Melalui percakapan dengan Stavrogin, Kirilov berujar tentang hidup dan kematian, tentang kehidupan abadi serta kaitannya dengan Tuhan. Dari gabungan unsur konstitutif ini, Kirilov tertampilkan sebagai Manusia - Tuhan sebagai salah satu gagasan oroisinil Dostoievsky yang menjadi rujukan bagi para eksistensialis seperti Sartre dan Camus dan bahkan Nietzsche, termasuk Heidegger dalam paradoks-paradoks eksistensial mereka.
Stavrogin bertanya kepada Kirilov apakah ia percaya kepada “ kehidupan abadi”. Kirilov sontak mengatakan: Percaya dengan syarat bahwa kehidupan abadi ini pastikan terjadi di bumi. Pernyataan ini sarat dengan muatan makna eksistensial.
Kirilov mengatakan : “Bukan , dalam suatu keabadian masa datang melainkan kehidupan abadi di bumi. Terdapat momen, engkau mencapai momen, dan waktu berhenti dengan tiba-tiba. Dan itu akan menjadi kekal.”
Ungkapan ini sekali mengatasi konsep Heidegger tentang kematian sebagai akhir eksistensi. Kirilov mencapai titik durasi waktu sebagaimana tertulis dalam Kitab Wahyu. Tatkala malaikat bersumpah bahwa tidak ada lagi waktu. Kirilov menegaskan bahwa sumpah ini jelas dan tepat. Ketika seluruh manusia mencapai kebahagiaan, tidak ada lagi waktu, karena manbusia tidak membutuhkannya. Ini merupakan suatu pikiran jitu, demikian Kirilov. (Dostoievsky: 1971: 242).
Keabadian menjadi suatu kontigensi. Waktu mengungkapkan dirinya sendiri dan bukan menyembunyikan diri dalam insolemn ontologisnya. Waktu ada dan menyebar dimana saja. Waktu bukanlah suatu obyek, melainkan suatu gagasan. Waktu akan raib dalam pikiran. (Dostoievsky, 1971: 243).
Sebagai seorang ateis, Kirilov terobsesi akan kelahiran manusia-Tuhan. Manusia Tuhan ini pada waktunya akan muncul di bumi, ujar Kirilov. Risalah metafisis Dostoievsky tentang makna tersembunyi eksistensi manusia terletak pada pernyataan bahwa Tuhan mestinya Tuhan tidak, akan tetapi Tuhan ada.
Dalam faktisitas ini, gagasan Tuhan-manusia serta kaitannya dengan Tuhan muncul dengan apa yang disebut dengan “Great Idea”; suatu konsep tentang manusia dari perspektif spiritual. Jika Tuhan tidak ada, maka saya adalah Tuhan. Ini adalah suatu argumen berani dan bersifat ontologism.
Manusia menjadi sebagaimana diujarkan Kirilov adalah dasar permikiran orisinil Dostoievsky dalam ranah eksistensialisme. Kirilov mengatakan bahwa : “Jika Tuhan ada, maka kehendak senantiasa di tanganNya, kemudian, dan saya tidak dapat melakukan apa-apa melawan kemauannya. Jika Tuhan tidak ada, kemudian kehendak saya belaku, dan saya bebas mengekpresikan kehendak saya”. (Dostoievsky, 1971: 612).
Mengapa demikian, “karena segalanya akan menjadi milik saya. Adakah manusia di planet ini yang setelah berakhir dengan Tuhan dan percaya pada kehendaknya sendiri, akan cukup nyali untuk mengekspresikan kehendak-dirinya dalam butirnya yang paling penting? Ini sama seperti peminta-minta yang terwarisi suatu harta karun dan ia ketakutan dan tidak berani menggenggam pundit-pundi emasnya, berpikir bahwa ia teralu kerdil untuk memilikinya.
Ditegaskan bahwa “ Saya terpanggil untuk menembak diri saya sendiri karena butir terpenting kehendak diri saya adalah membunuh diri saya sendiri. Pembunuhan diri Kirilov, bukanlah bunuh diri sebagaimana lazim dilakukan orang, karena bunuh diri boleh dilakukan oleh siapapun. Sementara pembunuhan diri Kirilov mengusung makna eksistensial dan bermakna ultim, sebagaimana otentis manusia dalam kematian sebagaimana digagaskan Heidegger. Dikatakan eksistensi dan ultimo, karena dilakukan bunuh diri tanpa motif, melainkan “semata-mata karena kehendak bebas saya sendiri”, demikian Kirilov. Lagi bahwa “Saya mau butir terpenting dan saya akana membunuh diri saya”. Ditambahkan : “Saya bebas untuk menekspresikan kemutatan saya”.
Kirilov berkata : “Tidak ada gagasan yang lebih besar daripada bahwa Tuhan tidak ada bagiku”.Sejarah manusia bagiku tidak lagi dari semua manusia melakukan penemuan akan Tuhan, dan hidup tanpa membunuh diri sendiri. Itulah esensi sejarah universal sampai kini. Sayalah satu-satunya dalam sejarah universal yang pertama kali menolak untuk menemukan Tuhan. Di atas segalanya biarkan mereka mengetahui hal itu”. (Dostoievsky, 1971: 613).
Dalam kondisi gairah Kirilov memandang sebuah ikon Penebus sebelum bunuh diri. Stavrogin bertanya “apakah engkau masih percaya kepada Tuhan”, dan bukankah “engkau menyalakan lampu”. Apakah ini suatu isyarat bahwa engkau masih percaya Tuhan. Terhadap pertanyaan ini Kirilov membisu. Padanya? Lihat, Kirilov berkata terus, berdiri dan menatap di depannya tanpa bergeming dan dengan tatapan yang orang gila.
“Hari ini kau akan bersama di surga. Waktu tiba dan pada akhirnya keduanya mati dan mereka pergi , akan tetapi mereka tidak menemukan surga dan kebangkitan kembali. Lihat : bahwa manusia adalah yang paling tinggi dari semua di segenap bumi. Ia adalah yang diciptakan. Segenap planet, dengan segala sesuatu ada di atasnya adalah sedikit kegilaan tanpa manusia itu. Tidak akan pernah seseorang seperti Dia, sebelum dan sejak itu, dan tidak akan pernah ada, bahkan tidak oleh suatu keajaiban sekalipun.
Kalaupun ada keajaiban tidak akan pernah dan tidak pernah manusia seperti dia. Dan jika ada, jika hukum alam tidak menmungkinkannya hidup di tengah-tengah kebohongan dan mati untuk berbohong, selanjutnya seluruh planet adalah suatu kebohongan serta didasarkan pada suatu kebohongan dan olok-olok. Jadi hukum alam murni planet adalah kebohongan dan kekuatan setan. Lalu untuk apa di bumi hidup, jawab jika kau seorang manusia. (Dostoievsky, 1971: 614}.
Penyelamatan untuk semua adalah membuktikan ide ini terhadap semua orang. Siapa yang akan membuktikannya? Saya tidak mengerti! Bagaimana seorang ateist dapat mengetahui bahwa tidak ada Tuhan dan tidak dapat membunuh dirinya sendiri segera!. Untuk merealisasikannya bahwa Tuhan tidak ada pada instant yang sama bahwa engkau sendiri menjadi Tuhan - adalah absurditas terhadap siapa saja engkau pastinya bunuh diri sendiri.
Jika merealisasikannya, kau adalah sejenis raja dan kau tidak akan pernah membunuh dirimu sendiri akan tetapi hidup dalam kemenangan akbar. Akan tetapi siapa yang pertama kali untuk merealisasikannya adalah keterikantan untuk bunuh diri sendiri, masalahnya siapa yang memulai membuktikannya? Adalah saya yang paling tepat membunuh diri saya untuk memulai dan membuktikannya.
Saya adalah satu-satunya Tuhan melawan kehendak sendiri, dan saya susah karena saya terikat untuk mengekspresikan kehendak-diri saya. Semuanya susah, karena semua takut untuk mengekspresikan kehendak diri mereka. Alasan mengapa mansuia dari dahulu sampai sekarang susah dan miskin adalah karena manusia takut untuk mengekspresikan butir terdalam dari dirinya – kehendak, akan tetapi telah mengekspresikannya dalam benda kecil, seperti seorang anak sekolahan. Saya susah sekali karena saya takut sekali. Rasa takut adalah kutuk bagi manusia. Akan tetapi saya akan mulai dan akhiri, serta membuka pintu.
Dan saya akan selamat, Hanya kehendak ini akan menyelamatkan manusia dan akan mentransformasikannya secara fisik ke dalam generasi selanjutnya. Karena dalam kondisi fisik sekarang manusia tidak dapat – sejauh yang saya lihat – bersama-sama dengan Tuhan terdahulunya. Selam tiga tahun saya telah mencari atribut dignitas saya, dan saya telah menmukannya; atribut dignitas saya adalah - Kehendak Diri! Itulah segalanya yang dapat saya lakukan untuk membuktikannya pada butir utama penyimpangan saya serta kebebasan dahsyat saya. Karena kedahsyatannya yang mendalam, saya membunuh diri saya sendiri untuk menujukkan penyimpangan saya saya dan kebebasan saya. ( Dostoiewvsky, 1971: 615).
Posted at 02:25 am by moan_bb
 |  |  |
benny October 25, 2008 05:37 AM PDT
salam kenal…………
AKU BUKANLAH PENYAIR, AKU HANYALAH SESEORANG- YG SEDANG-MENCARI BENTUK, WUJUD ASLINYA SENDIRI
http://www.duniasastra.com
Dikeheningan malam aku telah berjalan , menyusuri lorong-lorong kotorku dan ruhku juga telah memasuki rumah-rumah kalian . Detak-detak jantung kalian juga berdegup didadaku , dan nafas-nafasmu menghembus pula di hidungku.
Dan aku bukanlah seorang penyair aku hanya sekedar mengucapkan rangkaian kata tentang sesuatu yang sebenarnya kalian sendiri telah tahu didasar alam pikirmu.
Diantara kalian ada yang menyebutku angkuh , hanya mementingkan kegemaranku menyepi dan mengatakan kepadaku : ” Ia berbicara dengan tetumbuhan dan para satwa ,bukan dengan kita manusia . Seorang diri ia duduk dipuncak-puncak perbukitan memandang rendah pada kota dan kehidupan”. Sebagian yang lain diantara kalian berbicara kepadaku meski tanpa kata-kata : ” Ia orang yang aneh , orang ganjil , pencinta keluhuran yang tak teraih, untuk apa bermukim dipuncak-puncak gunung tempat elang bersarang, dan mengapa pula mencari sesuatu yang wujudnya belum pasti ?”…”Angin apa yang hendak kau tangkap dalam jala-mu . Burung ajaib manakah yang ingin kau jaring dilangit biru ?!…Kemarilah engkau bersatu dengan kami , turunlah bersama kita akan berbagi roti , dan lepaskan hausmu dengan anggur-anggurku !”
Memang aku telah mendaki “puncak-puncak perbukitan” dan sering pula aku mengembara dalam “kesunyian ” hutan.tapi aku juga akan tetap dapat mengamati kalian tanpa perlu “turun” dari puncak pegunungan.
Kesunyian jiwa telah menyebabkan mereka melontarkan kata-kata itu, namun apabila kesunyian itu mendalam lagi, maka mereka akan dapat mengerti, bahwa apa yang aku cari adalah rahasia terdalam jiwa manusia ,dan yang aku buru adalah sukma agung manusia yg menjelajah kesegala penjuru semesta.
Dan Kesunyian itulah yang menuntunku melangkah menuju “lorong penderitaan” sekaligus teman keagungan spiritual…..
Aku orang yang percaya sekaligus peragu, betapa seringnya jariku menekan lukaku sendiri sekedar untuk menghayati nilai kebenaran . Dan keyakinanku berkata manusia itu tak terkurung dalam raga dan jasad yang merangkak mencari kehangatan matahari, bukan pula penggali terowongan untuk mencari perlindungan, melainkan ruh yang merdeka-jiwa yang meliputi cakrawala dunia . Jika kata-kataku memasuki samar, kalian tak perlu gusar karena asal mula segala sesuatu adalah samar , meskipun akan jelas pada akhirnya.
Sebab apakah pengetahuan itu jika bukan bayangan dan pengetahuan yang terpendam bisu. Pikiran kalian dan jalinan kata-kataku, digetarkan oleh gelombang yang satu ,terekam dan terpatri diantara hari-hari dan masa silam yang telah berlalu , sejak bumi belum mengenal dirinya sendiri dan kegelapan belum terkurung oleh pekatnya malam .
Pahamilah kata-kata orang bijak dan laksanakan dalam kehidupanmu sendiri . Hidupkanlah kata-kata itu , tetapi jangan pernah memamerkan perbuatan -pebuatan itu dengan menceritakannya, karena dia yang mengucapkan apa yang tidak dia pahami , tidak lebih baik dari seekor keledai yg mengangkat buku-buku.
Jangan pernah menyesal karena kalian ‘buta’ dan jangan pernah merasa kecewa karena kalian ‘tuli’, sebab dipagi ini fajar pemahamanmu telah merekah untuk kalian didalam mencari rahasia kehidupan . Dan kalian akan mensyukuri segala gulita- sebagaimana kalian mensyukuri terang cahaya.
Dan segala yang “tak berbentuk” selalu berusaha mencari “bentuknya”, seperti berjuta-juta bintang yang menjelma menjadi matahari…
Dan kulihat…….Kehidupan itu bersifat dalam , tinggi dan jauh , hanya wawasan luas dan bebas yang dapat menyentuh kakinya , meski sebenarnya ia dekat !.
Banyak sudah orang bijak yang telah mendatangi kalian untuk mengajarkan hikmat dan pengetahuan . Dan aku datang untuk mengambil hikmat itu dan lihatlah kutemukan sesuatu yang tak ternilai didasar hati, laksana air pancuran yang melegakan jiwa.
Setiap kali aku datang ke air pancuran itu , dikala dahaga hendak membasahi kerongkongan , aku dapatkan air itu sendiri tengah kehausan -dia meminumku selagi aku meminumnya !
Hartono Beny Hidayat Elaboration with KG
|
 |