Web ini diasuh oleh ,DR.Sinkop Boas Boangmanalu, Pengajar di Departemen Filsafat Universitas Indonesia yang selama hampir 30 tahun berkutat dengan pemikiran Marx dan Dostoevsky
Tulisan sumir dan seminal tentang moralMarxian iniharus diakui berani dan bersifat subversif, tentu saja tak terbantahkan berorientasi provakatif, tidak pelak lagi sekaligus sebagairespon terhadap semangat “posmodernisme”dan“dekonstruksi” dan “hiper-realitas”dewasa ini. Gagasan gagasan sentral Marxtentang humanitas, dalam persentuhannyadengan moral Marxian nyaristerlupakan namun secara tak terelakkan patut pula untuk diserukantentang pentingnya dipertimbangakan dalamterutama pulapadatuntutan mendesakuntuk diketengahkandalam diskursusmoral.
_________
Walaupun Marx bukan seorang filsuf moral bukan berarti ia mengabaikanmoral. Marx tidak pernah berusaha mengkonstruksikan teori moral secara sistematik dan runut. Namun penting diingat bahwa komitmen moral, - selanjutnya disebut moral Marxian - tercermin pada perjuangan hakiki tentang kebebasan-berorientasi humanitas dan berpuncak pada kebebasan. Kebebasan dengan demikian merupakan dasar ontologismoral Marxian yang telah digarap sejakawalNaskah Naskah Paris dan dielaborasikan secaraproporsionaldalam karya transisional, karya politik dan ekonomi serta dalamseluruh karyanyapada masa tua. Setidak-tidaknyadalam tahap awal perkembangan pemikirannyaterdapat pandangan tentang moral.
Tema sentralmoral Marx adalahbagaimana merealisasikankebebasanmanusia. (Maszaros, 1970:162). Kebebasan, dengan demikian adalah medan pergumulan dan kontemplasi filosofis Marx yang telah diungkapkannyasejak awal dalam Naskah-Naskah Paris tatkala bergumul dengan masalah alienasi kerja dan aktivitas serta kesadaran manusia. Pada saat itulah aspek moral serta kaitannya dengan produktivitas manusia direnungkan. Garapan moral tersebuttersebar dalam hampir seluruh karya-karyaMarx tua. Dalam Manuscript, Marx mengatakan bahwa, komunismeadalahpenghapusan positifhak milik pribadi,alienasi diri manusia, dandemikianapropriasi riilalam manusia melalui dan bagi manusia. Adigium Marx yang tersohortentang bagaimana relasi manusiadengan alam, denganagamamerupakan titik tolak materialisme. Dikatakan bahwa:
It is,therefore, the returnof manhimself as a social, i.e. reallyhuman being, a complete andconscious return which assimilates all the wealthof previousdevelopment. Communism as awfully developednaturalism is humanism and asfully developedhumanism is naturalism is humanism and as a fullydevelopedhumanism is naturalism.It is the definitive resolution of antagonism betweenobjectification and self-affirmation, betweenindividual and species. It is the solution of theriddleof history and knows itself to be this solution (Peffer, 1990 :54-55).
Dalam marxismemoraladalah sesuatu yang bersifat konstan dalam perubahan. Istilah konstan dalam perubahan mengandung arti bahwa moralterdudukkan dalamranah supra struktur yang merupakan derivasi ajek dari kondisi obyektif materil masyarakat. Ini berarti bahwa tema moral dalam kaitannya dengan kebebasan, kendatipuntidak sacara eksplisitdan terperinci,tersebarhampir dalam seluruh karya-karanya. Akan tetapi analisis dan deskripsi filosofis tentang moral tentu saja tidak tertemukan secara rinci, sistematik dan lugas dalam suatu karya tersendiri, sebagaimana jugaterjadi pada agama.Moralitas marxisme dengan demikian lebih merupakanpemikiran eklektik. MoralitasMarxian tersebardalam tulisan-tulisan Jurnalistik pada periodeliberalisme radikal(1841-1843)dalam periodehumanisme revolusioner (1843) dalamOriginalMarxisme (1844-l845, dalam karya-karya transisi (1847- 1858),dan akhirnya padakarya-karya tua (1858-1883).Moralitas dalamartian dan pemahaman marxisme bukanlahsuatu koleksipreskripsiabstrak dan bukan larangan, akan tetapisuatu fungsi positif dari masyarakat dariindividu-individu yang nyata.(Ibid, 1990: 187). Dalam marxisme, moralitasbukan dipaksakanke dalam masyarakat dari luar, bukan pulamerupakan produkalamsupra historis manusia. Kondisi sosialmerupakan sumber moral adalah titik berangkat Marx dalam merealisasikan kebebasan yang menjadicita-cita moral. Moralitas sedemikian selanjutnya disebut dengan moralitas Marxian sebagaiantipodadari moralitas yang menempatkan Tuhan, daya sublim transendental sebagai sumber. (Kelle, 1973:246).Moralitasadalah suatubentuk darikesadaran sosialyang merefleksikan relasi antaramanusia dalam kategori dan pemahamantentangetika sebagai sumber penilaian tentang baik dan buruk, sumber pilihan bebas manusia.
Manusia dalam kehidupankesehariannya-sesuai dengan kondisi obyektif masyarakat membentuknilaiabstrak, ataumoralitas sebagai pengejawantahandari kondisi objektif kehidupan keseharian – dalam masyarakat kapitalistik, telah memiliki ideal moral, prinsip prinsip, aturandanregulasidan peta kognitif serta polatindakan dan perangkat nilai tertentu. Sebagai akibatnya kesadaran moral masyarakat muncul sebagai penilaiansosial dari satu tindakan individu, yaitu,suatu penilaiandari signifikasi sosial mereka. Dengan demikiankesadarantidak lain adalahsuatu ekspresidarisifat alamiahsosial manusia.(Ibid, 1973 :244). Karenastruktur masyarakat dan kepentingannyaditentukanolehsistem ekonomi sebagai basis, makamoral ditentukan sesuai dengan perkembangan cara cara produksi masyarakat. Masyarakat berubah sesuai dengan perubahan ekonomi yang menyertainya. Moralitasberubah sesuai dengan perubahanbasis ekonomi, cara produksi masyarakat yang melandasinya. Perkembangan masyarakat yang disertai oleh perubahandalamstruktur ekonominya secara tak terelakkanmengakibatkann perubahan dalam moralitas. Moralitasadalahfakta historisitas dan kongkret. Moralitas bukanabstrak,imutabel,abadidanekstra historis. Dalammasyarakat berkelas,moralitasmemilikiwatakkelas. Karena kesadaran kelasadalahproduksosial, makamoralitaskelas penguasasebagai yang dominan dengan sendirinya merupakan nilai dominant dalam masyarakat. (Ibid, 1973: 246). Moralitas menurut Marx:
It was, along withthe most ideological superstructure, simply the expressionof man’s material interests.Thephantom formed in the humanbrain are also, necessarily, sublimates of their material life-process, which is empirically verivitiable and bound to material premises.Morality, religion, metaphysics, all the rest of ideology, and their corresponding forms of consciousness, thus no longer retain in semblance of independence.(Walker, 1989: 107).
Marx menyebutnya kelas dengannilai intrinsik dan makna eidos menurut Husserl,dan ontologik menurut Heidegger.Yang dikandungnya bukan sebagai kekuasaan melainkan sebagai dominasi Konsep dominasi. Konsep demikian selanjutnya dielaborasikan oleh Gramci padaabad XX. Kelas bukanlah keterberianajek dan bersifat niscaya, akan tetapisebagai suatu kontigensi, suatu keharusan sejarah. Dengan kontigensi berarti moralitas dalam marxisme pastilah bersifat konstan terutama dalam perubahan makna dan orientasi.Moral sebagai yang bermukim dalamranah super-struktur dalam marxisme pasti pula bersifat nisbi. Dikatakan nisbi karena moralitas terdeterminasikan oleh kekuatan obyektifkeadaan materialkehidupan sosial. Sebagaisuatu kontigensimaka moralitas terhubung dengan dominasi dan bukan lagi dengan kekuasaan sebagaimanalazim ditafsirkanselama ini. Dominasi yang dimaksudkan disini adalah dominasi dalam orientasi dan pengertian Faulcaudian tentang kekuasaan.Dominasi jugadimaksudkan dalampemahaman Gramcy.
Gramcy hendak mentransplantasikan pemikiran humanisme Machievellidalam tataran masyarakat abad XX. Menurut Faulcout, kekuasaan tersebar dan ada dimana-mana. Kekuasaan tidak lagi tersentralisir dalam institusi negara dan pranata resmi masyarakat, melainkan ada dalam setiap unsur konstitutif manusia dan kehidupan.Namun apapun bentuk kekuasaan yang terdapat dimana saja, terutama dalamlingkup masyarakat kapitalis tetap mempertahankan watak eksploitasinya. Dominasi merujuk padatuntutanmendesakdalam ranah sosial dan moralitastentang pentingnya penjelasan struktur kelas dengan dinamika, kualifikasi ontologis serta kategori-kategori sosial yang dikandungnya. (Giddens: 45). Namun penting untuk dipahami, jika Darwinmemukan teori evolusi, maka Marx menemukan teori pertentangan kelas.Konflik laten dan antagonismeantar kelas merefleksikan gejolak moralitas yang terselesaikan lewatdialektika. Dengan dialektika, maka moral dalam marxisme juga tertandai oleh perubahan dan tidak pernah bersifat ajek dan imutabilitas tinggi. Antagonisme antar kelas tak terbantahkan mendasari moralitas marxisme.
Moralitasmarxisme terkait secara kohesif dengan praxis dan senantiasa pula terproyeksikansebagai terapheutik menujutercapainya masyarakat tanpa kelas. Makna dan pengertian kelas pada Marx terpastikan bersifat heuristik dan celakanya cenderungmikris dan terlupakan. Padahal pelupaan terhadapkelasakan meruntuhkan bangunan marxisme, terutama karena di atasnya moralitas dibangun. Analisa kelas inilah jugamerupakan permasalahan paling rumit, kabur sebagaimana diakui oleh Marx sendiri. Penting untuk digarisbawahi, bahwa menempatkanteori kelas dalam pengertian baku dan dogmatis mengakibatkan gagasan-gagsan sentral Marxtentang humanisme terfalsifikasikan. Dengan heuristik berarti kelas-kelas masyarakat dengan segenapkekuatan internal menjadikan Marx tetapberfungsi emansiporis dalam masyarakat teknokratis. Kelas dalam pengertian Neo-Marxisme menerangianalisis kelas yang keliru terhadap humanisme Marx yang tertuang dalam Naskah-Naskah Paris. Marxisme sebagai metode, sebagaimana ditawarkan oleh George Luckack, kelas dan maknaheuristik serta kaitannya denganhistorisitasDilthey, danstrukturis Gidden diletakkan dalam suatu interpretasi hermeneutic emansipatorisharusdidudukkanpadastatusontologis kelassecara, lebih dinamis, terutamadalam pengertian metode konstrukvitas merupakan kekuatan dinamis kelas. Kelas yang ada dalamsetiap zaman dan realitasmasyarakat apabila ditiliksecara filosofismerupakankontribusi bagi perkembanganmasyarakat.
Apa yang terjadi dewasa ini adalahmakna eidos dankarakteristik ajeg kelas hampir tetap memperlihat legitimasi dan relevansinya sesuai dengan perkembangan kapitalisme itu sendiri.Dewasa ini analisis kelas menjadi relevan justruketika terjadinyalompatantransformatifke masyarakat kapitalisme. Para manajer dan pemegang saham dan berbagai status personalpada pasca Marx, ditempatkan sebagai kelas heuristik dalam pengertian klasik, akan tetapi yanglebihluasmerupakanlandasan bagi eksistensi kelas, dan dominasi yangtetap mengejawantahankepentingan kepentingan kapitalis tetap langgeng. Dengan perkataan lain, kelas penguasa tetap, par excellence,mempertahankankarakteristik primordialnya dan klaimatas hak prerogatifnya sebagaikelas eksploitatifdengan cara yang canggih serta rasionalitas. Transformasi moralitas sesuai denganperubahanmakna heuristik kelas,berikut dengan kandungan makna dinamis dan nisbi tersebut tidak ayal lagi merupakan suatu kekuatan tersembunyiterpastikan menarik untuk digali. Potensiini tetap relevanuntuk diperbincangkan. Jika selama ini masalah moralitas dituduh termarginalkan oleh Marx,makasebaliknyamoralitas Marxiansepertinya menjadi aktual untuk diangkat sebagai suatu diskursusdan perdebatanakademis. Klas dalam pengertian ini dapat dijadikan sebagai debat epistemologis dalamproblematika ontologis kelas.
Agama dalam pengertian Feuerbachian serta merta mentransformasikan watak busuk kapitalisme dalam suatu etika baru. Dengan transformasi tersebut moralitas tetap memperlihatkanvaliditasmoral sebagai yangberubah-ubah sesuai denganeksistensi kelas-kelas dominan yang berkuasa dalam masyarakat.Kalau dikatakan marxisme dituduh kehilanganpengaruh dan validitasnya seiring dengan perkembanganmasyarakat, makayang harus ditengerai adalah intervensi politisdan ideologis, dan bukanmakna intrinsik ontologisnya. Moralitas, dengan demikian dideterminasikanolehkondisi eksistensi sosial. Tetapi karena manusia adalahmahluk berkesadaranmaka ia bebasbertindaksesuai dengan kehendak dalam suatu situasi tertentu. Sebagai seorangindividual, manusiamemainkan peranpenting otonominya dalam memilih, danmengadakan pilihan bebas dalam tindakannya, manusiamelaksanakan kebebasan, terutamakebebasankehendak, dankebebasan memilih. (Kelle, 1973 : 244).Kebebasan menjadi dasar untuk memeriksastatus qou moralitassecara keseluruhan atau sebagai sebagaifenomenontertentu, kendatipunkebebasan tersebut adadalam realitas, sebagai yang termaterikan dalamperangkat moraldefinitdalamsetiap sejarah perkembangan masyarakat. (Ibid, 1973:247). Etika Marxisme menganggapimutabilitasperan moralsebagaikenyataan dependensi merekadalam upaya sadar mengubahkondisi masyarakat dan historisitas dan strukturasi mereka. Itulah sebabnya, tak terbantahkanMarxisme cenderung lebih mengandalkan pendekatansejarah kongkretterhadap moral, terhadap penilaian moraldan tingkah lakumanusiadari kelas yang berbeda beda dari masa ke masa. (Ibid, 1973: 247). Relativisasi moralmarxian tak terbantahkanadalah suatu keniscayaan makna ontologis kelas mengakibatkan perubahan terhadapnya sebagai sesuatu yang imutabilitas hanya berlangsungdalam bentuk peri-peri, dalam keadaan ektsrnal atau bentuik luar dan bukan maknaeidos yang dikandungnya..
Dalamkonteks inidimensi kelas yang menjadi sentral dalam Marxismeterhindar daridistorsi makna.Analisis perkembangan masyarakat dalam pengertian kelas secara ontologis memperolehiklimbaru yang bersifat membebaskan. Marx mestinya tidak diadili dalam sejarah implementasinya dalam panggung politik dan kekuasaan, dalam kegagalan aplikasi teoritisnya dalam sejarah, melainkan didudukkan dalamvisipencerahannya yang bersifat mumpuni dapat mengatasi dilema disorientasi moral yang selama ini didaulat sebagai tanggung jawab kapitalisme. Denganheuristik moralsebagai acuan bagiimplementasi dan aktualisasi nilai ultim humanitas yangterdeterminasikan olehkapitalismedan globalisasi dewasa ini moralitas yang sesungguhnya merupakan ekspresi kepentingan politik kekuasaan dan ideologi kelas penguasa, watak rakus kapitalis terdekonstruksikan.Moralitas dengan sifat cair dan mengalir, analog dengan dengan sifat postmodernisme dan orientasi pluralistik dewasa ini.
Marx adalah prekusor bagi upaya untuk menghancurkan logosentirme moral divina,dan pencetusawal jargon meta-narasi yang merayakan orientasi demokratik, multi kulturalisme dengan satu syarat Marx tidak lagi dipandang sebagaai dogma akan tetapi sebagai metoda seperti yang diusulkanoleh Kamenka dan George Luckack.Atas dasar orientasi tersebut, moral marxian menjadiaktual dipersandingandengan displin ilmu lain. Penguakan perpektif baru tersebut, humanisme Marx mustahil termarjinalkan.Tuhan dan daya sublin transendental sebagai sumber moral dan menjadi sikapdan pemikiran abad pertengahan terdekonstruksikan. Manusia menjadi otonom. Belengguteretas, namun logosentrismeekonomi yang dituduhkankepada Marx dapat terjebak pada menafikandogmatisme Marx sebagaimana klaim ideologis.Perbutan pengaruh dan kekuasan yang berorientasi marxisme-Leninisme, ideologi partaiyang semuladianggap kembali kepada praxis Marx, sesungguhnya telah menditorsi marxisme itu sendiri.Ingat, misalnya tuduhanNeo-Marxisme terhadapkekuasaanStalinistikdan kultusdespotisme Maoistis, serta dominasi kekuasaan partai komunis secara mengesankan telah menyulapwajah marxisme menjadi sesuatu yang tidak ramah, menakutkan.
Pemikiran Marx terstigma olehperistiwa politik dan historisitas. Kondisi faktual ini melahirkan Euro-komunisme, suatu gerakankomunis non revolusioner, kelompok inimenjadikubu yangdibenci dan mutlak disingkirkan. Uni Soviet dan negara-negara satelit Eropa Timur adalah musuh utama Eurokomunisme. Budaya demokrasi Eropa Baratmenolak perjuangan revolusioner melalui kekerasan.Sebaliknya Eurokomunismecenderungmeletakkan opsi pada perebutan kekuasaanmelalui potensi yang ada dalam suatu masyarakat.Sejarahmembuktikan tiada satu formula tunggal yang dapat dijadikan sebagai obat bagipenyakitglobal kemanusiaan.Kegagalanmarxismeterhadap komitmen kemanusiaan terletak padakesalahan persepsi terhadap hukumyang menggerakkanmasyarakatyang seharusnyadiletakkanpadakeharusan untukmelaksanakangerakan“piecemeal” dan evolusistis.Gerakan peacemal Popperian, yang dimaksudkan adalah aktivitassadar manusia dalam mengadakanlompatanatau perubahanmasyarakatsecara bertahap melalui pendayagunaan potensi tanpa menghancurkan misi negara. Merekamelaksanakan cara-cara demokrasi yang lebih elegan, perjuangan parlemetaristik serta perubahan gradualisme.Untuk tujuan itu, bekerjasama dengan agama yangmenjadi musuh komunis.Moralitas yang mengandaikan kebebasan sebagai mahkota manusia dicapai melalui praxis yang dikotbahkan Marx adalah suatu bentuk moralitas yangpatut dihormati. Gagasan-gagasan humanitas Marx tentang alienasi, filsafat kerja dan terutama dimensi moralitas yang tersebar dalam hampir seluruh karyanya.Pemikiran awal, karya masa transisi danMarx tua dari perspektif ilmiah patut pula dijunjung tinggi. Moralitas agama yang luhur selama ini sering disalahgunakan melalui moralitasmarxisme dapat menjadi cermin. Kekuatan destruktiftersebut selamanya menjadi marxisme. Marxismemerupakanbantaran pemikiran yang kokohsejauhia diperlakukan dalam kapasitasnya sebagai yang terbaptiskan sebagai ilmu pengetahuan dan sebagai pusat orientasi pembebasan atau emansipatoris. Inilahmoralitas sesungguhnya dari marxisme.
Moralitas marxisme sebagai konstan nisbianalogdenganperjuanganepistemolog meta-narasi dan perang terhadap segala bentuk “logosentrisme” dan “orientasipositivistik” yangmenjamin kelanjutan serta resistensi atau ` daya lentur serta kebertahananfungsional kapitalisme modern, dengan muatan emansipatoris yang dikandungnya. Pemahaman terhadap moral Marxianyang saratdengan nilai-nilai humanitas yang termarjinalkan, sarat dengan bias politik dan ideologisasi, sakralisasidan dogmatikalitasi dankecenderungan rekayasasecara tak terbantahkan menggerogoti moral Marxian. Namunseiring dengan kemajuan dan tuntutan zaman
Di Eropa,sejakabad rasionalisme dan mencapai masa akut padareformasi gereja, konsep Ke-Tuhanan, persepsi dunia transendensidalambentuk deisme Inggris, Jerman dan Prancis agamamenjadi memperolehsignifikasi baru.
Gagasan Marx tentang agamatersebardi dalam tulisan-tulisan terutama banyak dipengaruhi oleh Hegelianmuda seperti Feuerbach, Stirner dan Thomas Hess sertaBruno Bauer. Kritik Marx terhadap menimbulkan repons dan reaktif pada institusi agama dan kehidupan religius dan berujung kebencian terhadap Marx. Namun sebahagianlainnyamenyambutnya sebagai "promoteus sang pencerah" dalam tradisiIliade epos Junani kuno.Atas nama kekuasaan dan kekudusan agama, Marx dinyatakan sebagai musuh Tuhan dan seteru abadi agama. Marxisme diidentikkan dengan Marxisme-Leninisme bahkan teranalogikan dengan komunisme.
Kerancuan episteme ini menyulut kontroversi dalam pemahaman univok dan keniscayaan ekivok gagasan-gagasan Marx, sehingga watak emansipatoris yang dikandungnyamenjadi bias namun menjadi aktual diperbincangkan dewasa ini.Dalam Contribution to theCritique of Hegel's Philosophy of Right, Marx menegaskan bahwa basis kritik terhadapkehidupan religiusitas adalah : manusiamembuatagama, bukanagama membuat manusia. Agama, sesungguhnya, adalahkesadaran dan takzim-diri manusia yangbelum menemukan dirinya,ataumanusia yang kehilangan dirinya. Akan tetapimanusiabukanlahmahluk abstrak yang tergerogoti dari luar dunia. Manusia adalahdunia manusia. Negaradan masyarakat menciptakan agama, yangtidak lain adalah suatu kesadaran terbalik.Agama adalah teori umum dunia ini, ensiklopedia, logikadalam bentuk popular, point d'honneur, spiritual, entusiasme,sanksi moral,komplemen serius dan dasarumumdari konsumsi dan justifikasi dunia. Agama tidak lain adalah realisasiimpianatau bayangan esensi manusia yang tidak memiliki realitas sesungguhnya. Perjuangan terhadap agama dengan demikian secara langsungadalah perjuangan terhadap dunia.
Penderitaanagamissegera menjadimanifestasidari penderitaan riil,dan protes terhadap penderitaan riil.Agamaadalah keluhan manusia yang tertekan, hati dari dunia yang tidak memiliki hati, sebagaimana adanyaadalah roh dari kondisi yang tidak memiliki roh. Marx menandaskan bahwa : 'kritikagama, dengan demikian adalahsuatu kritikkucuran air mata, yang lingkaran kudusnya adalah agama'. Atas dasar ini, kritiksorgawi beralih menjadi kritik bumi, kritik agama menjadi kritik hukum dan kritikteologi menjadi kritik politik.(Kamenka, 1983.Hal:116
Agama adalah candu masyarakat. Untukmengalahkan agama sebagai khayalan dibutuhkan untuk kebahagiaan yang nyata.Kebutuhan membuang khayalan tentang keadaan mereka adalah kebutuhan untuk menyerah kepada kondisi yang mengisyaratkan khayalan. Kritik Marx terhadap agama yang menjadi fokusalienasiberbalik menjadi berbalikmenjadi phobos. Marxisme ditakuti dan dihujam. MarxsebagaimanaDarwin dan Nietzscheserta Freud dituduh sebagai anti Tuhan. Pada hal Marx tidak pernah anti kepada Tuhan. Atau sungguh-sungguh seorang ateis, sebagaimana dimafumkansebagai seorang materialis.
Mengatakan Marx sebagai anti Tuhan adalah suatukenaifanintelektual.Dilemamarxisme terletak pada paradoks ini. Herbert Marcuse, tokoh Neo-Marxisme, dalamOne Dimensional Man,membongkarkecanggihan kapitalis dalam mentransformasikaneksploitasinyadalam masyarakat konsumer melalui penciptaan kebutuhan palsu. Dengan kebutuhan palsu makalahir pulalah kesadaran palsu. Dalam masyarakat berdimensi satu kaumProletariat kehilangan vitalitas revolusionernya. Sebagai gantinyakelompok initerserap dan afirmatif di dalamnya. Mereka menjadi penyangga sistem. Kesadaran berubah menjadi kesadaran palsu. Fetisisme mengisyaratkan lahirnya kesadaran palsu. Mereka membela parasit yang seharunya disingkirkan. Danmereka bahkan menjadigarda terdepandari cara produksi kapitalistik. Terperangkap dalam sistem,kaum buruh menjadi mandul dan konservatif,dan bahkan tertransformasikan dalam sistem tersebut. Kapitalismeyang menjadi seteru klasiknya menjadi pengayom sekaliogusahli waris eksploitasi kapitalistisme.
DalamMarx Tentang Agama, Raines mengatakan bahwa ateisme Marx bukan sekedar kebutaan terhadap Tuhan, akan tetapi kritik Marx terhadap agama mengangkat sebuah masalah yang memang ada bagi agama. Agama rentan terhadap godaan untuk berkuasa danagama mudah dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Kritik agama Marx, demikian Raines, di satu pihak merangsang agama-agama untuk menunjukkan bahwa agamatidak mestimendukung struktur kekuasaan duniawi yang ada, di lain pihak memaksa agama untuk melihat keterlibatannya dalam penindasan dan ketidak-adilan sosial, pelbagai permasalahan sosietal segala zaman.Sebagai refleksi praxis, penting untuk dieksplisitaskan bahwa agama-agama sebaliknya boleh berterimakasih kepada Marx karena kritiknya yang tidak membabi-buta, melainkan tajam dan terarah - membuka perspektif baru, menyegarkan dan penuh harapan, mengusung visi emansipatoris, dan berbagai kemungkinankepada mereka untuk mengangkat diri ke luar dari sebuah koalisi tidak sedap dengan para penguasa segala zaman yang mengancam harkat agama itu sendiri.
Reiner melanjutkan eksposisinya tentang sikap reflesif Marx terhadap agama dengan menandaskan bahwa Krtitik Marx terhadap agama dimaksudkan untuk menjelaskan bagaimana esensi manusia harus diungkapkan dan bukan untuk dimanipulasikan. Agamaharus diakuiberpotensi untukdijadikan dalih dan pembenaranideologi tertentu.Apabila hal ini terjadi agamamenjadi sangateksklusif dan menakutkan bagiorang, kelompok di luar agama tersebut. Sejarah jugamengajarkan bahwa agama acapkalimengabsahkan kekejian dan kejahatan. Agamaperlu mengadakan refleksi diri dan tidak perlu untuk menggugat ateisme dan takut akan maxim Marx tentang agama yang disebut sebagai candu masyarakat. Refleksiimani melalui pembacaan dan dialog tekstur Marxisme barangkalidapat lebih mendewasakan diri dalam menyikapi agama sekaligus merupakan himbauan imani agar agama lebih peka terhadap masalah-masalah kongkret manusia dan kehidupan.
Melalui maklumat Marx tersebut agama akan lebihtidak akan mencurigai dan menafikan humanisme.Keterasingan dan upaya meperjuangkan kesadaran kolektif yang bersandar pada kesadaran otonom individu dapat dijadikan sebagai titiktolak untuk merancang suatustrategi menujusuatumasa depan yang lebih human.
Bersama ini kami tampilkan komentar menarik yang kami terima dari Saudara Tomy Dwinta Gintinguntuk kuis KOMENTAR BERHADIAH. Meskipun komentar ini agak “terlambat dikirimkan”, namun tidak ada salahnya ditampilkan untuk didiskusi oleh kita para pencinta pemikiran Marx.
MENGAPA BUKU-BUKU MARX PENTING & PERLU DIBACA?
Oleh: Tomy Dwinta Ginting, mahasiswa ITS Surabaya
Buku-buku Karl Marx penting dibaca, sebab pemikirannya lahir penuh ketajaman dan kedalaman serta keluasan sebagai suatu antitesa dari tesa filsafat liberalisme yang melahirkan kapitalisme sebagai suatu sistem ekonomi-politik di periode abad ke-19 dulu. Liberalisme ketika itu merupakan penerapan paham yang dicetuskan oleh Adam Smith, sebagai antitesa dari paham 'kapitalisme-intervensi negara' atau yang dikenal sebagai merkantalisme.
Ketajaman pemikiran Marx bisa kita baca secara meyakinkan dalam Kapital (I-III), yang membedah bagaimana nilai pakai komoditi menjadi uang, kemudian uang berubah menjadi kapital, dan kapital menjadi kapitalisme. Dan setiap proses perubahan itu ternyata penuh dengan penindasan, mulai dari nilai pakai komoditi menjadi nilai tukar (setelah melewati waktu kerja), kemudian pekrja itu sendiri tak mendapatkan bayaran setimpal sesuai waktu yang dihabiskannya untuk berproduksi akibat diambil begitu saja sebagai nilai lebih oleh kaum pemilik alat produksi (kaum borjuis). Kelak, nilai lebih ini terus berakumulasi menjadi kapital, dan kapital ini pun berakumulasi pula yang nilainya diambil oleh para pemilik kapital, atau kaum kapitalis. Dan Karl Marx pun membedah dengan tajam bagaimana sistem akumulasi tadi melahirkan kelas-kelas dalam masyarakat. Hal ini membuat Marx maju beberapa langkah, karena mampu memasukkan pisau bedah tinjauan ekonomi-politik ke dalam perut stratifikasi sosial masyarakat melampaui teori-teori sosiologi yang pernah ada sebelumnya di zamannya dulu.
Kedalaman pemikiran Marx bisa kita baca secara meyakinkan dalam karya-karya seperti Tesa-tesa Atas Feurbach, yang mampu menyelami permasalahan tua nan berkarat di dalam dunia pemikiran yaitu pertentangan antara idealisme versus materialisme. Marx menekankan bahwa pandangan yang menganggap seakan-akan ada dualisme antara idealisme versus materialisme bisa diakhiri melalui tindakan ajaib yang disebut sebagai 'praksis'. Karena disatukan 'praksis', antara idealisme dengan materialisme tak bisa lagi disebut sebagai dualisme, tetapi sebagai 'dialektika'. Sekali lagi, pandangan ini memecahkan permasalahan tua nan berkarat yang dipusingkan oleh pemikir-pemikir filsafat sebelum Marx. Katanya, 'Tindakan pemahaman adalah suatu tindakan sosial, yang bersifat praktis'. Tak cukup dengan itu, ia mengajak (sekaligus mengejek) para pemikir itu bahwa sudah cukuplah para filsuf sibuk menafsirkan dunia, yang perlu adalah mengubahnya.
Keluasan pemikiran Karl Marx bisa kita baca secara meyakinkan sejak Marx Muda menuliskannya di dalam Naskah-naskah Ekonomi-Politik 1844 (Naskah-naskah Paris). Naskah-naskah tersebut, yang diterbitkan setelah ia meninggal, yang merupakan tulisan-tulisan awal yang kental akan prinsip-prinsip moral humanis. Dari tulisan-tulisan tersebut kita dapat meletakkan titik awal berangkat melalui pembacaan ketak tentang bagaimana ia membangun kapal humanisme sebelum kelak kelak meluaskan penjelajahannya melalui samudera hakikat materialisme-historis, sampai di pulau-pulau hukum-hukum perkembangan dan tranformasi sosial kelak.
Naskah-naskah Paris berisi tentang hubungan atau relasi antara manusia dengan kerja (kelak dikembangkannya secara menawan dan tajam dalam Kapital) hingga keterasingan atau alienasi manusia dalam masyarakatnya.
Buku-buku Karl Marx perlu dibaca pada abad ke-21 ini, sebab pemikirannya masih mampu untuk membedah krisis kapitalisme global yang sudah kita rasakan di tahun 2008 ini (melalui tinjauan deterministik ekonomi-politik). Pemikiran Marx juga masih mampu membedah krisis keterasingan manusia di dalam masyarakat konsumsi abad ke-21 di negara dunia ketiga seperti Indonesia, yang bisa kita tinjau melalui pisau bedah cara-cara produksi dan fetisisme komoditi.
Sebagai anak muda Indonesia, saya berpendapat bahwa buku-buku Marx sangat perlu dibaca apabila kita butuh untuk membedah lahirnya negara Indonesia paska PD II di abak ke-20 lalu, melalui kacamata materialisme-historis. Indonesia-sejak ia masih merupakan ratusan suku-suku yang tersebar lalu menjelma kerajaan-kerajaan hingga menjadi negara kolonial hingga negara merdeka yang modern- ternyata masih tak sepenuh bertransformasi secara sosial. Maksudnya, kita masih menjumpai feodalisme di sebuah negara yang saat ini sudah menerapkan liberalisme baru di dalam sistem perekonomian kapitalisnya. Kita juga masih menjumpai bagaimana cabang-cabang produksi penting dimasukkan sebagai proyek liberalisasi, namun yang menguasai alat-alat produksinya bukan kaum borjuis nasional, namun kaum borjuis transnasional.
Fenomena seperti diatas membuat kita butuh untuk membaca Marx dengan kritis. Artinya, kita tak perlu menganggap bahwa pemikiran Marx sebagai sesuatu yang final dan absolut, namun perlu dikembangkan sesuai dengan apa yang berlaku di tanah air ini. Dalam kesempatan ini pula, saya berharap agar kita-sebagai anak-anak muda calon pemimpin masa depan negeri dan dunia, untuk melanjutkan tradisi agung yang sudah dimulai oleh para pendiri negara ini. Kita bisa melanjutkan apa yang sudah dimulai oleh Soekarno, Hatta, Syahrir, dll. Mereka membaca dan mempelajari pemikiran-pemikiran Karl Marx, dan mengembangkannya untuk konteks bumi pertiwi tanah airnya ketika itu. Maka lahirlah konsepsi seperti marhaenisme ala Soekarno atau koperasi ala Hatta. Mereka mempelajari pemikiran Marx tanpa membabi buta menganggapnya sebagai dogma.
Sebagai penutup, saya menyimpulkan bahwa buku-buku Marx penting dan perlu dibaca agar kita bisa menghayati mengapa Marx sampai berkata, "Saya bukan Marxis". Perkataan ini kelihatan ebagai canda, namun sesungguhnya ilmiah.
Saya mendapatkan email dari Seorang sahabat di Balikpapan yang sedang mengalami kegundahan hati. Ia sedang bergumul dengan sebuah pertanyaan yang menurutku cukup menarik untuk didiskusikan. Agar juga menjadi bahan pemikiran bagi kita semua para peminat pemikiran Marx, saya mencoba mengekspos pertanyaan Saudara Arafid ini agar menjadi bahan diskusi bagi kita semua.
Demikian bentuk pertanyaannya.
Salam Pak Boas,
Saya Arafid, tinggal di Balikpapan sebelumnya saya tinggal dan kuliah di Makassar,
sejak awal kuliah saya ikut pengkaderan organisasi prodemokrasi di kampus.
Latarbelakang saya awalnya dibangun dari filsafat terutama konsep filsafat islam
yang pelopori seperti Ibn Sina, Mullah Sadhra, Murthadha Muttahari ataupun seperti
Ali Sariati.
Satu yang belum bisa saya terima dari Marx-Marxisme, lenin-leninusme yakni bangunan
filsafatnya. Saya berasumsi bahwa setiap pemikiran pasti dibangun diatas tiga
pondasi, yakni Epistemologi, Ontologi dan Aksiologi. Pada tataran Ontologi dan
Aksiologi saya fikir luar biasa tetapi ketika diperdebatkan pada tataran
Epistomologi kok susah menjelaskannya.
Mohon pencerahannya pak Boas.
Arafid Murthadha (Balikpapan)
Silahkan kirimkan pemikiran rekan-rekan semua untuk pertanyaan sahabat saya ini melalui kotak pesan di bagian sebelah kiri blog ini.
Saya sangat mengharapkan partisipasi dari rekan-rekan sekalian.(Dr. Boas Boangmanalu)
Penting untuk diingat bahwa untuk memudahkan pemahaman terhadap pemikiran, watak religiusitas dan konsep humanitas Dostoievsky yang berdistingsi dengan alur logika, konsep dan kategori baku, kompadium hukum dan rigoritas rasional Eropa Barat yang berorientasi pada Romawi sudah barang tentu pemahaman tentang hesychasme akan sangat membantu.
Hesychasme sebagai aliran mistik Rusia merupakanbagian integral dari Ortodoksi Yunani berasal dari tradisi biara Kristen Timur abad ketiga Masehi. Hesychasme berasal dari kata "hesychast." Hesychast artinya ketenangan atau kekelaman hidup batin. Hesycahsme adalah suatu cara untuk mencapai kesempurnaan batin yang dilakukan secara langsung tanpa melalui institusi gereja. Hubungan personal dengan Tuhan dilakukan melalui teknik pernafasan dan kontemplasi khusuk melalui pembacaan doa Kristus.[Meyendorff : 96].
Mistik teologi Rusia lazim disebut dengan hesychasme, pada awalnya dielaborasikan oleh santoClement dari Alexandaria, meninggal pada tahun215 Masehi, dan santo Origendari Alexandaria, meninggal tahun 253 Masehi. Pada abad keempat, pemikiran kedua orang suci ini dikembangkan oleh Santo Gregory dari Nyssa, dan muridnya Evagrius dari Pontius, seorang biarawan gurun pasir Mesir dan meninggal pada tahun 399 Masehi.
Abad pertengahan Rusia ditandai oleh orientasi pada kehidupan batin dan penajamanintuisi,aposteosisterhadap irrasionalitas. Pengaruhnya sangat kuat pada pemikiran, kultur dan peta kognitif Rusia sampai dengan dewasa ini. Orientasikehidupan batin ini merupakan teknik pemusatan pemikiran untuk memperoleh sinar suci, terang abadi, dapat dilakukan setiap orang melalui komunikasi langsung dengan Tuhan,disebut Hesychasme.[Nicozisin :61- 64].
Kata "hesychast" diperkirakan berasal dari Platonisme seperti Origen, Evagerius menuliskan doa dalam terminologi ilmiah, sebagai suatu aktivitas pikiran dan bukankeseluruhanpribadi. Ia mengabaikan peranan tubuh manusia dalam proses"penebusan" dan "deifikasi" atau proses menuju Tuhan. Ketubuhan dipersepsikan sebagai sumber dosa dan kejahatan. Sebagai gantinya ia lebih mengutamakan prinsip harmoni antara pikiran dan tubuh. Gerakan asketik ini mirip dengan teknik pernapasan, Yoga yang berkembang di dunia Timur. [Ware: 64].
Pada mulanya gerakan asketik ini dicurigai dan bahkan dikutuk sebagai bi'dah oleh patriark Konstantinopel. Gerakan asketik ini dituduh sebagai ajaran sesat, ajarannya dipersepsikan sarat dengan ide-ide iblis bahkan para pengikutnya dikejar-kejar. Hesychasme dideklarasikan sebagai musuh Ortodoks Yunani. Gerakan Bogomilisme, suatu sekte keagamaan berasal dari ajaran Manuel dari biara Palestina pada abad kelima turut memberikan kontribusi terhadap perkembangan hesychasm. Hesychasme selanjutnya menyebar ke semenanjung Balkan dan Konstantinopel. Dari Konstantinopel gerakan ini menjamur sampai ke Gunung Athos.
Pada abad keduabelas, Sabbas berkebangsaan Serbia dari biara Sinai, mengelaborasikan hesychasme menjadi suatu ajaran dan terstruktur menjadi suatu sarana atau [komunitas] penyucian diri. Sebagai wacana penyucian diri dan penyempurnaan kehidupan batin, menekankanpadasuatu kredo"penderitaan" yang sangat sentral dalam Ortodoksi Junani. Penderitaan diyakini sebagai jaminan bagikeselamatan yang nyaris terlupakan dalam Katolik Roma. Kredo ini selanjutnyaterwariskan pada "kenotik" kristianidan mengalami perkembanganm pesat dan hampir identik dengan ortodoks Junani itu sendiri.
Hesychasme yang telah diterima sebagai bagian integral dari Ortodoksi memperlihatkangerak dan dinamika mengesankan dalam sejarah dan kultur bangsa Rusia. Orientasi dan kredo yang dikandungnya jelas dan pasti,yaitusuatukesadaran kolektif yang menggerakkan setiap individu dalam merespon kehidupan dengan segenap paradoks yang dikandungnya secara sadar mensintesakan konflik binari antara dimensi kodrat dan dimensi adikodrati. Hesychasme secara rigoristik dan bersifat dogmatis mempertegas ajaran Kristen tentang kemutlakan untuk mengutamakan pencapaian kerajan surga, tanpa harus menafikan secara definitif kehidupanduniawi. Hesychasme juga memperingatkan bahwa orientasi yang melulu mengutamakan kehidupanduniawiadalah suatukekeliruan ontologisdalam tafsir agamis.Dimensipraksis lain dari ajaran ini adalahwatak banalitas yang dikandungnyaterbilang sangat mengesankan,terutama bagi pengikut-pengikutnya. Hesychasme secara defintif menekankan prinsip persaudaraan sebagaimana diajarkan oleh Kristus dan dilaksanakan pada Kristen awal dan pada masa apostolik. Prinsip persaudaraan, budaya kolektif dan berbagai sentuhan kemanusiaanseperti saling kasih dan peduli sesama, watak altruistik, non-diskriminatik, non-status dan kemirisan terhadap kepemilikan menyebabkan hesychasme semakin populer. Hesychasme menjamur hampir ke seluruh pelosok Rusia, terutama dalam komunitas pedesaan, pedalaman dan hampir ke seluruh monasteri. Hidup komunal yang telah berakar pada masyarakat tribalisme Slavia sebelum masuknya kristenitas pada penghujung abad sepuluh dibawah patronasipangeran Vladimir, semakin terkukuhkandalam pola kognitif bangsa Rusia. Orientasi praksis dan populistik ini terkanonisasidalam Ortodoksi Yunani. Hesychasme semakin populer terutama karena dimensi eskatologis yang dikandungnya dalam upaya untuk memperoleh kesempurnaan batin, dan keselamatan tidak membutuhkan gereja dan institusi keagamaan resmi. Hubungan dengan Tuhan dilakukan secara personal.
Tokoh Hesychasme yang paling tersohor pada abad keduabelas adalah Gregory Palamas (1286-1359). Ia mengajarkan bahwa [emanasi] Tuhan dapat dipahami melalui penglihatan mata manusia. [Kondrat : 85-86]. Palamas, uskup agung Tesalonika mengajarkan bahwa untuk mencapai tingkat kesempurnaan batin dapat dilakukan dengan cara berhubungan secara langsung dengan Tuhan. Hubungan langsung dengan Tuhan, tanpa melalui institusi gereja menimbulkan kecurigaan gereja. Akan tetapi dalam perguliran waktu dan semakin maraknya kehidupan asketik yang bermuara ke dalam tradisi hesychasme pada akhirnya diakui gereja. Asketisme Rusia banyak dipengaruhi oleh para tokoh asketik. Palamas misalnya mengintegrasikan hesychasme denganteologi Ortodoksi. [Ware: 67].
Padapertengahan abad kesebelas, Anthony dan Theodosiusmendirikan biara-biara dan pusat budaya utama di Rusia. Sejak itu Rusia lebih bersifat monastik melampaui Yunani. Tokoh lain adalah Nilsorsky(1433-1508) memperkenalkan gerakan mistikke Rusia dan pada tahun 1480, iamendirikan Serikat Persaudaraan 'Transvolga.' Serikat persaudaraan ini berperan penting dan sangat menentukan dalam pembentukan nasionalisme Rusia, penyelamat nilai-nilai dasar bangsa Rusia. Nilsorky menekankan penderitaan sebagai suatu sarana penyucian diri. Karena itu gereja tidak membutuhkan kekayaan dan pemilikan tanah. Konsep ini menguntungkan Tsar Ivan III. Karena gerejamengharamkan pemilikan termasuk hak atastanah, maka Ivan III memperoleh banyak bidang tanah. Tradisi dan kehidupan Serikat Persaudaraan yang berorientasi pada kenotik kristiani dituangkan oleh Dostoievsky dalam karya-karyanya. [Pipes : 229].Menurut Nilsorsky, biarawan haruslah hidup menderita, dan khusuk dengan doa serta keheningan budi. Nilsorsky menganjurkan para pengikutnya agar menghindarkan keinginan atau nafsu untuk memiliki harta kekayaan duniawi. Ia juga menolak pemilikan tanah gereja yang dianggap bertentangan dengan prinsip kerja keras dan kemiskinan yang menjadi esensi kasih itu sendiri. [Fedotov : 87-89].
Biarawanlain yang berjasa mengembangkan tradisi asketis Rusia adalah Tykhon Zadonsk (1724-1783). Tykhon mengajarkan bahwa penyucian diri adalah esensi dari prinsip kasih dan kekristenan itu sendiri dilakukan melalui prinsip kerelaan untuk menyendiri dan melalui teknik kontemplasi kehidupan duniawi. Ia merangkul kesengsaraan, serta mencintai penderitaan. Tykhon memperkenalkan model baru humanisme Kristen. Ia menciptakan suatu kredo barudalam kehidupan asketik Rusia. Dalam kredotersebut ditekankan bahwa kebebasan merupakanhal yang sangat penting.Kredo tersebutberakar pada kepercayaan arkaik, paganisme Rusiaterutamapada Ibu tanah sebagai sumber kehidupan.[Fedotov : 185].Tykhon merumuskan ajaran Kristus sebagai suatu keniscayaan, suatu hal yang dapat dilaksanakan. Ajaran Kristus hanya membutuhkan suatu syarat, yaitukerelaan untuk menderita dan kesediaanuntuk memanggul salib Kristus. Penderitaan dalam dirinya sarat dengan makna kasih. Penderitaanmerupakan sarana, mediasi menujusuatu kehidupan transendental seperti kerelaan untuk mati sebagaimana diajarkan dan dilaksanakan oleh Kristus sendiri. Tykhon menganjurkan agar gereja melepaskan diri dari arogansi, dari kefanaan dunia, dan menjadikan moral Kristus sebagai landasan kehidupan asketisme. Tykhon menekankan pentingnya melaksanakan kredo penyucian diri melalui kerelaan untuk menderita mengikuti jejak Kristus yang mati di kayu salib. Dikatakan bahwa adalah kewajiban Kristiani untuk merunut jejak penghambaan dan pengosongan diri Kristus. Ditambahkan, tindakan merendahkan diri merupakan jaminan bagi tercapainya kebahagiaan paripurna. Ideal seperti ini diulang kembali oleh pimpinan gereja Moskow, Philaret (1782-1867) dan beberapa tokoh gereja OrtodoksJunani lainnya. Kredo - kredo asketik ini secara langsung mempengaruhi pembentukan pemikiran Dostoievsky. Kedalaman makna yang terkandung dalam karya-karya sastranya dapat dikembalikan kepada pemikiran tokoh-tokoh asketik yang dimaksudkan.
Pada abad kesembilan di Rusia dikenal gerakan Serikat Persaudaraan. Tokoh spiritual, asketik pertama dan terbesar Rusia abad kesembilan belas adalah Santo Seraphim dari Sarov (1759-1833). Ajaran Seraphim merujuk pada asketisme Santo Anthony dari Mesir, abad ketiga tarikh Masehi. Setelah kematiannya, Serikat Persaudaraan Optino muncul. Para tetua yangtergabung dalam komunitasini adalah Leonid (1768-1841), Macarius (1788-1860) danAmbarose (1812-1891). Komunitas Optino inimempengaruhi penulis-penulis sepertiGogol, Khomiakov, Soloviev, Tolstoy dan Dostoievsky. Tokoh Zosima dalam The BrothersKaramazov terinspirasi oleh Macarius,atau Ambarose dari Optino. [Ware: 120-121].
Monasteri OptinoadalahpusatSerikat Persaudaraan, tempatpara starez mengadakan kontemplasi dan menyucikan diri serta menolak kehidupan hedonis dan keduniaan. Hidup menderita, bersahaja dan miris terhadap hidup duniawi, sertabersifat mistik. Dostoievsky sendiri sering mengunjungi monasteri Optina dan memperoleh inspirasiterutama dalam menggarap penderitaan sebagai sarana penyucian diri serta memperoleh pengetahuan. Monasteri ini sekaligus menjadi tempat untuk memperolehpencerahan dan kedamaian hidup ( Fedotov G.P: XV) dan sebagai tempat ziarah keagaman.
Tradisi hesychasme selanjutnyamengambil bentuk"kenosis" kristiani, yaitu suatu kredo imani yang mentransformasikan prinsip kasih yang menjadi inti ajaran Kristenke dalam suatu tataran makna "eidos", esensialdidalamnya penderitaan menjadi sentral. Sebagai gerakan spiritual, kenosis menekankanpada peniadaan sekaligus penghambaan diriterejawantahkan dalam penderitaan Kristus di kayu salib. Kristus menghambakan diri, menurunkan derajad divinitasnya ke tataran manusia. Denganpenurunanderajadsebagai hamba, dan kerelaan berkorbankemuliaan Tuhan terafirmasikan.Dalam kenosi dunia imanensi dan transendensi tersintesakan secara unik dan mengusung visi embebasan. Dimensi emasipatoris yang diusungnya menempatkan Hesychasme atau "kenosis" sekaligus sebagai sumber inspirasi bagi pengarang Rusia, termasuk Dostoievsky untuk berkarya.
Sumber
FedotovG.A Treasury of Russian Spirituality. Shed and Ward. London 1952.
KonradA.N. Old Russian and Byzantium. The Byzantine and Oriental Origins RussianCulture. Wilhelm Braumuller. Wien Stuttgart, 1972.
Meyendorff . J. Byzantium and The Rice of Russia. A Study of Bizantino –RussoRelation in the Fourteenth Century. Cambridge University Press. Cambridge New York Sidney 1981/.
Nicozisin .G. The Orthodox Church A Well-Kept Secret. A Journey Through ChurchHistory. 1952.
PipesR. Russian Under the Old Regime. London, 1976.
Ware T.The Orthodox Church. Penguin Books. London, 1993
Bersama ini kami tampilkan beberapa komentar menarik yang telah kami terima terkait dengan kuis KOMENTAR BERHADIAH. Kuis ini masih terbuka bagi Anda yang berminat dan silahkan mengirimkan komentar Anda melalui email hendra_has@deptan.go.id atau via kotak pesan di sitebar pada blog ini
komentar dari Stevan
Karl Marx : ateis ?
Karl Marx adalah tokoh besar yang mampu melihat kepincangan dalam proses sebuah
perjalanan perkembangan ekonomi. Menarik, ketika ia memasuki medan agama. Marx
dalam pandangan saya bukanlah seorang yang anti agama. Bahkan, dia adalah
seorang agamais. Dalam konteks ini, ia menangkap roh gerak agama. Roh yang
sering disebut sebagai spirit keimanan.
Agama pada masanya, telah kehilangan salah satu dimensinya yaitu roh pembebasan.
Agama mempunyai suatu visi dan misi membebaskan manusia dari segala macam
keterpenjaraan. Salah satunya adalah penindasan. Penindasan yang kerap kali
dihalalkan bahkan disyahkan atas nama institusi kerohanian telah membelenggu
manusia. Manusia terbuai akan romantisme pahala surgawi yang membuta hitamkan
mata mereka akan penderitaannya.
Karl Marx dengan manifestonya, mengajarkan kepada kita sebuah pengajaran
kekritisan akan hidup beragama. Agama haruslah berkomitmen pada solidaritas dan
emansipasi yang menggerakan sebuah paktek pembebasan kaum tertindas dan bukan
berkutat pada atmosfir melenakan mengenai kebenaran dogmatis atas kesengsaraan.
Komentar dariHendra Kaprisma
mahasiswa Prodi Rusia FIB UI.
Menurut pandangan saya, buku-buku dari Karl Marx dan pemikir-pemikir kiri—yang
stereotipkan kiri—lainnya penting untuk dibaca. Ini merupakan bentuk apresiasi
kita terhadap perkembangan pemikiran filsafat. Dilarangnya pembelajaran dan
berkembangnya diskursus Marxisme di masyarakat oleh pemerintah Indonesia
(pemerintah Soeharto), merupakan bentuk kejahatan negara berbasis ideologi. Negara
kita dengan perpanjangan tangan dari pemerintah pada waktu itu, menjadikan
ideologi Pancasila sebagai tameng peng-halal-an pemberangusan wacana ideologi lain
yang berkembang. Suatu bentuk kultus individu berjalan dengan mulus di era
Soeharto.
Melihat berbagai kebebasan berwacana yang berkembang saat ini, penting untuk
disadari bahwa wacana mengenai Marxis masih penting dan hangat untuk dikaji.
Ajaran Marxis seringkali direduksi sedemikian rupa sehingga tidak lagi dipandang
sebagai gagasan kreativitas yang didasarkan pada suatu pemikiran tertentu,
melainkan hanya sebagai gerakan berfilsafat yang dogmatis dan berorientasi politis
secara sempit. Padahal, Marxisme hingga kini masih menjadi perdebatan intelektual
dikalangan pemikir-pemikir Indonesia, "Apakah benar ajaran Marxis berbahaya bagi
masyarakat Indonesia?" Pandangan semacam ini bisa dipahami dalam konteks
perjalanan sejarah pemikiran aliran ini di negeri kita tercinta.
Untuk menjernihkan reduksi semacam itu, penelaahan mengenai akar filsafat dan
sejarah perkembangan Marxisme menjadi sangat penting untuk dilakukan, karena pada
kenyataannya, bukan hanya Marxisme yang kerap menjadi tunggangan hegemonik
kekuasaan. Sebagaimana kecenderungan alamiahnya, hegemonik kekuasaan akan
mempergunakan ideologi—apa pun bentuk dan alirannya—untuk kelangsungan kekuasaan
itu sendiri. Ini merupakan bukti bahwa pada suatu waktu ideology akan dengan mudah
dijadikan kuda tunggangan oleh kekuasaan dan ini bukan menjadi monopoli kasus
Marxisme semata.
Oleh sebab itu, buku-buku Marx penting dan perlu untuk dibaca. Ini akan menambah
kemenarikan perjalanan panjang bangsa Indonesia di kancah intelektualisme. Selamat
dan sukses atas diterbitkannya buku Berselancar Bersama Marx dan Dostoievsky karya
Dr. Singkop Boas Boangmanalu. Sekian dan terima kasih.
KOMENTAR DARI Arafid
Dari Balikpapan
Marx-Marxisme dan Revolusi
Ketika pergeseran peradaban berjalan semakin cepat, timbul gejolak disetiap aspek
kehidupan manusia, terlebih lagi manusia kontemporer. Gesekan peradaban yang menjadi
lokomotif pergerakan kemanusiaan semakin mengarah pada embang kehancuran. Lambat
laun tapi pasti gerakan sejarah kemanusiaan tentunya dengan segala peradabannya
terus menggiring manusia kearah yang semakin tidak jelas.
Kapitalisme global, yang menjadi gerbong lokomotif perdaban manusia benar-benar
terasa sangat memilukan. memang benar Kapitalisme telah membawa manusia dari
masyarakat agraris ke masyarakat industri. Tapi Kepitalisme lupa atau mungkin tidak
tau kalau manusia yang dipekerjakan di kilang-kilang, pabrik-pabrik,
industri-industri adalah manusia yang memiliki dimensi kemanusiaan. Manusia-manusia
itu dipekerjakan seperti robot yang yang tidak kenal lelah.Sungguh keji apa yang
telah dilakukan kaum kapitalis.
Marx yang begitu paham dengan akan munculnya pengekangan nilai dan
kemerdakaan/kebebasan manusia sejak awal banyak menentang bahkan mencemooh kaum kapitalis. Dalam berbagai buku yang ditulis Marx bukan hanya telah membuka mata
manusia tapi jugamembentuk kesadaran yang akan membebaskan manusia darikekangan penindasan manusia baik fisik maupun fsikis.
Das Kapital yang membongkar kecurangan kaum pemilik modal terhadap pekerjanya,
benar-benar menjadi kitab yang telah melahirkan ideologi perjuangan buruh sedunia.
Selain itu,Pemikiran Marx-Marxisme telah menjadi kekuatan pembebas yang terbukti
dengan lahirnya revolusi yang seluruh ide dan metodologinya terinspirasi dari ide
Silahkan rekan-rekan memberikan komentar ringan tentang
Mengapa buku-buku Marx penting dan perlu dibaca?
Komentar cukup anda cantumkan pada kotak pesan di sisi kiri blog ini atau dikirimkan via email hendra_has@deptan.go.id dengan mencantumkan nama dan alamat yang jelas.
Bagi komentar menarik akan mendapatkan hadiah buku karya Dr. Boas Boangmanalu yang berjudul "Berselancar bersama Marx dan Dostoeivsky"
Pemahaman tentang kebebasan yang menjadi sentral pemikiran Dostoievskymutlak dikaitkan dengan kejahatan. Melalui analisis kejahatan, makna intrinsik kebebasan terpahamkan. Dalammempercakapkan kebebasan Dostoievskydalam hampir seluruh karya-karya sastranyamemperlihatkan suatu pergeseran baru yangbersifat emansipatoris.Dostoievsky menggeserkan manusia ke tataran yang kongkret, realistik dengansegenap kecenderungan yang dikandungnya dalam suatu makna yang sama sekali baru.Makna baru tersebut selanjutnya dipertautkan dengan struktur dasar makna primordial hakiki manusia sebagai meonik..
Orientasi manusia dengan status primordial kebebasan merupakan titik tolak bagi Dostoievskydalam upayamenguak misteri manusia. Kebebasan didudukkan dalam statusprimordialnya sebagai "meonik" dan bukan "ontik" sebagaimana dipahamkan oleh Heidegger. Sebagai meonik berarti kebebasanadalahkebebasan bagi dirinya. Kebebasan tidak dapat diperlakukan demi suatu ideologi tertentu, suatu kepentingan tertentu.Dengan demikian kebebasan terhindar dari distorsi dan senantiasa pula berada padahukum-hukum esoterik, otonom dan tegarsebagai suatu totalitas identitas (tozdennost').
Sebagaimeonik kebebasan lepas dari segenap interpretasi dan deskripsi dan kategori-kategori baku, dan hanya terpahamkan melalui penghampiran intuitif dan penghayatan batin.Penghampiranmelalui wacana nalariah akan meredusir makna intrinsik kebebasan. Melalui meonik selanjutnya dalam pengertian epistemologi disebutsebagai meontologi. Dostoievsky menggeserkan pemahaman tentang manusia dari spektrum transendental ke spektrum imanensi .Melalui pergeseran inimanusia menjadisesuatu yang kongkret dan bukan abstrak sebagaimana padaHegel. Namun sebagai yangkongkret bukan berarti manusia tertempatkan sebagai melulu materialistik sebagaimana dipersepsikan oleh Marx. Sebaliknya dalam perspektif imanensi Dostoievsky menghadirkan manusia dengan segenap unsur konstitutif dan horison makna yang dikandungnya dalam suati totalitas dan buklan solipsitik, atomistik.
Melalui meontologimanusiamenjadi kongkret dan bukan lagi sebagai sesuatu yang abstrak. Pemahaman Dostoievsky terhadap kebebasan mirip denganpemahaman fenomelogi sebagaimana dianjurkan oleh Husserl dan Merleau-Ponty. Bedanya, Dostoievsky mendudukkan kebebasan dengan "mahkota" roh dalampersentuhan danketerlibatan langsung dengan dimensi irrasionalitas. Kebebasan irrasionalitas inisecara signifikan dipaparkan dalam karya agung filosofis-intuitif dalamThe Double (Dvonik) dan secara teoritik-deskriptif terartikulasikan dalam Notes from the Underground (Zapiski iz Pod Polya).
Pemahaman tentang kebebasan dalam konteks ini mirip dengan naturalisme yang diyakini Kristen dan dapat menjadi dasar originalitas dan independensi kultur bangsa Rusia. Mereka mengadakan penetrasi melalui kehidupan artifisial eksterior untuk memperolehsuatu restorasi dalam jiwa dalam bentuk baru;suatukepercayaan yang diperbaharui secara dasariah (grunt), tanah (pochva), rakyat - suatu restorasidalam pikirandan hatidari sesuatu yangada (neposredstviem). Grigorievm menegaskan bahwabahwasegalanya harus diletakkan dalam tataran "organic" - terkait dengan konteks historisitas, sosial, dan kekuatan spiritualtermasuk bentuk psikologiseni
Melalui metode penetrasi, Dostoievsky memperkenalkan "meontologi"sebagai suatu bentukpemahaman baru tentang fenomenologi. Prinsip "cogito ergo sum"Descartes oleh Dostoievsky digeserkan ke tataran "dinamika, yaitu suatusubstansi yang merujuk pada prinsip kekosongan, Ungrund Boehme.
Meontologi yang mengisyaratkan meonik sebagai dinamika yang merujuk pada Ungrund yang dimaksudkan, Dostoievsky mengatasi prinsip "kasualitas" pada psikologisme Brentano. Dostoievsky juga melampauipriunsip kesadaran murni, ego transendental Husserl dalam formasi polaritas "subyek-obyek". Dostoievsky jugamenempatkan manusia sebagai suatu "kesadaran total dan difinitif". Dalam bingkai interaksi dan penghayatan bersama denganmanusia lain melalui sarana budaya,wacana bahasa dan komunikasi sebagaimana terpahamkandalam "etre du monde" Merleau-Ponty,Dostoievskysebagaikopernikan baru dalam filsafat antropologi memberikan nafas baru kepada fenomenologi. (Boangmanalu : 2001).
Prinsip keharusan eksistensial yang menempatkan interaksi inter-personal sebagai yang sentral ditorehkan oleh Dostoievsky dalam Kejahatan dan Hukumannya melalui mulut Porfiry sebagai berikut: "Engkau tidak dapat melarikan diri dari kami". Ungkapan ini dicetuskan oleh Raskolnikov kepada Sonya. Dikatakan : "Sayaberlutut bukan padamu, melainkansujud ke hadapan humanitas". Ungkapan ini mengafirmasikan prinsip 'etre du monde"Merleau-Ponty. Prinsip komunikasi interpersonalitas ini pulalah menjaditema sentral dalam Kejahatan dan Hukumannya.
Dalam tataran dan kualitas meonik secara subtil dan artistik dibentangkandalam frasa-frasa semantik dalam karya agung Kejahatan dan Hukuman (Prestuiplenie i Nakazani).Dalam karya inikebebasan secara intrinsiktereksplisitkan dalam maknanya yang terdalam. Maknatersebutmemperolehkeagungannya melalui pertautan kohesif dengansegenap unsur konstitutif manusia. Kebebasandengan demikianterkait erat denganpermasalahan klasiktheodisea yang tidak pernah tertuntaskandalam perspektif rasionalitas. Kebebasan dengan demikian tertempatkan dalam suatu mosaik yang menghimpunberbagai unsur dengan segenap horison makna yang dikandunmgnya dalam suatu unitas tunggal yang mengandaikan otonomi dandependensi masing-masing unsur.Dalam konteks inilahmakna yang terkandung dalam kebebasan tersebut tereksplisitkansecaratotal dan definitif mirip dengan bola kristal yang senantiasa memancarkan cahayamakna baru.
Kebebasan juga memperoleh penegasannya yang khas dan unik dalam perspektif anarko-psikologi yang jugamenjadi wilayah kajian Nietzsche dan Stirner. Dengan anarko-psikologi Dostoievsky mengangkat ke permukaan predikat manusia sebagai suatu kesadaran total dan kongkret di tengah-tengah dunia realitas, atau sebagai pusat jagat raya. Melalui pembongkaran radikal tersebut, Dostoievsky menggeserkan manusia ke dalam spektrum dunia nyata. Dengan langgam bahasa yangberani dan menantang dalam mempercakapakan manusia, celovek dan nasib manusia, sudba celovek yang menjadi kepedulian dan komitmennya,Dostoievsky melemparkan pemikiran filosofis dan gagasan-gagasan intuitf tentang manusia dan kebebasan dalam tataran makna eidos sertarefleksif.
Atas dasar pemikiran inilah suatu diskursus tentang kejahatanserta kaitannya dengan kebebasan meonikmenjadi suatu permasalahanfilosofis yangmenantanguntuk dikaji. Dalam orientasi tersebut Dostoievsky membongkar dunia irrasionalitas, dimensi kehidupanbatin dan tertransformasikan ke spektrumdunia imanensi, ke dalammanusia kongkret. Melalui orientasi tersebut kebebasan memperoleh makna dan signifikasi baru dan bermakna emansipatoris..
Dalam neneropong manusiadalam ceruk misteri dan kedahsyatan sebagai suatu personalitasyang sepanjang hidupnya merekonstruksikan diri, Dostoievskybertolak dari pemahaman intuitif yang telah disebutkan sebelumnya. Melalui titik tolak ini dimensi kehidupan batin yang terdalam ditampilkan sebagai suatu kekuatan sublim yang menggetarkan. Sentuhan sentuhan artistik dengan muatan magis dan nuansa mistik mengakibatkan karya ini menjadi suatu kekuatan yang mempesona dan acap kali menakutkan. Sesuatu yang indah adalah sangat dahsyat dan menakutkan, demikian Schiller yangdikutip oleh Dostoievsky secara telakterpaparkan dalam Kejahatan danHukuman.
Dalam konteks kesadaran subyek sebagai dinamika, Kejahatan dan Hukumannya terpahamkan. Solipsisme teratasi dan totalitas menjadi primer adalah langkah awal bagi pemahaman tentangkejahatan dalam kaitannya dengandimensi transendental, Tuhan yang tidak terjamah oleh Kant, tetapiolehDostoievsky tereksplisitkan.
Kejahatan dan Hukuman sebagai karya filosofis sarat dengan dimensi intuitifmerupakan karya yang paling kontroversal yang pernah tercatat dalam kasanah sastra. Sebagai seorangrevolusioner dalam dunia jiwa, - suatu ungkapansentimentalyang dilontarkan olehBerdyaev-Dostoievskymembongkarsecara radikalkehidupan dunia batin, duniairrasionalitas. (Berdyaev : 37).
Dalam diskursus kejahatan - dengan gaya sinikal dan acap kali metaporistik -Dostoievsky secararadikal menerobos stagnasi pemikiran, memfalsifikasikan rigoritas nalar dan mengedepankan dunia intuitif yang merupakan penjelajahan Nietsczhe dan Stirner. Dengan cara demikian, Dostoievskymembuka suatu lembaran baru, perspektif pemikirandan intuitifbernas makna, segar dan menentang meniscayakan dunia serba mungkin denganmuatan emansipatoris.
Pengaruh pertama membaca Kejahatan dan Hukuman adalah dalam bentuk teror. Tahun 1885, Lacfadio Hearn menganjurkan kepada kalayak pembaca New Orleansbahwasetelah membaca Kejahatan dan Hukumannya pembacaakan menjadi sakit parah”dan satu tahun kemudian, Eugene Melchior, Comte de Vogue, mengatakankepada pembacakarya tersebut di kota Paris bahwa “The author’s power of frightening is far superior to resistence of the average nervous systems”. Pengaruh kedua adalah disorientasi intelektual. MengapaRaskolnikov membunuh nenek tua”. Apakah tindakan manusia bebas atau tunduk pada hukum determimistik alam. Mengapa si penyelidikPorfiry menjadidemikian pongah. Apakahkebebasan manusia sesuai denganeksistensi Tuhan?. Mengapa SvidrigailovterusmemburuRaskolnikov?. Apakah kebebasan sesuai denganmoralitas”. ApakahSvidrigailov membunuh budaknya? MengapaRaskolnikov tidak menyesal? Pertanyaan-pertanyaan ontologis tersebut dapat diancang melalui dua pendekatan, yaitu psikologi dan metafisika. (Nuttal: 1978).
Kejahatan dan Hukuman merupakan karya propaideutikbagi pemahaman baru tentang kejahatan. Dostoievsky menampilkan ke permukaan badai dan kegetiran kehidupan batin sebagaimana dilakukan oleh Stirner dan Nietzsche. Itulah sebabnya Nietzsche mengatakan: “ bahwa Dostoievsky, sebagai satu-satunya psikolog,secara kebetulan daripadanya saya belajar”. Freud juga mengklaim Dostosievsky sebagaiseorang genius hampir menyamai Shakespiere. Karya-karyanya menyingkapkanpola-polabawah sadardari motivasi manusia.
Salah satu kunci utamadalam memahami Kejahatan dan Hukumannyaterletak pada bagaimana Dostoievsky menempatkan tokoh-tokoh protagonis ke dalam [situasi]keterlibatan total dan definitif pada segenap peristiwa dalam passi humiliasi. Obsesi Dostoievsky adalah membongkar secara radikal akar psikemanusiadengan menggeserkan kesadaran tokoh-tokoh ke titik definitif nomenon.
Jika Freud bertolak dariimpuls neorosis agarmampu memperolehsecara persistujuan psikologi, maka Dostoievsky dalam anarko-psikologi lebihterarah kepadaupaya menembus kedalaman pengalaman batin selanjutnya ditampilkan sebagai sesuatu yang kongkret. Atas dasar argumen inilah Dostoievskymenyebut dirinya sebagai seorang “realist-fantastis”, dan sekaligus menepis sebutan psikologist. (Berdyaev: 1972).
Sebagai seorang realist-fantastis, Dostoievsky menciptakan tokoh seperti Alyosha Karamazov sebagai sosok yang “immunegoistik” berada di luar rigoritas egosime kaku. (Carrol, 1974). Dalam realisme fantastik, suatu unsur terkait secara kohesifdengan unsur lain. Dalam realisme fantastik prinsip totalitas dan sinergi menjadi sesuatu yang primer. Dostoievsky mengatasipsiko-analisis Freud dan melangkah ke tatarananarko-psikologi sebagaimana pada Nietzsche dan Stirner. (Ibid).
Dostoievskyjuga memperlihatkankekuatan destruktifegoisme ditampilkan melalui tokoh protagonist Raskolnikov. Dostoievsky menganalisis kejatuhan manusiayangberkehendak menjadi “manusia luar biasa” dan terobsesi untuk memiliki kehendak berkuasa, mirip Tuhan. Raskolnikov memperolehpenyelamatan melalui antitetikmelaluikepedulian kristenitas terhadap orang miskin harta, tercecer dan yang tertindas dan terhinakan, melalui pengakuan, dan melalui suatu periode panjang pertobatan dalam pengertian “self-effacing”.
Dalam Kejahatan dan Hukuman, Dostoievsky memaparkan suatu diskursus tentang kebebasan dan suatu meditasi tentang manusia dalam tataran epistemologi. Dalam memperbicangkan kebebasan tersebut dimensi Tuhan sebagai syarat mutlak, harus pula dikedepankan. Ditandaskan bahwa kebebasan hanya terpahamkansejauh dikaitkan dengan kejahatan yang melahirkan penderitaan. Dengan demikian mustahil pulalah mempercakapkan kebebasan tanpa membicarakan Tuhan.
Dalam membicarakan Tuhan, Dostoievsky memiliki persamaan pandangan dengan Stirner. Menurut Stirner, esensi tertinggi manusia terdapat dalam tiga kualitas, yaitu kehendak, cinta dan pikiran. Semuanya terpadukan dalam pengalaman religius sebagaimana dipahamkan oleh Feurbach. Tuhan melambangkan divinitas. Tuhan ditentukan oleh predikat, keadilan, cinta atau kualitas. Dalam konteks ini subyek dan predikat tertransformasikan ke dalam suatu sinerji. Feuerbach mentransformasikan manusia ke dalamsubyek dari segenapekuasi danmengapropriasikankonsep “Tuhan”untuk menjelaskan kebebasan infinitas melalui media penyatuan antara subyek dan predikat; tatkala manusia adalah dalam cinta, cinta menjadi manusia. Subyektelah menjadi“personified existing predicate, the predicate conceived as existing”. Subyek dan predikat hanyadibedakan sebagai eksistensi danesensi. Feuerbach menempatkan manusiasebagai pusat jagat raya dan ia membuatpengalamandevinitas-terutamadidudukkandalam hubungan interpersonal - sebagai pusat humanitas baru. Melalui teologi Feuerbach menjadi antropologi, melalui materialisme dan psikologi Stirner dan Nietzsche memfalsifikasikan metafisika.
Stirner mengembangkan pandangan teologi Feuerbach ke dalam teori umum tentang alienasi. Iamengutip maklumat metaporistik Nietsczhe yang mengatakan bahwa:”Tuhan telah mati dan kitalah pembunuhnya”. Tuhan tidakhanyadalam arti religiusitas,melainkansebagai suatu metapora terhadap suatu nilai yang ada di luar kekuasaan individu yang telah menjadi usang. Stirner menegaskanidealhumanist liberal, esensihumanisme universal. “Manusia” sebagaisubstitusi dominanyang terus bertambahdalam illusi Kristen. Feuerbach, filsufhumanisme baru,tidak berkembang di luar pemikiran religius: bagi Stirner, ia bukan merupakan nabi terakhirdalamtradisiKristen yang rapuh.
Kritik Stirner terhadap Kristenitas merunjuk pada Feuerbach. Intiagamaadalah proyeksi diri manusia sebagai suatu kedirian pecah, rindu akan “ideal kehidupan”, akan tetapi dipaksa untukhidup dalam kesulitan dan kekurangan. Manusia ada dan berada dalam suatu sindrom penolakan dunia realitas. Manusia dipaksa untuk kerasan tinggal di dalamnya. Dalam kondisi tersebut kesadaran tentang waktu muncul. Dalam kesadaran akan waktu manusia tercekam oleh kematian. Namun dalam bayang-bayangdahsyat tentangkematian ini pulalah manusia penuh denganharapandan ilusi. Dalam kesadaran akan waktu inilahmanusia mengilusikan suatukeabadian.
Menurut Stirner kematian menjadikeniscayaan akan kebangkitan kembali”. Dengan pandangan ini Stirner melampaui Feuerbach. Ditandaskan bahwa bukan hanya agama sebagai proyeksi alienasidiri manusia, akan tetapijuga termasuk di dalamnya segenap ideal, setiap kausa, setiap “fixed idea”. Stirnermeneruskan kritiknyaterhadap Feuerbachdengan mendefinisikan religius manusia sebagai orang yang menempatkanesensidi atasdirinya sendiri. Stirner membicarakan berbagaiaksioma yang menjadi landasan eksistensialisme seperti“eksistensi mendahului esensi” selanjutnya dijadikan oleh Sartre sebagaia landasan eksistensialisme.Stirnerjuga secara tajam mengilustrasikanbagaimana ego individu merupakan refleksi diri, dimana sesuatu dalam dirinya tersubordinasikan ke dalam kualitas atauesensi.
Pertarungan antara“lisensi individualistik”dan “kebenaranKristen”memperoleh penegasan yang lebih intens dalamkarya-karya agung Dostoievsky pada dasawarsa 1860an,dan dasawarsa 1870an. Dostoievsky sampai pada satu kesimpulanbahwabaik kapitalisme Eropa Barat dan ide-ide sosialis merupakan konsekwensi logis dariberpalingnya manusia dari Tuhan. Peradaban Eropa meninggalkan jalan Kristus,Manusia-Tuhan, dan sebagai gantinyamenempuh jalanidolasi manusia, Manusia-Tuhan.
Pemikiran ini terinspirasi oleh Feuerbach dalam masa mudanya sebagai anggota Petrachevsky yang mengatakan bahwa “Tuhan tidak lain adalah manusia itu sendiri” . Feuerbach menambahkan bahwa: “All the attribute of the divine nature are,therefore “attributes of the human nature… Man is the real God”. (Walicky: 315). Manusiasebagai Tuhan memutlakkan pembunuhan sebagai isyarat bagi aktualisasi kebebasan menuju keagungan manusia. Dengan sentuhan religiusitas Dostoievsky meletakkan pembunuhan dan kejahatan sebagai bagian integral dari kebebasan dan terpahamkanmelalui anarko-psikologi. Konsep antropoteistik Feuerbach dikritik oleh Max Stirner, yang mengatakan bahwa filsuf sesungguhnya tidak berhenti sebagai seorang teolog.”Pembebasan mutlak bertolak dariprinsip bahwa “Tuhanada dalam diri kita”. (Laut: 1996).
Agama “Manusia”dengan demikian hanyasuatuvarian baru pembudakan individu oleh penyerahan diri kepada tirani “universal”. Jalan menuju kebebasan individu terkendala olehTuhan-Manusia. Untukmengaktualisasikan keagunganmanusia tidak cukup denganmembunuh Tuhan akan tetapi harus diikutioleh kemutlakan untuk membunuh “Manusia” itu sendiri. Stirner menegaskan bahwa untuk membebaskan dan merealisasikan diri, individu mutlak melakukan kejahatan, atau mengafirmasikan diri sendiri sebagai nilai tertinggi melalui pembunuhan. Individu mutlak melepaskan diri darisegenap bentuk“terorsakral”,kepapaan sebagai pendosa melawan moral yang ditasbihkandalam nama humanitas abstrak. Tuhan adalah saya, demikian Stirner adalah elaborasi pemikiran antropoteistik Feurbach. (Ibid).
DalamThe autonomous Ego, Stirnermenekankan bahwamanusia “tidak dapatmengabaikan pelaksanaan kejahatan, karena manusia tidak dapat mengelak dari kejahatan. Kejahatan adalah esensi dari eksistensi. Kejahatanmerepresentasikan makna dan dignitas manusia. Stirner menempatkan manusia sebagai suatu proses transendental menuju kebebasan total dan definitif. Untuk mencapainya manusia harus melalukan kejahatan danharus pula membunuh manusia.
Pandanganini selanjutnyamerupakan motivasi bagi Raskolnikiv untuk membunuhnenek-tua. Raskolnikov menekankan makna tersebutdengan mengatakan bahwa:
“all greatmen or even a little out ofthe common, thatis capable ofgiving some new word, must from their very nature be criminal”. [Walicky : 1984: 316).
Pembunuhan kedua membingungkan karena di luar rencana, semula ia terpaksa membunuh Lizaveta. Kali ini pembunuhan dilakukan dengan menghujamkan bagian belakang kapak. Dan bukansisi tajam kapak yang membelah batok kepalanenek tua.Tindakan refleksif dan simbolik ini memperlihatkan ketidak-berdayaanRaskolnikov dalam mengatur dan merencanakan segala sesuatu dengan apik demi tujuannya. Dalam konteks inilah anarko-psikologi terafirmasikan melalui pembunuhan tanpa rencana. Dalam melakukan kejahatan Raskolnikov menempatkan dirinya sejajar dengan Napoleon, Kristus, Newton. Lucerian. Tokoh-tokoh ini memilikihak untuk melanggar hukum dan melakukan pembunuhan.
Sesuai dengan predikatnnya sebagai manusia-luar-bisa, Raskolnikov terpanggil untuk menghancurkan prinsip-prinsip dasar humanitas dan mutlak pula mengujarkankata atau sabda baru untuk mermbangun suatu peradaban baru. Pandangan ini memiliki persamaan dengan pandangan Stirner yang mengatakan bahwa ” kejahatan merupakan esensi manusia”. Tanpa kejahatan manusia tidak akan pernah sampai kepada keotentikan dan keutuhannyayang total dan defimitif sebagai manusia. Stirner menegaskan hal ini sebagai berikut:
“ Myauthorityto commitmurder derives fromwithinmyself.I have the right to killif I do not forbid it myself, if I am not boundby theirview thatmurderis “injustice”or something
“impure”.
Raskolnikov melanggar hukum dan mengadakann pembaharuandan bergerak ke berbagai arah. Hidupnya berorientasi kepada prinsip bahwa ucapan dan bahasa baru akan menghasilkan kebaikan bagi umat manusia. Sebaliknya, Svidrigailov adalah seorang eksistensialist. Akan tetapi kata eksistensialist mengandung maknapenerimaan intelektualdari suatu teori. Svidrigailov dalam kenyataannya berada di luar kerangka teori. Raskolnikovdalam kesendirian dan dalamkondisi akut putus asa serta mengenaskan, mengakui bahwa ia tidak memperoleh kebebasan transenden. Raskolnikovterperangkapdalamkesadaranrasionalnyasendiriyang tidak berujung pangkal.
Raskolnikovmembunuhkorbannya dengan maksud agar harmoni dunia tercipta. Dengan melakukan pembunuhan ia menyelamatkanibunya, Pulcheria Ivanovna dansaudara perempuannya, Douniadari kemiskinan. Pembunuhan nenek tua adalah suatu percobaan tentang pembunuhan murni, dan berupaya untuk memperoleh makna eksistensialbagi dirinya, yaitu apakah“ia seekor kutu busuk seperti manusia lainnya”. Dalam percakapan dengan Dounia, Raskolnikov mengatakan sikapnya dan tidak pernah merasa bersalah atas pembunuhan yang dilakukannya. Pergi untuk menderita ke Siberiatidak ada hubungan dengan kejahatan Raskolnikov. Kesalahan bagiRaskolniikov adalah kegagalan dalammelaksanakan misi pembunuhan.
Dalam “Epilog” Kejahatan dan Hukumannya, Dostoievsky mempertanyakankembalikesahihan teorinya tentang kejahatan. Ia tetap tidak merasa bersalah. Kesalahannya hanya terletak pada ketidak-mampuannya untuk melewati batas, melanggar hukum dan keteledorannya akan hal-hal yang sepele. Sebagai akibatnya Raskolnikov menderita. Namun melalui penderitaan itu pulalah ia menjadi sadar bahwa dirinya tidak lain adalah seorang pecundang dan bahkan pengecut.
Dalam proyeksi diri sebagai kesadaran subyek dalam mengaktualisasikan kebebasan, Raskolnikov sebagai manusia-luar-biasa dengan passi kehendak untuk berkuasa, hanya meyesalkan dan mengutuk takdir kegagalan. Raskolnikov ternyata tidak memilikikemampuanuntuk menembus tembok batu yang disebut dengan “nasib”. Hukum alamdemikian tangguh dan berkuasa membuat teori Raskolnikov hancur berantakan.Kekuatan rasionalitasnya kandas. Lebih fatal lagi bahwa untuk langkah pertama saja Raskolnikov telah mengalami kegagalan, Ia terperangkap dalam ketidak-berdayaan. Ia menegaskan bahwa seandainya ia berhasilmaka ia akan teranugerahi predikat manusia agung model Napoleon, Kristus dan tokoh lainnya.
Raskolnikov menambahkan bahwapembunuhan yang dilakukan oleh pembunuhan kasuistri. Dengan kasusistri berarti argumen psikologistik menjadi kehilangan landasannya. Pembunuhan terhadap nenek tua adalah pengejawantahan dari konsep kejahatan Stirner. Raskolnikov menandaskan bahwa pembunuhan yang dilakukan terhadap nenek-tua adalah pembunuhan kasusitri. Sejujurnya Raskolnikov mengatakan bahwa ia membunuh demi untuk dirinya sendiri dan bukan untukmenolong ibu dan saudaranya. Pembunuhan tidak dimaksudkan untuk meraup kekayaan, juga bukan pula bermaksud unukmenolong orang lain dan bukan pula untuk memperoleh uang. Tujuan pembunuhan adalahuntuk memperoleh sesuatu yang lain. Dengan melakukan pembunuhan Raskolnikov hendak membuktikan apakah ia sama seperti manusia lainnya. Apakahia seorang pengecut atau orang yang memiliki hak untuk mengujarkan kata-kata baru bagi kemanusiaan sepertisukses yang dilakukan oleh para martir kemanusiaan dan pencipta peradaban universal.
DOSTOIEVSKY DAN TRIPARTITE MANUSIA DALAM THE BROTHER KARAMAZOV
Tripartite Manusia mengacu pada “Troika” karya Gogol, The Death Soul. Troika adalah gerobak yang dihela oleh tiga ekor kuda berlari cepat seperti angin melintasi Rusia ke suatu tujuan yang tidak pernah diketahui secara pasti. Troika dielaborasikan oleh Dostoiesvsky ke dalam pengertian daging, pikiran dan roh. Tripartite manusia juga terkait dengan pemikiran paganisme dan nilai- nilai mitik dan arkaik dengan dimensi kosmologi, serta religiusitas bangsa Rusia, dengan kehidupan batin.
Feodor Karamzov ayah ketiga bersaudara digambarkan sebagai seorang bertabiat buruk penuh dengan sifat kehidupan serangga. Sifat-sifat serangga tersebut tertanam dalam diri ketiga anaknya. Putra sulung, Dimitri merupakan manusia sensualis, Ia dikuasai oleh nafsu birahi dan memuja hal-hal yang bersifat duniawi. Putra kedua Ivan merupakan manusia iblis, Ia seorang skeptik dan dikuasai oleh rasionalitas. Putri bungsu Alyosha merupakan manusia malaikat, dalam dirinya sarat dengan kehidupan religius. (Snow:133). Antara mereka terdapat perbedaan yang tidak terdamaikan namun dalam perbedaan ini pula mereka tersatukan dalam unitas kolosal. Ketiganya saling mengisi, semuanya terintegrasikan dalam satu sinergi dan bergerak secara dinamis menuju tujuan bersama, yaitu hidup.
Dalam diri Dimitri berkuasa kekuatan sensualitas yaitu suatu dinamika dan eros. Dimitri mewakili gambaran manusia sensualitas.(Mokhulski: 610).Walaupun seorang sensualis, ia adalah seorang yang jujur. Sifat-sifat ayahnya paling kentara mengalir dalam dirinya. sarat dengan kekuasaan mitis, tanah dalam ibu pertiwi, ‘Matushka Rus’ sebagai sumber kehidupan, kebahagiaan dan keadilan. Dalam diri Dimitri juga berkuasa satu kekuatan dahsyat dan menakutkan serta tidak terkendalikan. Kekuatan itu adalah keindahan, Dimitri mengetahui kekuatan itu bersarang dalam dirinya namun ia tak kuasa untuk melepaskan diri dari kekuatan tersebut. Kekuatan dahsyat, menakutkan dan asingdan tak dikenal itu adalah suatu kekuatan yang tidak terkontrol, suatu angin badai, api suci yang agung. Keindahan sangat menakutkan karena keindahan tidak terbatas. Kekuatan dahsyatyang diusungnya tersublimasikan dalam keindahan (krasata). Keindahan dilingkupi oleh suatu infinitas diri yang tidak terjangkau oleh manusia, ruang dan gerak serta dinamikanya tidak terdeteksi. Keindahan adalah teka-teki, di dalamnya batas-batas bertemu.[Dostoyosky (BK) :111]. Keindahan adalah misteri agung serta tidak terpecahkan. Dimitri mengatakan bahwa hal yang paling menakutkan adalah manusia dengan ideal Sodom, dalam jiwanya tidak membuang ideal Madona, dan hatinya terbakar oleh ideal tersebut. Keindahan juga terdapat dalam ideal Sodom, dalam ideal Sodom itu pulalah terletak rahasia kehidupan. Manusia adalah ajang pertempuran antara kebaikan dan kejahatan. Tuhan dan Setan bertempur, medan pertempuran tidak lain berlangsung dalam hati manusia. Pertempuran yang tidak kunjung terdamaikan, terus berlangsung dalam diri manusia. Dimitri mengatakan, keindahan berasal dari Tuhan, akan tetapi demikian sampai di bumi, keindahan tercemari dan berubah menjadi sesuatu yang dahsyat dan menakutkan. Keindahan berasal dari Tuhan, keindahan adalah perluasan Rohul Kudus akan tetapi dalam dunia yang penuh dosa, keindahan secara tak terelakkan terdistorsi, keindahan tidak lagi menyelamatkan akan tetapi sebaliknya merupakan atraksi demonis. [Dostoievsky (BK:111]
Dimitri menderita akibat keindahan, Ia tidak melihat jalan keluar dari kontradiksi-kontradiksi tragis. Dimitri memperoleh penyucian diri melalui penderitaan, melalui kesadaran akan penyiksaan dan kematian jiwa dalam hukuman ke Siberia. Hukuman adalah manifestasi dari pai eros, menjadi suatu kekuatan spiritual yang dapat mentrasgenikan dunia. Dimitri membenci ilmu pengetahuan dan ateisme. Menurutnya, keduanya menjerumuskan manusia ke dalam penistaan dan kegetiran hidup. Dimitri juga prihatin terhadap keterpurukan manusia dalam menanggung beban kebebasan absolut yang tak tertahankan. Ia menuduh Tuhan berlaku tidak adil. Protes terhadap kegalauan dunia juga disampaikan kepada Alyosha merujuk kepada pendapat sahabatnya, Rakitin. Rakitin adalah seorang ateist menjadi korban ilmu pengetahuan. Dimitri berkata kepada Alyosha bahwa semestinya manusia mampu mengatur dunia tanpa kehadiran Tuhan. Dimitri terhenyak atas pandangan Rakitin. Dikatakan bahwa: Jika Tuhan tidak ada, maka manusia adalah yang paling utama di bumi, dalam jagat raya. Namun bagaimana manusia menjadi agung tanpa Tuhan. Itulah permasalahan yang paling utama. Untuk mencintai sesama manusia, Tuhan tidak diperlukan, demikian Rakitin. [Dostoievsky (BK) :612]. Bagi Dimitri hidup demikian berharga, namun hidup tanpa Tuhan adalah suatu yang sia-sia. Sikap religiusitas Dimitri terekspresikan dalam frasa : “Unless you sin, you will not repent. Unless you repent, you shall not be saved.” Dimitri adalah pendosa yang percaya pada Tuhan. (Yermilov : 264-265}. Menurut Dimitri, hidup demikian agung karena hidup itu adalah agung. Karena manusia adalah agung, maka hidup mutlak dijunjung tinggi. Hidup demikian berharga, hidup demi hidup itu sendiri. Manusia harus hidup kendatipun telah jatuh ke lembah dosa. Dalam kedosaan itu pulalah manusia harus ditinggikan dan diagungkan. Tidak ada alasan bagi manusia untuk menyia-nyiakan hidup dengan alasan dosa warisan.
Ivan adalah gambaran manusia yang mendewakan rasionalitas, Melalui Ivan,Dostoievsky mengangkat permasalahan kebebasan teodisea ke tataran antropodisea. Pemberontakan terhadap kasualitas dan penyelenggaraan kekuasaan Tuhan dipertanyakan secara kritis. Tuhan didakwa karena Tuhan tidak perduli terhadap penderitaan manusia. Ivan mengatakan bahwa Tuhan tidak ada. Karena Tuhan tidak ada maka segalanya diperbolehkan. Akan tetapi permasalahannya Tuhan dan immortalitas ada. Karena Tuhan dan mortalitas ada maka segalanya tidak diperbolehkan. Ivan menolak segenap pemikiran di luar logika. Ivan bukanlah seorang ateist, ia percaya terhadap Tuhan. Ivan adalah simbol kekuatan duniawi keluarga Karamazov. Darahnya juga terkontaminasi oleh semacam serangga yang ganas, racun sensualitas. (Moklhulsky : 614)
Alyosha adalah manusia malaikat, Alyosha digambarkan mewarisi kekuatan religius. Dalam dirinya cinta dan keagungan manusia universal terekspresikan. Alyosha mewakili manusia dunia spiritualitas. Alyosha adalah simbol kebangkitan kembali. Tanah adalah simbol kebangkitan kembali. Tanah sebagai sumber moral. Ivan yang diperbudak oleh rasio mengakibatkan ia tersiksa dan kehilangan kepekaan terhadap nilai-nilai dan keagungan manusia. Kehidupan monastri mengantar Dimitri kepada pertobatan. Ia nyaris kehilangan pegangan kendatipun ia mencintai kehidupan. [Dostoievsky (BK) : 739]. Dalam tipe Tripartite-manusia, segenap kontradiksi watak manusia tersatukan. Tripartite-manusia mengejawantahkan realitas manusia. Kebebasan absolut yang menjadi predikat manusia baraktivitas di dalamnya. Tripartite manusia dalam perspektif eksistensialis memperlihatkan keagungan manusia dan bukan manusia agung.