibn Sina, Mullah Sadhra, Murthadha Muttahari ataupun seperti

Ali Sariati.

 

Satu yang belum bisa saya terima dari Marx-Marxisme, lenin-leninusme yakni bangunan

filsafatnya. Saya berasumsi bahwa setiap pemikiran pasti dibangun diatas tiga

pondasi, yakni Epistemologi, Ontologi dan Aksiologi. Pada tataran Ontologi dan

Aksiologi saya fikir luar biasa tetapi ketika diperdebatkan pada tataran

Epistomologi kok susah menjelaskannya.

 

Mohon pencerahannya pak Boas.

 

Arafid Murthadha (Balikpapan)

 

Silahkan kirimkan pemikiran rekan-rekan semua untuk pertanyaan sahabat saya ini melalui kotak pesan di bagian sebelah kiri blog ini.

 

Saya sangat mengharapkan partisipasi dari rekan-rekan sekalian.(Dr. Boas Boangmanalu)

 

 


Posted at 11:25 pm by moan_bb
Make a comment  

 
Mar 31, 2008
HESYCHASME: GERAKAN SPIRITUAL RUSIA

Penting untuk diingat bahwa untuk memudahkan pemahaman terhadap pemikiran, watak religiusitas dan konsep humanitas Dostoievsky yang berdistingsi dengan alur logika, konsep dan kategori baku, kompadium hukum dan rigoritas rasional Eropa Barat yang berorientasi pada Romawi sudah barang tentu pemahaman tentang hesychasme akan sangat membantu.

 

Hesychasme sebagai aliran mistik Rusia merupakan  bagian integral dari Ortodoksi Yunani berasal dari tradisi biara Kristen Timur abad ketiga Masehi. Hesychasme berasal dari kata "hesychast." Hesychast artinya ketenangan atau kekelaman hidup batin. Hesycahsme adalah suatu cara untuk mencapai kesempurnaan batin yang dilakukan secara langsung tanpa melalui institusi gereja. Hubungan personal dengan Tuhan dilakukan melalui teknik pernafasan dan kontemplasi khusuk melalui pembacaan doa Kristus.  [Meyendorff : 96]. 

         

Mistik teologi Rusia lazim disebut dengan hesychasme, pada awalnya dielaborasikan oleh santo  Clement dari Alexandaria, meninggal pada tahun  215 Masehi, dan santo Origen  dari Alexandaria, meninggal tahun 253 Masehi. Pada abad keempat, pemikiran kedua orang suci ini dikembangkan oleh Santo Gregory dari Nyssa, dan muridnya Evagrius dari Pontius, seorang biarawan gurun pasir Mesir dan meninggal pada tahun 399 Masehi.

 

Abad pertengahan Rusia ditandai oleh orientasi pada kehidupan batin dan penajaman  intuisi,  aposteosis  terhadap irrasionalitas. Pengaruhnya sangat kuat pada pemikiran, kultur dan peta kognitif Rusia sampai dengan dewasa ini. Orientasi  kehidupan batin ini merupakan teknik pemusatan pemikiran untuk memperoleh sinar suci, terang abadi, dapat dilakukan setiap orang melalui komunikasi langsung dengan Tuhan,  disebut Hesychasme.  [Nicozisin :  61- 64].

          

Kata "hesychast" diperkirakan berasal dari Platonisme seperti Origen, Evagerius menuliskan doa dalam terminologi ilmiah, sebagai suatu aktivitas pikiran dan bukan  keseluruhan  pribadi. Ia mengabaikan peranan tubuh manusia dalam proses  "penebusan" dan "deifikasi" atau proses menuju Tuhan. Ketubuhan dipersepsikan sebagai sumber dosa dan kejahatan. Sebagai gantinya ia lebih mengutamakan prinsip harmoni antara pikiran dan tubuh. Gerakan asketik ini mirip dengan teknik pernapasan, Yoga yang berkembang di dunia Timur. [Ware: 64].

 

Pada mulanya gerakan asketik ini dicurigai dan bahkan dikutuk sebagai bi'dah oleh patriark Konstantinopel. Gerakan asketik ini dituduh sebagai ajaran sesat, ajarannya dipersepsikan sarat dengan ide-ide iblis bahkan para pengikutnya dikejar-kejar. Hesychasme dideklarasikan sebagai musuh Ortodoks Yunani. Gerakan Bogomilisme, suatu sekte keagamaan berasal dari ajaran Manuel dari biara Palestina pada abad kelima turut memberikan kontribusi terhadap perkembangan hesychasm. Hesychasme selanjutnya menyebar ke semenanjung Balkan dan Konstantinopel. Dari Konstantinopel gerakan ini menjamur sampai ke Gunung Athos.

 

Pada abad keduabelas, Sabbas berkebangsaan Serbia dari biara Sinai, mengelaborasikan hesychasme menjadi suatu ajaran dan terstruktur menjadi suatu sarana atau [komunitas] penyucian diri. Sebagai wacana penyucian diri dan penyempurnaan kehidupan batin, menekankan  pada  suatu kredo  "penderitaan" yang sangat sentral dalam Ortodoksi Junani. Penderitaan diyakini sebagai jaminan bagi  keselamatan yang nyaris terlupakan dalam Katolik Roma. Kredo ini selanjutnyaterwariskan pada "kenotik" kristiani  dan mengalami perkembanganm pesat dan hampir identik dengan ortodoks Junani itu sendiri.

           

Hesychasme yang telah diterima sebagai bagian integral dari Ortodoksi memperlihatkan  gerak dan dinamika mengesankan dalam sejarah dan kultur bangsa Rusia. Orientasi dan kredo yang dikandungnya jelas dan pasti,  yaitu  suatu  kesadaran kolektif yang menggerakkan setiap individu dalam merespon kehidupan dengan segenap paradoks yang dikandungnya secara sadar mensintesakan konflik binari antara dimensi kodrat dan dimensi adikodrati. Hesychasme secara rigoristik dan bersifat dogmatis mempertegas ajaran Kristen tentang kemutlakan untuk mengutamakan pencapaian kerajan surga, tanpa harus menafikan secara definitif kehidupan  duniawi. Hesychasme juga memperingatkan bahwa orientasi yang melulu mengutamakan kehidupan  duniawi  adalah suatu  kekeliruan ontologis  dalam tafsir agamis.  Dimensi  praksis lain dari ajaran ini adalah  watak banalitas yang dikandungnya  terbilang sangat mengesankan,  terutama bagi pengikut-pengikutnya. Hesychasme secara defintif menekankan prinsip persaudaraan sebagaimana diajarkan oleh Kristus dan dilaksanakan pada Kristen awal dan pada masa apostolik. Prinsip persaudaraan, budaya kolektif dan berbagai sentuhan kemanusiaan  seperti saling kasih dan peduli sesama, watak altruistik, non-diskriminatik, non-status dan kemirisan terhadap kepemilikan menyebabkan hesychasme semakin populer. Hesychasme menjamur hampir ke seluruh pelosok Rusia, terutama dalam komunitas pedesaan, pedalaman dan hampir ke seluruh monasteri. Hidup komunal yang telah berakar pada masyarakat tribalisme Slavia sebelum masuknya kristenitas pada penghujung abad sepuluh dibawah patronasi  pangeran Vladimir, semakin terkukuhkan  dalam pola kognitif bangsa Rusia. Orientasi praksis dan populistik ini terkanonisasi  dalam Ortodoksi Yunani. Hesychasme semakin populer terutama karena dimensi eskatologis yang dikandungnya dalam upaya untuk memperoleh kesempurnaan batin, dan keselamatan tidak membutuhkan gereja dan institusi keagamaan resmi. Hubungan dengan Tuhan dilakukan secara personal.

         

Tokoh Hesychasme yang paling tersohor pada abad keduabelas adalah Gregory Palamas (1286-1359). Ia mengajarkan bahwa [emanasi] Tuhan dapat dipahami melalui penglihatan mata manusia. [Kondrat : 85-86]. Palamas, uskup agung Tesalonika mengajarkan bahwa untuk mencapai tingkat kesempurnaan batin dapat dilakukan dengan cara berhubungan secara langsung dengan Tuhan. Hubungan langsung dengan Tuhan, tanpa melalui institusi gereja menimbulkan kecurigaan gereja. Akan tetapi dalam perguliran waktu dan semakin maraknya kehidupan asketik yang bermuara ke dalam tradisi hesychasme pada akhirnya diakui gereja. Asketisme Rusia banyak dipengaruhi oleh para tokoh asketik. Palamas misalnya mengintegrasikan hesychasme  dengan  teologi Ortodoksi. [Ware: 67].

          

Pada  pertengahan abad kesebelas, Anthony dan Theodosius  mendirikan biara-biara dan pusat budaya utama di Rusia. Sejak itu Rusia lebih bersifat monastik melampaui Yunani. Tokoh lain adalah Nilsorsky  (1433-1508) memperkenalkan gerakan mistik  ke Rusia dan pada tahun 1480, ia  mendirikan Serikat Persaudaraan 'Transvolga.' Serikat persaudaraan ini berperan penting dan sangat menentukan dalam pembentukan nasionalisme Rusia, penyelamat nilai-nilai dasar bangsa Rusia. Nilsorky menekankan penderitaan sebagai suatu sarana penyucian diri. Karena itu gereja tidak membutuhkan kekayaan dan pemilikan tanah. Konsep ini menguntungkan Tsar Ivan III. Karena gereja  mengharamkan pemilikan termasuk hak atas  tanah, maka Ivan III memperoleh banyak bidang tanah. Tradisi dan kehidupan Serikat Persaudaraan yang berorientasi pada kenotik kristiani dituangkan oleh Dostoievsky dalam karya-karyanya. [Pipes : 229].  Menurut Nilsorsky, biarawan haruslah hidup menderita, dan khusuk dengan doa serta keheningan budi. Nilsorsky menganjurkan para pengikutnya agar menghindarkan keinginan atau nafsu untuk memiliki harta kekayaan duniawi. Ia juga menolak pemilikan tanah gereja yang dianggap bertentangan dengan prinsip kerja keras dan kemiskinan yang menjadi esensi kasih itu sendiri. [Fedotov : 87-89].          

         

Biarawan  lain yang berjasa mengembangkan tradisi asketis Rusia adalah Tykhon Zadonsk (1724-1783). Tykhon mengajarkan bahwa penyucian diri adalah esensi dari prinsip kasih dan kekristenan itu sendiri dilakukan melalui prinsip kerelaan untuk menyendiri dan melalui teknik kontemplasi kehidupan duniawi. Ia merangkul kesengsaraan, serta mencintai penderitaan. Tykhon memperkenalkan model baru humanisme Kristen. Ia menciptakan suatu kredo baru  dalam kehidupan asketik Rusia. Dalam kredo  tersebut ditekankan bahwa kebebasan merupakan  hal yang sangat penting.  Kredo tersebut  berakar pada kepercayaan arkaik, paganisme Rusia  terutama  pada Ibu tanah sebagai sumber kehidupan.  [Fedotov : 185].  Tykhon merumuskan ajaran Kristus sebagai suatu keniscayaan, suatu hal yang dapat dilaksanakan. Ajaran Kristus hanya membutuhkan suatu syarat, yaitu  kerelaan untuk menderita dan kesediaan  untuk memanggul salib Kristus. Penderitaan dalam dirinya sarat dengan makna kasih. Penderitaan  merupakan sarana, mediasi menuju  suatu kehidupan transendental seperti kerelaan untuk mati sebagaimana diajarkan dan dilaksanakan oleh Kristus sendiri. Tykhon menganjurkan agar gereja melepaskan diri dari arogansi, dari kefanaan dunia, dan menjadikan moral Kristus sebagai landasan kehidupan asketisme. Tykhon menekankan pentingnya melaksanakan kredo penyucian diri melalui kerelaan untuk menderita mengikuti jejak Kristus yang mati di kayu salib. Dikatakan bahwa adalah kewajiban Kristiani untuk merunut jejak penghambaan dan pengosongan diri Kristus. Ditambahkan, tindakan merendahkan diri merupakan jaminan bagi tercapainya kebahagiaan paripurna. Ideal seperti ini diulang kembali oleh pimpinan gereja Moskow, Philaret (1782-1867) dan beberapa tokoh gereja Ortodoks  Junani lainnya. Kredo - kredo asketik ini secara langsung mempengaruhi pembentukan pemikiran Dostoievsky. Kedalaman makna yang terkandung dalam karya-karya sastranya dapat dikembalikan kepada pemikiran tokoh-tokoh asketik yang dimaksudkan.

          

Pada abad kesembilan di Rusia dikenal gerakan Serikat Persaudaraan. Tokoh spiritual, asketik pertama dan terbesar Rusia abad kesembilan belas adalah Santo Seraphim dari Sarov (1759-1833). Ajaran Seraphim merujuk pada asketisme Santo Anthony dari Mesir, abad ketiga tarikh Masehi. Setelah kematiannya, Serikat Persaudaraan Optino muncul. Para tetua yang  tergabung dalam komunitas  ini adalah Leonid (1768-1841), Macarius (1788-1860) dan  Ambarose (1812-1891). Komunitas Optino ini  mempengaruhi penulis-penulis seperti  Gogol, Khomiakov, Soloviev, Tolstoy dan Dostoievsky. Tokoh Zosima dalam The Brothers Karamazov terinspirasi oleh Macarius,  atau Ambarose dari Optino. [Ware: 120-121].

        

Monasteri Optino  adalah  pusat  Serikat Persaudaraan, tempat   para starez  mengadakan kontemplasi dan menyucikan diri serta menolak kehidupan hedonis dan keduniaan. Hidup menderita, bersahaja dan miris terhadap hidup duniawi, serta  bersifat mistik. Dostoievsky sendiri sering mengunjungi monasteri Optina dan memperoleh inspirasi  terutama dalam menggarap penderitaan sebagai sarana penyucian diri serta memperoleh pengetahuan. Monasteri ini sekaligus menjadi tempat untuk memperoleh  pencerahan dan kedamaian hidup ( Fedotov G.P: XV) dan sebagai tempat ziarah keagaman. 

        

Tradisi hesychasme selanjutnya  mengambil bentuk  "kenosis" kristiani, yaitu suatu kredo imani yang mentransformasikan prinsip kasih yang menjadi inti ajaran Kristen   ke dalam suatu tataran makna "eidos", esensial  didalamnya penderitaan menjadi sentral. Sebagai gerakan spiritual, kenosis menekankan  pada peniadaan sekaligus penghambaan diri  terejawantahkan dalam penderitaan Kristus di kayu salib. Kristus menghambakan diri, menurunkan derajad divinitasnya ke tataran manusia. Dengan  penurunan  derajad  sebagai hamba, dan kerelaan berkorban  kemuliaan Tuhan terafirmasikan.  Dalam kenosi dunia imanensi dan transendensi tersintesakan secara unik dan mengusung visi embebasan. Dimensi emasipatoris yang diusungnya menempatkan Hesychasme atau "kenosis" sekaligus sebagai sumber inspirasi bagi pengarang Rusia, termasuk Dostoievsky untuk berkarya.

 

Sumber

Fedotov  G.   A Treasury of Russian Spirituality. Shed and Ward. London 1952.

 

Konrad  A.N. Old Russian and Byzantium. The Byzantine and Oriental Origins Russian  Culture. Wilhelm Braumuller. Wien Stuttgart, 1972.

 

Meyendorff . J. Byzantium and The Rice of Russia. A Study of Bizantino –Russo  Relation in the Fourteenth Century. Cambridge University Press. Cambridge New York Sidney 1981/.

 

Nicozisin .G. The Orthodox Church A Well-Kept Secret. A Journey Through    Church History.  1952.

 

Pipes  R. Russian Under the Old Regime. London, 1976.

 

Ware T.  The Orthodox Church. Penguin Books. London, 1993


Posted at 01:23 am by moan_bb
Make a comment  

 
Feb 26, 2008
BEBERAPA KOMENTAR MENARIK YANG KAMI TERIMA

Bersama ini kami tampilkan beberapa komentar menarik yang telah kami terima terkait dengan kuis KOMENTAR BERHADIAH. Kuis ini masih terbuka bagi Anda yang berminat dan silahkan mengirimkan komentar Anda melalui email hendra_has@deptan.go.id atau via kotak pesan di sitebar pada blog ini

 

 

komentar  dari Stevan

 

Karl Marx : ateis ?

 

 Karl Marx adalah tokoh besar yang mampu melihat kepincangan dalam proses sebuah

perjalanan perkembangan ekonomi. Menarik, ketika ia memasuki medan agama. Marx

dalam pandangan saya bukanlah seorang yang anti agama. Bahkan, dia adalah

seorang agamais. Dalam konteks ini, ia menangkap roh gerak agama. Roh yang

sering disebut sebagai spirit keimanan.

   

Agama pada masanya, telah kehilangan salah satu dimensinya yaitu roh pembebasan.

Agama mempunyai suatu visi dan misi membebaskan manusia dari segala macam

keterpenjaraan. Salah satunya adalah penindasan. Penindasan yang kerap kali

dihalalkan bahkan disyahkan atas nama institusi kerohanian telah membelenggu

manusia. Manusia terbuai akan romantisme pahala surgawi yang membuta hitamkan

mata mereka akan penderitaannya.

   

Karl Marx dengan manifestonya, mengajarkan kepada kita sebuah pengajaran

kekritisan akan hidup beragama. Agama haruslah berkomitmen pada solidaritas dan

emansipasi yang menggerakan sebuah paktek pembebasan kaum tertindas dan bukan

berkutat pada atmosfir melenakan mengenai kebenaran dogmatis atas kesengsaraan.

 

 

Komentar dari  Hendra Kaprisma

mahasiswa Prodi Rusia FIB UI.

 

Menurut pandangan saya, buku-buku dari Karl Marx dan pemikir-pemikir kiri—yang

stereotipkan kiri—lainnya penting untuk dibaca. Ini merupakan bentuk apresiasi

kita terhadap perkembangan pemikiran filsafat. Dilarangnya pembelajaran dan

berkembangnya diskursus Marxisme di masyarakat oleh pemerintah Indonesia

(pemerintah Soeharto), merupakan bentuk kejahatan negara berbasis ideologi. Negara

kita dengan perpanjangan tangan dari pemerintah pada waktu itu, menjadikan

ideologi Pancasila sebagai tameng peng-halal-an pemberangusan wacana ideologi lain

yang berkembang. Suatu bentuk kultus individu berjalan dengan mulus di era

Soeharto.

 

Melihat berbagai kebebasan berwacana yang berkembang saat ini, penting untuk

disadari bahwa wacana mengenai Marxis masih penting dan hangat untuk dikaji.

Ajaran Marxis seringkali direduksi sedemikian rupa sehingga tidak lagi dipandang

sebagai gagasan kreativitas yang didasarkan pada suatu pemikiran tertentu,

melainkan hanya sebagai gerakan berfilsafat yang dogmatis dan berorientasi politis

secara sempit. Padahal, Marxisme hingga kini masih menjadi perdebatan intelektual

dikalangan pemikir-pemikir Indonesia, "Apakah benar ajaran Marxis berbahaya bagi

masyarakat Indonesia?" Pandangan semacam ini bisa dipahami dalam konteks

perjalanan sejarah pemikiran aliran ini di negeri kita tercinta.

 

Untuk menjernihkan reduksi semacam itu, penelaahan mengenai akar filsafat dan

sejarah perkembangan Marxisme menjadi sangat penting untuk dilakukan, karena pada

kenyataannya, bukan hanya Marxisme yang kerap menjadi tunggangan hegemonik

kekuasaan. Sebagaimana kecenderungan alamiahnya, hegemonik kekuasaan akan

mempergunakan ideologi—apa pun bentuk dan alirannya—untuk kelangsungan kekuasaan

itu sendiri. Ini merupakan bukti bahwa pada suatu waktu ideology akan dengan mudah

dijadikan kuda tunggangan oleh kekuasaan dan ini bukan menjadi monopoli kasus

Marxisme semata.

 

Oleh sebab itu, buku-buku Marx penting dan perlu untuk dibaca. Ini akan menambah

kemenarikan perjalanan panjang bangsa Indonesia di kancah intelektualisme. Selamat

dan sukses atas diterbitkannya buku Berselancar Bersama Marx dan Dostoievsky karya

Dr. Singkop Boas Boangmanalu. Sekian dan terima kasih.

 

 

KOMENTAR DARI Arafid

Dari Balikpapan

 

Marx-Marxisme dan Revolusi

  

Ketika pergeseran peradaban berjalan semakin cepat, timbul gejolak disetiap aspek

kehidupan manusia, terlebih lagi manusia kontemporer. Gesekan peradaban yang menjadi

lokomotif pergerakan kemanusiaan semakin mengarah pada embang kehancuran. Lambat

laun tapi pasti gerakan sejarah kemanusiaan tentunya dengan segala peradabannya

terus menggiring manusia kearah yang semakin tidak jelas.

 

Kapitalisme global, yang menjadi gerbong lokomotif perdaban manusia benar-benar

terasa sangat memilukan. memang benar Kapitalisme telah membawa manusia dari

masyarakat agraris ke masyarakat industri. Tapi Kepitalisme lupa atau mungkin tidak

tau kalau manusia yang dipekerjakan di kilang-kilang, pabrik-pabrik,

industri-industri adalah manusia yang memiliki dimensi kemanusiaan. Manusia-manusia

itu dipekerjakan seperti robot yang yang tidak kenal lelah.Sungguh keji apa yang

telah dilakukan kaum kapitalis.

 

Marx yang begitu paham dengan akan munculnya pengekangan nilai dan

kemerdakaan/kebebasan manusia sejak awal banyak menentang bahkan mencemooh kaum kapitalis. Dalam berbagai buku yang ditulis Marx bukan hanya telah membuka mata

manusia tapi juga  membentuk kesadaran yang akan membebaskan manusia dari  kekangan penindasan manusia baik fisik maupun fsikis.

 

Das Kapital yang membongkar kecurangan kaum pemilik modal terhadap pekerjanya,

benar-benar menjadi kitab yang telah melahirkan ideologi perjuangan buruh sedunia.

 

Selain itu,  Pemikiran Marx-Marxisme telah menjadi kekuatan pembebas yang terbukti

dengan lahirnya revolusi yang seluruh ide dan metodologinya terinspirasi dari ide

Marx-Marxisme.



Posted at 11:44 pm by moan_bb
Make a comment  

 
Feb 20, 2008
KOMENTAR BERHADIAH

Silahkan rekan-rekan memberikan komentar ringan  tentang

Mengapa buku-buku Marx penting dan perlu dibaca?

Komentar cukup anda cantumkan pada kotak pesan di sisi kiri blog ini atau dikirimkan via email hendra_has@deptan.go.id dengan mencantumkan nama dan alamat yang jelas.

Bagi komentar menarik akan mendapatkan hadiah buku karya Dr. Boas Boangmanalu yang berjudul "Berselancar bersama Marx dan Dostoeivsky"


Posted at 05:51 pm by moan_bb
Comment (1)  

 
Feb 15, 2008
KEBEBASAN MEONISTIK MENURUT PANDANGAN DOSTOIEVSKY

Pemahaman tentang kebebasan yang menjadi sentral pemikiran Dostoievsky  mutlak dikaitkan dengan kejahatan. Melalui analisis kejahatan, makna intrinsik kebebasan terpahamkan. Dalam  mempercakapkan kebebasan Dostoievsky  dalam hampir seluruh karya-karya sastranya  memperlihatkan suatu pergeseran baru yang  bersifat emansipatoris.  Dostoievsky menggeserkan manusia ke tataran yang kongkret, realistik dengan  segenap kecenderungan yang dikandungnya dalam suatu makna yang sama sekali baru.  Makna baru tersebut selanjutnya dipertautkan dengan struktur dasar makna primordial hakiki manusia sebagai meonik..

       

Orientasi manusia dengan status primordial kebebasan merupakan titik tolak bagi Dostoievsky  dalam upaya  menguak misteri manusia. Kebebasan didudukkan dalam status  primordialnya sebagai "meonik" dan bukan "ontik" sebagaimana dipahamkan oleh Heidegger. Sebagai meonik berarti kebebasan  adalah  kebebasan bagi dirinya. Kebebasan tidak dapat diperlakukan demi suatu ideologi tertentu, suatu kepentingan tertentu.  Dengan demikian kebebasan terhindar dari distorsi dan senantiasa pula berada pada  hukum-hukum esoterik, otonom dan tegar  sebagai suatu totalitas identitas (tozdennost').

           

Sebagai  meonik kebebasan lepas dari segenap interpretasi dan deskripsi dan kategori-kategori baku, dan hanya terpahamkan melalui penghampiran intuitif dan penghayatan batin.  Penghampiran  melalui wacana nalariah akan meredusir makna intrinsik kebebasan. Melalui meonik selanjutnya dalam pengertian epistemologi disebut  sebagai meontologi. Dostoievsky menggeserkan pemahaman tentang manusia dari spektrum transendental ke spektrum imanensi .Melalui pergeseran ini  manusia menjadi  sesuatu yang kongkret dan bukan abstrak sebagaimana pada  Hegel. Namun sebagai yang  kongkret bukan berarti manusia tertempatkan sebagai melulu materialistik sebagaimana dipersepsikan oleh Marx. Sebaliknya dalam perspektif imanensi Dostoievsky menghadirkan manusia dengan segenap unsur konstitutif dan horison makna yang dikandungnya dalam suati totalitas dan buklan solipsitik, atomistik.

 

Melalui meontologi  manusia  menjadi kongkret dan bukan lagi sebagai sesuatu yang abstrak. Pemahaman Dostoievsky terhadap kebebasan mirip dengan  pemahaman fenomelogi sebagaimana dianjurkan oleh Husserl dan Merleau-Ponty. Bedanya, Dostoievsky mendudukkan kebebasan dengan "mahkota" roh dalam  persentuhan dan  keterlibatan langsung dengan dimensi irrasionalitas. Kebebasan irrasionalitas ini  secara signifikan dipaparkan dalam karya agung  filosofis-intuitif dalam  The Double (Dvonik) dan secara teoritik-deskriptif  terartikulasikan dalam Notes from the Underground (Zapiski iz Pod Polya).

       

Pemahaman tentang kebebasan dalam konteks ini mirip dengan naturalisme yang diyakini Kristen dan dapat menjadi dasar originalitas dan independensi kultur bangsa Rusia. Mereka mengadakan penetrasi melalui kehidupan artifisial eksterior untuk memperoleh  suatu restorasi dalam jiwa dalam bentuk baru;  suatu  kepercayaan yang diperbaharui secara dasariah (grunt), tanah (pochva), rakyat - suatu restorasi  dalam pikiran  dan hati  dari sesuatu yang  ada (neposredstviem). Grigorievm menegaskan bahwa  bahwa  segalanya harus diletakkan dalam tataran "organic" - terkait dengan konteks historisitas, sosial, dan kekuatan spiritual  termasuk  bentuk psikologi  seni   

       

Melalui metode penetrasi, Dostoievsky memperkenalkan "meontologi"  sebagai suatu bentuk  pemahaman baru tentang fenomenologi. Prinsip "cogito ergo sum"  Descartes oleh Dostoievsky digeserkan ke tataran "dinamika, yaitu suatu  substansi yang merujuk pada prinsip kekosongan, Ungrund Boehme.

       

Meontologi yang mengisyaratkan meonik sebagai dinamika yang merujuk pada Ungrund yang dimaksudkan, Dostoievsky mengatasi prinsip "kasualitas" pada psikologisme Brentano. Dostoievsky juga melampaui  priunsip kesadaran murni, ego transendental Husserl dalam formasi polaritas "subyek-obyek". Dostoievsky juga  menempatkan manusia sebagai suatu "kesadaran total dan difinitif". Dalam bingkai interaksi dan penghayatan bersama dengan  manusia lain melalui sarana budaya,  wacana bahasa dan komunikasi sebagaimana terpahamkan  dalam "etre du monde" Merleau-Ponty,  Dostoievsky  sebagai  kopernikan baru dalam filsafat antropologi memberikan nafas baru kepada fenomenologi. (Boangmanalu : 2001).

        

Prinsip keharusan eksistensial yang menempatkan interaksi inter-personal sebagai yang sentral ditorehkan oleh Dostoievsky dalam Kejahatan dan Hukumannya melalui mulut Porfiry sebagai berikut: "Engkau tidak dapat melarikan diri dari kami". Ungkapan ini dicetuskan oleh Raskolnikov kepada Sonya. Dikatakan : "Saya  berlutut bukan padamu, melainkan  sujud ke hadapan humanitas". Ungkapan ini mengafirmasikan prinsip 'etre du monde" Merleau-Ponty. Prinsip komunikasi interpersonalitas ini pulalah menjadi  tema sentral dalam Kejahatan dan Hukumannya.

       

Dalam tataran dan kualitas meonik secara subtil dan artistik dibentangkan  dalam frasa-frasa semantik dalam karya agung Kejahatan dan Hukuman (Prestuiplenie i Nakazani).  Dalam karya ini  kebebasan secara intrinsik  tereksplisitkan dalam maknanya yang terdalam. Makna  tersebut  memperoleh  keagungannya melalui pertautan kohesif dengan  segenap unsur konstitutif manusia. Kebebasan  dengan demikian  terkait erat dengan   permasalahan klasik  theodisea  yang tidak pernah tertuntaskan   dalam perspektif rasionalitas. Kebebasan dengan demikian tertempatkan dalam suatu mosaik yang menghimpun berbagai unsur dengan segenap horison makna yang dikandunmgnya dalam suatu unitas tunggal yang mengandaikan otonomi dan  dependensi masing-masing unsur.  Dalam konteks inilah  makna yang terkandung dalam kebebasan tersebut tereksplisitkan  secara  total dan definitif mirip dengan bola kristal yang senantiasa memancarkan cahaya  makna baru.

       

Kebebasan juga memperoleh penegasannya yang khas dan unik dalam perspektif anarko-psikologi yang juga  menjadi wilayah kajian Nietzsche dan Stirner. Dengan anarko-psikologi Dostoievsky mengangkat ke permukaan predikat manusia sebagai suatu kesadaran total dan kongkret di tengah-tengah dunia realitas, atau sebagai pusat jagat raya. Melalui pembongkaran radikal tersebut, Dostoievsky menggeserkan manusia ke dalam spektrum dunia nyata. Dengan langgam bahasa yang  berani dan menantang dalam mempercakapakan manusia, celovek dan nasib manusia, sudba celovek yang menjadi kepedulian dan komitmennya,  Dostoievsky melemparkan pemikiran filosofis dan gagasan-gagasan intuitf tentang manusia dan kebebasan dalam tataran makna eidos serta  refleksif.

       

Atas dasar pemikiran inilah suatu diskursus tentang kejahatan  serta kaitannya dengan kebebasan meonik  menjadi suatu permasalahan  filosofis yang  menantang  untuk dikaji. Dalam orientasi tersebut Dostoievsky membongkar dunia irrasionalitas, dimensi kehidupan  batin dan tertransformasikan ke spektrum  dunia imanensi, ke dalam  manusia kongkret. Melalui orientasi tersebut kebebasan memperoleh makna dan signifikasi baru dan bermakna emansipatoris..

       

Dalam neneropong manusia  dalam ceruk misteri dan kedahsyatan sebagai suatu personalitas  yang sepanjang hidupnya merekonstruksikan diri, Dostoievsky   bertolak dari pemahaman intuitif yang telah disebutkan sebelumnya. Melalui titik tolak ini dimensi kehidupan batin yang terdalam ditampilkan sebagai suatu kekuatan sublim yang menggetarkan. Sentuhan sentuhan artistik dengan muatan magis dan nuansa mistik mengakibatkan karya ini menjadi suatu kekuatan yang mempesona dan acap kali menakutkan. Sesuatu yang indah adalah sangat dahsyat dan menakutkan, demikian Schiller yang  dikutip oleh Dostoievsky secara telak  terpaparkan dalam Kejahatan dan  Hukuman.

       

Dalam konteks kesadaran subyek sebagai dinamika, Kejahatan dan Hukumannya terpahamkan. Solipsisme teratasi dan totalitas menjadi primer adalah langkah awal bagi pemahaman tentang  kejahatan dalam kaitannya dengan  dimensi transendental, Tuhan yang tidak terjamah oleh Kant, tetapi  oleh  Dostoievsky  tereksplisitkan.


Posted at 12:38 am by moan_bb
Make a comment  

 
Feb 13, 2008
ONTOLOGI KEJAHATAN MENURUT KONSEPSI DOSTOIEVSKY

Kejahatan dan Hukuman sebagai karya  filosofis sarat dengan dimensi intuitif  merupakan karya yang paling kontroversal yang pernah tercatat dalam kasanah sastra. Sebagai seorang  revolusioner dalam dunia jiwa, - suatu ungkapan  sentimental  yang dilontarkan oleh  Berdyaev  -  Dostoievsky  membongkar  secara radikal  kehidupan dunia batin, dunia  irrasionalitas. (Berdyaev : 37).

      

Dalam diskursus kejahatan - dengan gaya sinikal dan acap kali metaporistik -  Dostoievsky secara  radikal menerobos stagnasi pemikiran, memfalsifikasikan rigoritas nalar dan mengedepankan dunia intuitif yang merupakan penjelajahan Nietsczhe dan Stirner. Dengan cara demikian, Dostoievsky  membuka suatu lembaran baru, perspektif pemikiran  dan intuitif  bernas makna, segar dan menentang meniscayakan dunia serba mungkin dengan  muatan emansipatoris.

       

Pengaruh pertama membaca Kejahatan dan Hukuman adalah dalam bentuk teror. Tahun 1885, Lacfadio Hearn menganjurkan kepada kalayak pembaca New Orleans  bahwa  setelah membaca Kejahatan dan Hukumannya pembaca  akan menjadi sakit parah”  dan satu tahun kemudian, Eugene Melchior, Comte de Vogue, mengatakan  kepada pembaca  karya tersebut di kota Paris bahwa  “The author’s power of frightening is far superior to resistence of the average nervous systems”. Pengaruh kedua adalah disorientasi intelektual. Mengapa  Raskolnikov membunuh nenek tua”. Apakah tindakan manusia bebas atau tunduk pada hukum determimistik alam. Mengapa si penyelidik  Porfiry menjadi   demikian pongah. Apakah  kebebasan manusia sesuai dengan  eksistensi Tuhan?. Mengapa Svidrigailov  terus  memburu  Raskolnikov?. Apakah kebebasan sesuai dengan  moralitas”. Apakah  Svidrigailov membunuh budaknya? Mengapa  Raskolnikov tidak menyesal? Pertanyaan-pertanyaan ontologis tersebut dapat diancang melalui dua pendekatan, yaitu psikologi dan metafisika. (Nuttal: 1978).

       

Kejahatan dan Hukuman merupakan karya propaideutik  bagi pemahaman baru tentang kejahatan. Dostoievsky menampilkan ke permukaan badai dan kegetiran kehidupan batin sebagaimana dilakukan oleh Stirner dan Nietzsche. Itulah sebabnya Nietzsche mengatakan: “ bahwa Dostoievsky, sebagai satu-satunya psikolog,  secara kebetulan daripadanya saya belajar”. Freud juga mengklaim Dostosievsky sebagai  seorang genius hampir menyamai Shakespiere. Karya-karyanya menyingkapkan  pola-pola  bawah sadar  dari motivasi manusia.

       

Salah satu kunci utama  dalam memahami Kejahatan dan Hukumannya  terletak pada bagaimana Dostoievsky menempatkan tokoh-tokoh protagonis ke dalam [situasi]  keterlibatan total dan definitif pada segenap peristiwa dalam passi humiliasi. Obsesi Dostoievsky adalah membongkar secara radikal akar psike manusia  dengan menggeserkan kesadaran tokoh-tokoh ke titik definitif nomenon.

       

Jika Freud bertolak dari  impuls neorosis agar  mampu memperoleh  secara persis  tujuan psikologi, maka Dostoievsky dalam anarko-psikologi lebih  terarah kepada  upaya menembus kedalaman pengalaman batin selanjutnya ditampilkan sebagai sesuatu yang kongkret. Atas dasar argumen inilah Dostoievsky  menyebut dirinya sebagai seorang “realist-fantastis”, dan sekaligus menepis sebutan psikologist. (Berdyaev: 1972).

       

Sebagai seorang realist-fantastis, Dostoievsky menciptakan tokoh seperti Alyosha Karamazov sebagai sosok yang “immun  egoistik” berada di luar rigoritas egosime kaku. (Carrol, 1974). Dalam realisme fantastik, suatu unsur terkait secara kohesif  dengan unsur lain. Dalam realisme fantastik prinsip totalitas dan sinergi menjadi sesuatu yang primer. Dostoievsky mengatasi  psiko-analisis Freud dan melangkah ke tataran  anarko-psikologi sebagaimana pada Nietzsche dan Stirner. (Ibid).

       

Dostoievsky  juga memperlihatkan  kekuatan destruktif  egoisme ditampilkan melalui tokoh protagonist Raskolnikov. Dostoievsky menganalisis kejatuhan manusia  yang  berkehendak menjadi “manusia luar biasa” dan terobsesi untuk memiliki kehendak berkuasa, mirip Tuhan. Raskolnikov memperoleh  penyelamatan melalui antitetik  melalui  kepedulian kristenitas terhadap orang miskin harta, tercecer dan yang tertindas dan terhinakan, melalui pengakuan, dan melalui suatu periode panjang pertobatan dalam pengertian “self-effacing”.

       

Dalam Kejahatan dan Hukuman, Dostoievsky memaparkan suatu diskursus tentang kebebasan dan suatu meditasi tentang manusia dalam tataran epistemologi. Dalam memperbicangkan kebebasan tersebut dimensi Tuhan sebagai syarat mutlak,  harus pula dikedepankan. Ditandaskan bahwa kebebasan hanya terpahamkan  sejauh dikaitkan dengan kejahatan yang melahirkan penderitaan. Dengan demikian mustahil pulalah mempercakapkan kebebasan tanpa membicarakan Tuhan.

       

Dalam membicarakan Tuhan, Dostoievsky memiliki persamaan pandangan dengan Stirner. Menurut Stirner, esensi tertinggi manusia terdapat dalam tiga kualitas, yaitu kehendak, cinta dan pikiran. Semuanya terpadukan dalam pengalaman religius sebagaimana dipahamkan oleh Feurbach. Tuhan melambangkan divinitas. Tuhan ditentukan oleh predikat, keadilan, cinta atau kualitas. Dalam konteks ini subyek dan predikat tertransformasikan ke dalam suatu sinerji. Feuerbach mentransformasikan manusia ke dalam  subyek dari segenap  ekuasi dan  mengapropriasikan  konsep “Tuhan”  untuk menjelaskan kebebasan infinitas melalui media penyatuan antara subyek dan predikat; tatkala manusia adalah dalam cinta, cinta menjadi manusia. Subyek  telah menjadi   “personified existing predicate, the predicate conceived as existing”. Subyek dan predikat hanya  dibedakan sebagai eksistensi dan  esensi. Feuerbach menempatkan manusia  sebagai pusat jagat raya dan ia membuat  pengalaman  devinitas   -   terutama  didudukkan  dalam hubungan interpersonal - sebagai pusat humanitas baru. Melalui teologi Feuerbach menjadi antropologi, melalui materialisme dan psikologi Stirner dan Nietzsche memfalsifikasikan metafisika.

       

Stirner mengembangkan pandangan teologi Feuerbach ke dalam teori umum tentang alienasi. Ia  mengutip maklumat metaporistik Nietsczhe yang mengatakan bahwa:”Tuhan telah mati dan kitalah pembunuhnya”. Tuhan tidak  hanya  dalam arti religiusitas,  melainkan  sebagai suatu metapora terhadap suatu nilai yang ada di luar kekuasaan individu yang telah menjadi usang. Stirner menegaskan  ideal  humanist liberal, esensi  humanisme universal. “Manusia” sebagai  substitusi dominan  yang terus bertambah  dalam  illusi Kristen. Feuerbach, filsuf  humanisme baru,  tidak berkembang di luar pemikiran religius: bagi Stirner, ia bukan merupakan nabi terakhir  dalam  tradisi  Kristen yang rapuh.

       

Kritik Stirner terhadap Kristenitas merunjuk pada Feuerbach. Inti  agama  adalah proyeksi diri manusia sebagai suatu kedirian pecah, rindu akan “ideal kehidupan”, akan tetapi dipaksa untuk  hidup dalam kesulitan dan kekurangan. Manusia ada dan berada dalam suatu sindrom penolakan dunia realitas. Manusia dipaksa untuk kerasan tinggal di dalamnya. Dalam kondisi tersebut kesadaran tentang waktu muncul. Dalam kesadaran akan waktu manusia tercekam oleh kematian. Namun dalam bayang-bayang  dahsyat tentang  kematian ini pulalah manusia penuh dengan  harapan  dan ilusi. Dalam kesadaran akan waktu inilah  manusia mengilusikan suatu  keabadian.

       

Menurut Stirner kematian menjadi  keniscayaan akan kebangkitan kembali”. Dengan pandangan ini Stirner melampaui Feuerbach. Ditandaskan bahwa bukan hanya agama sebagai proyeksi alienasi  diri manusia, akan tetapi  juga termasuk di dalamnya segenap ideal, setiap kausa, setiap “fixed idea”. Stirner  meneruskan kritiknya  terhadap Feuerbach  dengan mendefinisikan religius manusia sebagai orang yang menempatkan  esensi  di atas  dirinya sendiri. Stirner membicarakan berbagai  aksioma yang menjadi landasan eksistensialisme seperti  “eksistensi mendahului esensi” selanjutnya dijadikan oleh Sartre sebagaia landasan eksistensialisme.  Stirner  juga secara tajam mengilustrasikan  bagaimana ego individu merupakan refleksi diri, dimana sesuatu dalam dirinya tersubordinasikan ke dalam kualitas atau  esensi.

       

Pertarungan antara  “lisensi individualistik”  dan “kebenaran  Kristen”  memperoleh penegasan yang lebih intens dalam  karya-karya agung Dostoievsky pada dasawarsa 1860an,  dan dasawarsa 1870an. Dostoievsky sampai pada satu kesimpulan  bahwa  baik kapitalisme Eropa Barat dan ide-ide sosialis merupakan konsekwensi logis dari  berpalingnya manusia dari Tuhan. Peradaban Eropa meninggalkan jalan Kristus,  Manusia-Tuhan, dan sebagai gantinya  menempuh jalan  idolasi manusia, Manusia-Tuhan.

       

Pemikiran ini terinspirasi oleh Feuerbach dalam masa mudanya sebagai anggota Petrachevsky yang mengatakan bahwa “Tuhan tidak lain adalah manusia itu sendiri” . Feuerbach menambahkan bahwa: “All the attribute of the divine nature are,  therefore “attributes of the human nature… Man is the real God”. (Walicky: 315). Manusia  sebagai Tuhan memutlakkan pembunuhan sebagai isyarat bagi aktualisasi kebebasan menuju keagungan manusia. Dengan sentuhan religiusitas Dostoievsky meletakkan pembunuhan dan kejahatan sebagai bagian integral dari kebebasan dan terpahamkan  melalui anarko-psikologi. Konsep antropoteistik Feuerbach dikritik oleh Max Stirner, yang mengatakan bahwa filsuf sesungguhnya tidak berhenti sebagai seorang teolog.”  Pembebasan mutlak bertolak dari  prinsip bahwa “Tuhan  ada dalam diri kita”. (Laut: 1996). 

       

Agama “Manusia”  dengan demikian hanya  suatu  varian baru pembudakan individu oleh penyerahan diri kepada tirani “universal”. Jalan menuju kebebasan individu terkendala oleh  Tuhan-Manusia. Untuk  mengaktualisasikan keagungan  manusia tidak cukup dengan  membunuh Tuhan  akan tetapi harus diikuti  oleh kemutlakan untuk membunuh “Manusia” itu sendiri. Stirner menegaskan bahwa untuk membebaskan dan merealisasikan diri, individu mutlak melakukan kejahatan, atau mengafirmasikan diri sendiri sebagai nilai tertinggi melalui pembunuhan. Individu mutlak melepaskan diri dari  segenap bentuk  “teror  sakral”,  kepapaan sebagai pendosa melawan moral yang ditasbihkan  dalam nama humanitas abstrak. Tuhan adalah saya, demikian Stirner adalah elaborasi pemikiran antropoteistik Feurbach. (Ibid).

        

Dalam  The autonomous Ego, Stirner  menekankan bahwa  manusia “tidak dapat  mengabaikan pelaksanaan kejahatan, karena manusia tidak dapat mengelak dari kejahatan. Kejahatan adalah esensi dari eksistensi. Kejahatan  merepresentasikan makna dan dignitas manusia. Stirner menempatkan manusia sebagai suatu proses transendental menuju kebebasan total dan definitif. Untuk mencapainya manusia harus melalukan kejahatan dan  harus pula membunuh manusia. 

        

Pandangan  ini selanjutnya  merupakan motivasi bagi Raskolnikiv untuk membunuh  nenek-tua. Raskolnikov menekankan makna tersebut  dengan mengatakan bahwa:

“all great  men or even a little out of  the common, that  is capable of  giving some new word, must from their very nature be criminal”. [Walicky : 1984: 316).

 Pembunuhan kedua membingungkan karena di luar rencana, semula ia terpaksa membunuh Lizaveta. Kali ini pembunuhan dilakukan dengan menghujamkan bagian belakang kapak. Dan bukan  sisi tajam kapak yang membelah batok kepala  nenek tua.  Tindakan refleksif dan simbolik ini memperlihatkan ketidak-berdayaan  Raskolnikov dalam mengatur dan merencanakan segala sesuatu dengan apik demi tujuannya. Dalam konteks inilah anarko-psikologi terafirmasikan melalui pembunuhan tanpa rencana. Dalam melakukan kejahatan Raskolnikov menempatkan dirinya sejajar dengan Napoleon, Kristus, Newton. Lucerian. Tokoh-tokoh ini memiliki  hak untuk melanggar hukum dan melakukan pembunuhan.

       

Sesuai dengan predikatnnya sebagai manusia-luar-bisa, Raskolnikov terpanggil untuk menghancurkan prinsip-prinsip dasar humanitas dan mutlak pula mengujarkan  kata atau sabda baru untuk mermbangun suatu peradaban baru. Pandangan ini memiliki persamaan dengan pandangan Stirner yang mengatakan bahwa ” kejahatan merupakan esensi manusia”. Tanpa kejahatan manusia tidak akan pernah sampai kepada keotentikan dan keutuhannya  yang total dan defimitif sebagai manusia. Stirner menegaskan hal ini sebagai berikut:

 

“ My  authority  to commit  murder derives from  within  myself.I have the right to kill  if I do not forbid it myself, if I am not bound  by their  view that  murder  is “injustice”or something

“impure”.

 

Raskolnikov melanggar hukum dan mengadakann pembaharuan  dan bergerak ke berbagai arah. Hidupnya berorientasi kepada prinsip bahwa ucapan dan bahasa baru akan menghasilkan kebaikan bagi umat manusia. Sebaliknya, Svidrigailov adalah seorang eksistensialist. Akan tetapi kata eksistensialist mengandung makna  penerimaan intelektual  dari suatu teori. Svidrigailov dalam kenyataannya berada di luar kerangka teori. Raskolnikov  dalam kesendirian dan dalam  kondisi akut putus asa serta mengenaskan, mengakui bahwa ia tidak memperoleh kebebasan transenden. Raskolnikov  terperangkap  dalam  kesadaran  rasionalnya  sendiri  yang tidak berujung pangkal.

       

Raskolnikov  membunuh  korbannya dengan maksud agar harmoni dunia tercipta. Dengan melakukan pembunuhan ia menyelamatkan  ibunya, Pulcheria Ivanovna dan  saudara perempuannya, Dounia  dari kemiskinan. Pembunuhan nenek tua adalah suatu percobaan tentang pembunuhan murni, dan berupaya untuk memperoleh makna eksistensial  bagi dirinya, yaitu apakah  “ia seekor kutu busuk seperti manusia lainnya”. Dalam percakapan dengan Dounia, Raskolnikov mengatakan sikapnya dan tidak pernah merasa bersalah atas pembunuhan yang dilakukannya. Pergi untuk menderita ke Siberia  tidak ada hubungan dengan kejahatan Raskolnikov. Kesalahan bagi  Raskolniikov adalah kegagalan dalam  melaksanakan misi pembunuhan.

      

Dalam “Epilog” Kejahatan dan Hukumannya, Dostoievsky mempertanyakan  kembali  kesahihan teorinya tentang kejahatan. Ia tetap tidak merasa bersalah. Kesalahannya hanya terletak pada ketidak-mampuannya untuk melewati batas, melanggar hukum dan keteledorannya akan hal-hal yang sepele. Sebagai akibatnya Raskolnikov menderita. Namun melalui penderitaan itu pulalah ia menjadi sadar bahwa dirinya tidak lain adalah seorang pecundang dan bahkan pengecut. 

       

Dalam proyeksi diri sebagai kesadaran subyek dalam mengaktualisasikan kebebasan, Raskolnikov sebagai manusia-luar-biasa dengan passi kehendak untuk berkuasa, hanya meyesalkan dan mengutuk takdir kegagalan. Raskolnikov ternyata tidak memiliki  kemampuan  untuk menembus tembok batu yang disebut dengan “nasib”. Hukum alam  demikian tangguh dan berkuasa membuat teori Raskolnikov hancur berantakan.  Kekuatan rasionalitasnya kandas. Lebih fatal lagi bahwa untuk langkah pertama saja Raskolnikov telah mengalami kegagalan, Ia terperangkap dalam ketidak-berdayaan. Ia menegaskan bahwa seandainya ia berhasil  maka ia akan teranugerahi predikat manusia agung model Napoleon, Kristus dan tokoh lainnya.

 

Raskolnikov menambahkan bahwa pembunuhan yang dilakukan oleh pembunuhan kasuistri. Dengan kasusistri berarti argumen psikologistik menjadi kehilangan landasannya. Pembunuhan terhadap nenek tua adalah pengejawantahan dari konsep kejahatan Stirner. Raskolnikov menandaskan bahwa pembunuhan yang dilakukan terhadap nenek-tua adalah pembunuhan kasusitri. Sejujurnya Raskolnikov mengatakan bahwa ia membunuh demi untuk dirinya sendiri dan bukan untuk  menolong ibu dan saudaranya. Pembunuhan tidak dimaksudkan untuk meraup kekayaan, juga bukan pula bermaksud unuk  menolong orang lain dan bukan pula untuk memperoleh uang. Tujuan pembunuhan adalah  untuk memperoleh sesuatu yang lain. Dengan melakukan pembunuhan Raskolnikov hendak membuktikan apakah ia sama seperti manusia lainnya. Apakah  ia seorang pengecut atau orang yang memiliki hak untuk mengujarkan kata-kata baru bagi kemanusiaan seperti  sukses yang dilakukan oleh para martir kemanusiaan dan pencipta peradaban universal.

 


Posted at 12:18 am by moan_bb
Make a comment  

 
Jan 3, 2008
DOSTOIEVSKY DAN TRIPARTITE MANUSIA DALAM THE BROTHER KARAMAZOV

Tripartite Manusia mengacu pada “Troika” karya Gogol, The Death Soul. Troika adalah gerobak yang dihela oleh tiga ekor kuda berlari cepat seperti angin melintasi Rusia ke suatu tujuan yang tidak pernah diketahui secara pasti. Troika dielaborasikan oleh Dostoiesvsky ke dalam pengertian daging, pikiran dan roh. Tripartite manusia juga terkait dengan pemikiran paganisme dan nilai- nilai mitik dan arkaik dengan dimensi kosmologi, serta religiusitas bangsa Rusia, dengan kehidupan batin.

 

Feodor Karamzov ayah ketiga bersaudara digambarkan sebagai seorang bertabiat buruk penuh dengan sifat kehidupan serangga. Sifat-sifat serangga tersebut tertanam dalam diri ketiga anaknya. Putra sulung,  Dimitri merupakan manusia sensualis, Ia dikuasai oleh nafsu birahi dan memuja hal-hal yang bersifat duniawi. Putra kedua Ivan merupakan manusia iblis, Ia seorang skeptik dan dikuasai oleh rasionalitas. Putri bungsu Alyosha merupakan manusia malaikat, dalam dirinya sarat dengan kehidupan religius. (Snow:133). Antara mereka terdapat perbedaan yang tidak terdamaikan namun dalam perbedaan ini pula mereka tersatukan dalam unitas kolosal. Ketiganya saling mengisi, semuanya terintegrasikan dalam satu sinergi dan bergerak secara dinamis menuju tujuan bersama, yaitu hidup.

 

Dalam diri Dimitri berkuasa kekuatan sensualitas yaitu suatu dinamika dan eros. Dimitri mewakili gambaran manusia sensualitas.(Mokhulski: 610). Walaupun seorang sensualis, ia adalah seorang yang jujur. Sifat-sifat ayahnya paling kentara mengalir dalam dirinya. sarat dengan kekuasaan mitis, tanah dalam ibu pertiwi, ‘Matushka Rus’ sebagai sumber kehidupan, kebahagiaan dan keadilan. Dalam diri Dimitri juga berkuasa satu kekuatan dahsyat dan menakutkan serta tidak terkendalikan. Kekuatan itu adalah keindahan, Dimitri mengetahui kekuatan itu bersarang dalam dirinya namun ia tak kuasa untuk melepaskan diri dari kekuatan tersebut. Kekuatan dahsyat, menakutkan dan asing  dan tak dikenal itu adalah suatu kekuatan yang tidak terkontrol, suatu angin badai, api suci yang agung. Keindahan sangat menakutkan karena keindahan tidak terbatas. Kekuatan dahsyat  yang diusungnya tersublimasikan dalam keindahan (krasata). Keindahan dilingkupi oleh suatu infinitas diri yang tidak terjangkau oleh manusia, ruang dan gerak serta dinamikanya tidak terdeteksi. Keindahan adalah teka-teki, di dalamnya batas-batas bertemu.[Dostoyosky (BK) :111]. Keindahan adalah misteri agung serta tidak terpecahkan. Dimitri mengatakan bahwa hal yang paling menakutkan adalah manusia dengan ideal Sodom, dalam jiwanya tidak membuang ideal Madona, dan hatinya terbakar oleh ideal tersebut. Keindahan juga terdapat dalam ideal Sodom, dalam ideal Sodom itu pulalah terletak rahasia kehidupan. Manusia adalah ajang pertempuran antara kebaikan dan kejahatan. Tuhan dan Setan bertempur, medan pertempuran tidak lain berlangsung dalam hati manusia. Pertempuran yang tidak kunjung terdamaikan, terus berlangsung dalam diri manusia. Dimitri mengatakan, keindahan berasal dari Tuhan, akan tetapi demikian sampai di bumi, keindahan tercemari dan berubah menjadi sesuatu yang dahsyat dan menakutkan. Keindahan berasal dari Tuhan, keindahan adalah perluasan Rohul Kudus akan tetapi  dalam dunia yang penuh dosa, keindahan secara tak terelakkan terdistorsi, keindahan tidak lagi menyelamatkan akan tetapi sebaliknya merupakan atraksi demonis. [Dostoievsky (BK:111]

 

Dimitri menderita akibat keindahan, Ia tidak melihat jalan keluar dari kontradiksi-kontradiksi tragis. Dimitri memperoleh penyucian diri melalui penderitaan, melalui kesadaran akan penyiksaan dan kematian jiwa dalam hukuman ke Siberia. Hukuman adalah manifestasi dari pai eros, menjadi suatu kekuatan spiritual yang dapat mentrasgenikan dunia. Dimitri membenci ilmu pengetahuan dan ateisme. Menurutnya, keduanya menjerumuskan manusia ke dalam penistaan dan kegetiran hidup. Dimitri juga prihatin terhadap keterpurukan manusia dalam menanggung beban kebebasan absolut yang tak tertahankan. Ia menuduh Tuhan berlaku tidak adil. Protes terhadap kegalauan dunia juga disampaikan kepada Alyosha merujuk kepada pendapat sahabatnya, Rakitin. Rakitin adalah seorang ateist menjadi korban ilmu pengetahuan. Dimitri berkata kepada Alyosha bahwa semestinya manusia mampu mengatur dunia tanpa kehadiran Tuhan. Dimitri terhenyak atas pandangan Rakitin. Dikatakan bahwa: Jika Tuhan tidak ada, maka manusia adalah yang paling utama di bumi, dalam jagat raya. Namun bagaimana manusia menjadi agung tanpa Tuhan. Itulah permasalahan yang paling utama. Untuk mencintai sesama manusia, Tuhan tidak diperlukan, demikian Rakitin. [Dostoievsky (BK) :612]. Bagi Dimitri hidup demikian berharga, namun hidup tanpa Tuhan adalah suatu yang sia-sia. Sikap religiusitas Dimitri terekspresikan dalam frasa : “Unless you sin, you will not repent. Unless you repent, you shall not be saved.” Dimitri adalah pendosa yang percaya pada Tuhan. (Yermilov : 264-265}. Menurut Dimitri, hidup demikian agung karena hidup itu adalah agung. Karena manusia adalah agung, maka hidup mutlak dijunjung tinggi. Hidup demikian berharga, hidup demi hidup itu sendiri. Manusia harus hidup kendatipun telah jatuh ke lembah dosa. Dalam kedosaan itu pulalah manusia harus ditinggikan dan diagungkan. Tidak ada alasan bagi manusia untuk menyia-nyiakan hidup dengan alasan dosa warisan.

 

Ivan adalah gambaran manusia yang mendewakan rasionalitas, Melalui Ivan, Dostoievsky mengangkat permasalahan kebebasan teodisea ke tataran antropodisea. Pemberontakan terhadap kasualitas dan penyelenggaraan kekuasaan Tuhan dipertanyakan secara kritis. Tuhan didakwa karena Tuhan tidak perduli terhadap penderitaan manusia. Ivan mengatakan bahwa Tuhan tidak ada. Karena Tuhan tidak ada maka segalanya diperbolehkan. Akan tetapi permasalahannya Tuhan dan immortalitas ada. Karena Tuhan dan mortalitas ada maka segalanya tidak diperbolehkan. Ivan menolak segenap pemikiran di luar logika. Ivan bukanlah seorang ateist, ia percaya terhadap Tuhan. Ivan adalah simbol kekuatan duniawi keluarga Karamazov. Darahnya juga terkontaminasi oleh semacam serangga yang ganas, racun sensualitas. (Moklhulsky : 614)

 

Alyosha adalah manusia malaikat, Alyosha digambarkan mewarisi kekuatan religius. Dalam dirinya cinta dan keagungan manusia universal terekspresikan. Alyosha mewakili manusia dunia spiritualitas. Alyosha adalah simbol kebangkitan kembali. Tanah adalah simbol kebangkitan kembali. Tanah sebagai sumber moral. Ivan yang diperbudak oleh rasio mengakibatkan ia tersiksa dan kehilangan kepekaan terhadap nilai-nilai dan keagungan manusia. Kehidupan monastri mengantar Dimitri kepada pertobatan. Ia nyaris kehilangan pegangan kendatipun ia mencintai kehidupan. [Dostoievsky (BK) : 739]. Dalam tipe Tripartite-manusia, segenap kontradiksi watak manusia tersatukan. Tripartite-manusia mengejawantahkan realitas manusia. Kebebasan absolut yang menjadi predikat manusia baraktivitas di dalamnya. Tripartite manusia dalam perspektif eksistensialis memperlihatkan keagungan manusia dan bukan manusia agung.

Posted at 09:19 pm by moan_bb
 

Previous Page Next Page