Web ini diasuh oleh ,DR.Sinkop Boas Boangmanalu, Pengajar di Departemen Filsafat Universitas Indonesia yang selama hampir 30 tahun berkutat dengan pemikiran Marx dan Dostoevsky
BAPAK Dr. SINGKOP BOAS BOANGMANALU TELAH BERPULANG
Bapak Dr. Singkop Boas Boangmanalu telah berpulang kehadapan Yang Maha Kuasa, Minggu 14 Desember 2008, jam 16.00 WIB di RS Cipto. Inilah saat buat beliau untuk beristirahat panjang dengan damai . Namun ia meninggalkan pesan dan sebuah tugas untuk diteruskan bagi seluruh kaum intelektual muda "Jangan penah berhenti merekonstruksi ide-ide usang".
Bersama ini juga kami dari Tim Meontology menginformasikan bahwa Blog Marx-Dostoievsky akan berakhir proses pengelolaannya. Karena tanpa Bapak Dr. Singkop Boas Boangmanalu blog ini kehilangan spirit dan inspirasi. Namun blog ini tidak akan kami hapus, karena blog ini menjadi kenangan-kenangan yang cukup berharga dari beliau bagi para pencinta pemikiran filsafat Marx atau Dostoievsky di dunia maya.
Tidak lupa juga kami mengucapkan terima kasih atas partisipasi dan opini yang ditorehkan dari rekan-rekan pengunjung setia Blog Marx-Dostoievsky. Dukung Anda telah memberikan semangat bagi kami dalam pengelolaan blog ini.
MOHON DUKUNGAN SEMANGAT DAN DOA BUAT BAPAK DR. BOAS
Bersama ini kami dari Tim Meontologi mengharapkan dukungan semangat dan doa Anda, pengunjung setia blog ini sehubungan dengan kondisi kesehatan Bapak Dr. Boas yang kurang baik. Untuk sementara waktu beliau harus beristirahat dan meninggalkan seluruh aktivitas akademiknya.
Demikian juga dengan pengelolaan blog ini, untuk sementara akan vakum hingga kesehatan bapak Dr. Boas membaik. Terkait hal tersebut, bersama ini kami juga memohon maaf kepada Anda, para pengunjung meontology, karena saat ini kami belum bisa mengupagrade isi dari blog ini .
Bagi rekan-rekan yang ingin menyampaikan kata-kata dukungan kepada Dr. Boas silahkan mengsms ke no 085925077652 atau ke no. 081381025093. Dukungan dari Anda sangat berarti buat beliau.
Pada dasarnya setiap agama, terutamasemitik,mengklaim kebenaran mutlak agama yang dianut. Pluralismeagama dam pluralitas agama merupakan dua hal yang bisa diposisikan dalam kancah yang sama, tetapisecara prinsip memiliki perbedaan. Bagi penganut agamanyamemiliki klaim kebenaran, pluralitas agama merupakan suatuyang niscaya; sedangkan pluralisme agamamerupakan masalah tersendiri yang bagi merekaperludiperdebatkan dan bahkan harus dihindari sedini mungkin agar klaim kebenaran mereka menjadi relevan dan tetap aktual.
Pluralisme menjadi persoalan bagi sebahagian pemikir Islam. Ingat fatwa haram MUI tentang pluralisme agama. Fatwa tersebut dapat dikatakan menjadi pemicu bagi terjadinya tindak kekerasan, pembunuhan dan penganiayaan serta pelecehansekte yang satu oleh sekte yang lain. Dalam fatwatesebut dikatakan: Pertama, Mereka tidak mau memiliki persepsi bahwa semua agama sama. Kedua, Mereka memiliki persepsi bahwapluralisme itu anak kandung ideologi Barat yang lahirdarirahim historis masa renaisans. Ketiga,Mereka berargumen bahwapluralisme agama bukan berbasis pada teologi agama, akan tetapi teologi sekuler yang bermuara pada humanisme sekuleryang bermuara pada humanisme sekuler yang bertentangan denganIslam,dan akhirnya mengagungkan rasio sebagai alat pijakan dan menafikan sisi wahyu dari agama. Islam sebagai “dien” tidak memiliki akar sejarah yang sama dengan termarjinalkannya agama di Barat oleh dominasi humanisme sekuler pada masa pencerahan.
Kredo agamadapat secaralangsung maupun tidak langsung menstimulir kejahatan terhadap ummatnya yang berakibat pada keterlibatan aparat negara, y6ang pada tataran tertentu tidakberhasil untukmenanganinyasudah pasti merupakan kejahatan negara. Kejahatan negara dengan demikian adalah suatu kondisi yang menuntut agardalam melaksanakan tugas dan wewenangnya negara tidak dapat melepaskan tanggung-jawabnya hanya dengan alasan-alasan pertikular yang menafikan tugas dan wewenangnya, atau kecenderungan apologisdi luar logikadan esensi negara itu sendiri. Tidak ada pemaafan. Tanggung jawab publik dan komitmen menegaraharus dibuktikan dalam tataran praxis. Wewenang, tugas dantanggung jawab yang diemban negara memang berat, namun hampir tidakdapat dipungkiri negara mutlakmembuktikan kapabilitasnya sebagai suatu institusi yang terhormat di matawarga dan rakyatnya. Isyarat ini menjadi afirmatif sejauhnegara memenuhitugas danmerealisasikan amanah rakyat.
Demokrasi adalahalat untuk merealisasikan HAM. Akan tetapi demokrasi juga melahirkan permasalahan tyerutama kaitannya denganagama Islam yang tidak mengalami proses reanaisans dan reformasi di Eropa Barat.Dilematersebut berkaitan dengannilai dan tradisi yang tak terpisahkan dari Islam itu sendiri. Untuk hal tertentu nilai-nilai HAM belum tentu sejalan dengan Islam, demikian sebaliknya. Dalam konteks warisan nilai dan kandungan budaya, sosiolog Amerika,Robert N. Bellah mengatakan sesungguhnya bangunan politik yang dikembangkan nabi Muhamad ketika di Madinah adalah bersifat modern. Dalam Mitsag al-Madinah (Perjanjian Madina) konstitusi pertama sebuah negara prinsip-prinsip kesamaan. Prinsip elagitarianistik, keadilan dan partisipatif diterapkan.Pluralistik suku diikat dalamsuatu kesepakatan bersama dianggap sebagaiummat, dalam pengertian warga negara. Pada saat itu bani Aus yang Jahudi pun dianggap sebagai umat Madinah. Transformasi Yatsrip menjadi Madinah adalah konstitusi peradaban oleh Islam, transformasi masyarakat Arab dari keduniawian ke suatu yang lebih beradab. Prinsip keadilan (al-adl) prinsipbersama (al-musawarah) dan prinsip demokrasi (syura) dijamin.
Masalahkredo yang sejalan dengan HAMsampai dengan dewasa ini tetap mengganjal.Demokartisasiranah agamisacapkali melahirkan konflik dan bersifat dilematik.Permasalahan dilematik antara nilai-nilai demokratik dengankredo agamisbaru baru inimencuat ke permukaan.Di Palestianakelompok radikalantiZionisme mengantongikeuntungan politik dan berhasil merebut kursi terbanyak di parlemen.Kemenangan demokrasitersebut ternyatamelahirkan persoalan baru. Kemenangan HAMAS dan fraksi konservatif serta orientasi tradisional memperlihatkan bahwa demokrasi ternyata tidak hanya menghasilkanpluralisme dan toleransi, akan tetapi jugamanusiatotalitarianisme kekuasaan danradikalisme. Demokrasi dalam arti Pemilu bersih saja tidaklah cukup. Diperlukan setidak-tidaknya sebuah konstitusi yang menjamin kemajemukan, keadilan dankesetaraan. Akibatnya ancamanyang sangat seriuspada akhirnya pada akhirnya, yaitu semangat kebangsaan atau nasionalisme, dan sebagai akibat arus yang terbendung adalahtotalitarianisme dan sektarianisme. Apabila hal initidak terhentikan bukan mutahil akan menjurus kepada lahirnya model neo-Nazisme, neo-Stalinisme yanglebih seram.
Harus diakuibahwa di pelbagai belahan dunia, demikian Zuhaini Misrawi dalam RUU APP dan radikalisasi agama dalam Jurnal “Perempuan”, No. 17, Tahun 2006, menuliskanbahwa baik Taliban, Arab Saudi dan Sudan tidak menghasilkan perubahan yang menakjubkan. Alih-alihreformasi dan perubahan yang terjadi justru sebuah kenyataan terpinggirkannya kaum perempuan, totalitarianisme para pemuka agama dan matinya kesenian, serta berbagai kreativitas lain termasuk juga kebebasan berpikir.
Di sejumlah negara yang mengusung Islam, pada akhirnya demokrasi hanya menjadi jalan mulus bagi totalitarianisme dan otoritarianisme, bahkan belakangan memuluskan terorisme. Indonesia telahmeratifikasi DUHAM. Sebagai akibatnya pemerintah bertanggung-jawab atas pelanggaran terhadapnya. Ketidak-mampuan untuk melaksanakanwewenang dan tanggungjawab adalah suatu bentuk kekerasan dan kejahatan negara.
Nilai fundamental harus bisa diekspresikan dalam bentuk-bentuk yang nyata. Persyaratan bagi masyarakat yang bergunabagi seluruh ummat manusia ditentukan oleh nilai-nilai fundamental dalam rangkuman pengalaman sejarah. Harus ditetapkan kondisi organisasi yang memungkinkan terpenuhinya cita-cita HAM dalam suatu modus dan cara hidup yang berlaku umum, penghapusan segala bentuk kediktatoran, kesempatan yang sama dalam pendidikan, mendorong terciptanya kehidupan yang plural di semua masyarakat dan solidaritas internasional. Dalam pada itu, prinsip distribusi keadilan dengan prinsip kesetaraan seperti yang digagas oleh Almarte Zen perlu diartikulasikan dalam kehidupannegara dan menjadi obsesi baru bagi setiap penyelenggara negara.Bagi HAM, kesesuaian antara nilai-nilai dengan tujuan tujuan fundamental merupakan prasaranauntuk aksi-aksi bersama. Nilai-nilai fundamental itu bisa tumbuh dari latar belakang religius, atau filosofis, atau kemanusiaan (humanisme), yang menimbulkan motif yang berbeda. Untuk mendapatkan identitas politik seluas mungkin, disamping penghormatan kita terhadap keyakinan agama masing masing unsur-unsur primordial yang mendukung HAM bisa ditumbuhkan.
Von Magnis dalamKuasa dan Moral, mengatakan bahwa negara dan Tuhan merupakan hal yangterpisah dalam suatu kesatuan. Dalam teks teksinjil dikatakana : “Serahkan bagian Tuhan dan berikan bagian yang menjadi manusia. Urusan negara di bumi adalahurusanmanusia, sementaraurusan surgawi berada dalam tataran teologis. Di Barat pemisahan antaranegara dan agama telah definitif dan pembagian ranah kedaulatan masing-masing telah jelas. Sementaradalam Islam dan mungkin jugadalamtradisi agama lainnya, pemisahantersebutbelum tentusama dengan Barat. John Locke, bapak konstitusionalabad XVII, di satu pihak menyangkal wewenang negarauntuk mencampuri fikiran dan kepercayaan seseorang. Di lain pihakiamenuntutagar agamamembatasi diri padaajaran mengenaiakhirat dan pada kegiatanibadat. Sedangkanurusan dunia diserahkan kepada negara. Seturut denganajaran Locke, pada zaman rasionalismedan liberalisme fungsi agama tergeserkan ke spektrum yang signifikandi luaraktivitas negara, politik, ideologidanhukum positivistik dan lebih ke arah kemaslahatanmanusia dan jaminanterhadapmoralitas masyarakat.
Konsep The Other Levinas menjadi suatu alternatifdalammenyikapi labiran nilai yang acapakalimenyudutkan manusia ke dalam suatu kondisi anomali dan terperangkap dalamsistem nilai yang dibangunnya sendiri melalui pembalikan paradigmamakna manusiasecara ontologis dan radikal.Levinas, filsuf eksistensialismeabad XX, mengatakan bahwamanusia adalah suatu konfigurasi pertemuandengan manusia lain dalam tataran a-simetris, yaitudalam suatu susanahikmat dan eksistensial.Orang lain adalahseorang tamu atau hamba yangmenyapa sayadan dari sorotan matanyamemohonsaya untuk memperlakukannya sebagai suatu pribadi yang butuh pengakuan. Suatupenyerahan total, pasrah diri atas kehadiran oranglain adalah suatu tuntutan asali dan bersifat eksistensial.
Demialasanpolitik danlegitimasi kekuasaannegara,melalui aparat pendukungnya cenderungmonomerduakanamanahrakyatdansubordinatif terhadaptuntutan agama.Hormat dan tunduk terhadap institusi lain dari luartermasuk agama adalah suatu kejahatan danpengingkaran terhadap eksistensi danesensi negara.Lebih penting lagi adalahmengadakan pencerahan terhadapmanusia sebagaisubyek atau kesadaran otonommengetahui persis hak-haknya. Suatu pencerahan mutlak dilakukan. Dengan kata lain,bukan mustahil justru dalam tubuh negaramerupakan tempat berlindungorang-orang psikopatik dan tidak bertanggung-jawab. Kejahatan jenis ini harus dinyatakan sebagai kejahatan terselubung dan yang mengancamhak-hak dasar manusia. Didalamnya suatu bentukfiguratif watak patologis bangsa terwariskan dan merusak jiwa bangsa keseluruhan.Sisiburuk yangditinggalkannya adalah sikap memelihara dendam,kebencian yang irrasional,sikap pengecut dan kemunafikan,cari selamat, arogansi dan sok berkuasa sertaberbagai sifat negatif lainnya yang berkaitandengan kepribadian bangsa yang tidak berani untuk mengekspresikan diri.
BUNUH DIRI KIRILOVIAN DAN LANDASAN FUNDAMENTAL EKSISTENSI MANUSIA
Melalui percakapan dengan Stavrogin, Kirilov berujar tentang hidup dan kematian, tentang kehidupanabadi serta kaitannya dengan Tuhan. Darigabungan unsur konstitutif ini,Kirilovtertampilkan sebagaiManusia - Tuhan sebagai salah satu gagasan oroisinil Dostoievsky yang menjadi rujukan bagi para eksistensialis seperti Sartre dan Camus dan bahkan Nietzsche, termasuk Heidegger dalamparadoks-paradoks eksistensial mereka.
Stavroginbertanya kepadaKirilov apakah ia percaya kepada“ kehidupan abadi”. Kirilov sontak mengatakan: Percayadengan syarat bahwakehidupan abadi inipastikanterjadi di bumi.Pernyataan ini sarat dengan muatan makna eksistensial.
Kirilov mengatakan : “Bukan , dalamsuatukeabadian masa datang melainkankehidupan abadidibumi. Terdapatmomen, engkau mencapaimomen, danwaktu berhenti dengan tiba-tiba.Danitu akan menjadi kekal.”
Ungkapan ini sekali mengatasi konsep Heidegger tentang kematian sebagai akhir eksistensi. Kirilov mencapai titik durasi waktu sebagaimana tertulis dalam Kitab Wahyu. Tatkala malaikat bersumpah bahwa tidak ada lagi waktu. Kirilov menegaskan bahwa sumpah ini jelas dantepat. Ketikaseluruh manusiamencapaikebahagiaan, tidak ada lagi waktu, karenamanbusia tidak membutuhkannya. Ini merupakan suatu pikiran jitu, demikian Kirilov. (Dostoievsky: 1971: 242).
Keabadian menjadi suatu kontigensi. Waktu mengungkapkan dirinya sendiri dan bukan menyembunyikan diri dalam insolemn ontologisnya. Waktu ada dan menyebar dimana saja.Waktu bukanlah suatu obyek, melainkan suatu gagasan. Waktu akan raib dalam pikiran. (Dostoievsky, 1971: 243).
Sebagai seorang ateis, Kirilovterobsesi akan kelahiran manusia-Tuhan. Manusia Tuhan ini pada waktunya akan muncul di bumi, ujar Kirilov.Risalah metafisis Dostoievsky tentang makna tersembunyi eksistensi manusia terletak pada pernyataan bahwa Tuhan mestinya Tuhan tidak, akan tetapi Tuhan ada.
Dalam faktisitas ini, gagasan Tuhan-manusiaserta kaitannya dengan Tuhan muncul dengan apa yang disebut dengan “Great Idea”; suatukonsep tentang manusia dari perspektifspiritual.Jika Tuhan tidak ada,maka saya adalah Tuhan. Ini adalahsuatu argumen berani dan bersifat ontologism.
Manusia menjadi sebagaimana diujarkan Kirilov adalah dasar permikiran orisinil Dostoievsky dalamranaheksistensialisme. Kirilov mengatakan bahwa :“Jika Tuhanada, makakehendak senantiasa di tanganNya, kemudian, dansaya tidak dapat melakukanapa-apa melawan kemauannya. JikaTuhan tidak ada,kemudian kehendak saya belaku, dan saya bebas mengekpresikan kehendak saya”. (Dostoievsky, 1971: 612).
Mengapa demikian, “karenasegalanyaakan menjadi milik saya. Adakah manusia di planet ini yangsetelah berakhir dengan Tuhandan percayapadakehendaknya sendiri,akan cukup nyaliuntuk mengekspresikankehendak-dirinya dalambutirnya yang paling penting?Ini sama sepertipeminta-mintayangterwarisisuatu harta karun dan ia ketakutan dan tidak beranimenggenggam pundit-pundi emasnya, berpikir bahwaia teralukerdil untuk memilikinya.
Ditegaskan bahwa “ Sayaterpanggiluntuk menembakdiri saya sendirikarenabutir terpentingkehendakdiri sayaadalah membunuh diri saya sendiri. Pembunuhan diri Kirilov, bukanlah bunuh diri sebagaimana lazim dilakukan orang, karena bunuh diri boleh dilakukan oleh siapapun. Sementara pembunuhan diri Kirilovmengusung makna eksistensial dan bermakna ultim, sebagaimanaotentis manusia dalam kematiansebagaimana digagaskan Heidegger. Dikatakan eksistensi dan ultimo, karena dilakukanbunuh diri tanpa motif, melainkan “semata-matakarenakehendak bebas saya sendiri”, demikian Kirilov.Lagi bahwa “Sayamaubutir terpentingdansaya akana membunuh diri saya”. Ditambahkan : “Sayabebas untuk menekspresikankemutatan saya”.
Kirilov berkata :“Tidak adagagasan yang lebih besardaripadabahwaTuhan tidak adabagiku”.Sejarah manusiabagiku tidak lagi dari semua manusiamelakukanpenemuan akan Tuhan, danhiduptanpamembunuh diri sendiri. Itulahesensisejarah universalsampai kini. Sayalah satu-satunyadalamsejarah universalyangpertamakalimenolakuntuk menemukan Tuhan. Di atas segalanya biarkan mereka mengetahui hal itu”. (Dostoievsky, 1971: 613).
Dalam kondisi gairah Kirilovmemandang sebuah ikon Penebus sebelum bunuh diri. Stavroginbertanya “apakah engkau masih percaya kepada Tuhan”, danbukankah “engkau menyalakan lampu”. Apakah ini suatu isyarat bahwa engkau masih percayaTuhan.Terhadap pertanyaan ini Kirilov membisu. Padanya? Lihat, Kirilov berkata terus, berdiri danmenatapdi depannyatanpa bergemingdandengan tatapan yangorang gila.
“Hari inikauakan bersamadi surga. Waktu tibadan pada akhirnyakeduanya mati danmerekapergi , akan tetapimereka tidak menemukansurga dan kebangkitan kembali.Lihat : bahwa manusia adalahyang paling tinggidari semua di segenap bumi. Iaadalahyang diciptakan. Segenapplanet, dengansegala sesuatu ada di atasnya adalah sedikit kegilaantanpa manusia itu. Tidak akan pernah seseorangseperti Dia, sebelum dansejak itu, dan tidak akan pernahada,bahkan tidakoleh suatu keajaiban sekalipun.
Kalaupun ada keajaibantidak akan pernahdan tidak pernahmanusia sepertidia.Danjikaada, jikahukumalamtidakmenmungkinkannya hidupdi tengah-tengahkebohongandan mati untuk berbohong,selanjutnya seluruhplanetadalahsuatu kebohongansertadidasarkan padasuatu kebohongandanolok-olok. Jadihukum alam murniplanetadalah kebohongan dan kekuatan setan. Lalu untuk apadi bumihidup,jawabjika kauseorang manusia. (Dostoievsky, 1971: 614}.
Penyelamatanuntuk semuaadalahmembuktikanide initerhadap semua orang. Siapayang akan membuktikannya?Saya tidak mengerti!Bagaimanaseorang ateistdapatmengetahuibahwatidak ada Tuhandan tidak dapat membunuhdirinya sendiri segera!.Untuk merealisasikannyabahwaTuhan tidak adapadainstant yang samabahwaengkausendiri menjadi Tuhan - adalah absurditasterhadapsiapa saja engkau pastinyabunuh diri sendiri.
Jika merealisasikannya, kau adalahsejenis rajadan kautidak akan pernahmembunuh dirimu sendiri akan tetapihidupdalamkemenangan akbar. Akan tetapisiapa yangpertamakali untuk merealisasikannyaadalah keterikantan untukbunuh diri sendiri,masalahnyasiapayang memulaimembuktikannya? Adalah sayayang paling tepatmembunuh diri sayauntuk memulaidan membuktikannya.
Saya adalah satu-satunyaTuhanmelawankehendaksendiri, dansaya susahkarenasayaterikat untuk mengekspresikankehendak-diri saya. Semuanya susah, karenasemua takutuntuk mengekspresikankehendak diri mereka. Alasan mengapamansuiadari dahulu sampaisekarangsusahdan miskinadalah karenamanusiatakutuntuk mengekspresikanbutir terdalamdari dirinya – kehendak, akan tetapitelah mengekspresikannya dalambenda kecil, sepertiseorang anak sekolahan. Sayasusah sekalikarenasayatakut sekali.Rasa takutadalah kutuk bagi manusia. Akan tetapisaya akanmulai dan akhiri,sertamembuka pintu.
Dan sayaakan selamat, Hanyakehendak iniakanmenyelamatkan manusiadan akanmentransformasikannyasecara fisikke dalam generasi selanjutnya. Karenadalamkondisi fisiksekarangmanusia tidak dapat–sejauh yang sayalihat –bersama-sama denganTuhan terdahulunya. Selam tiga tahunsaya telah mencariatributdignitas saya, dansaya telahmenmukannya; atributdignitas sayaadalah- Kehendak Diri! Itulah segalanya yang dapatsaya lakukan untuk membuktikannyapadabutirutamapenyimpangan sayasertakebebasan dahsyat saya. Karenakedahsyatannyayang mendalam, sayamembunuhdiri saya sendiriuntuk menujukkan penyimpangan sayasayadan kebebasan saya. ( Dostoiewvsky, 1971: 615).
INGIN MENDAPATKAN PAKET BUKU + TULISAN DAN BAHAN PENGAJARAN DR. BOAS?
Bagi rekan-rekan yang ingin mempelajari dan memperdalam pemikiran Marx & Dostoievsky secara otodidak, kami menawarkan paket buku + tulisan + bahanajar Dr. Boas. Paket ini terdiri atas Buku "Marx, Dostoievsky, Niezsche: Menggugat Teodesi dan Merekonstruksi Antropodisi" (deskrip. nya ada di blog ini), dan CD yang berisikan "kumpulan tulisan-tulisan Dr. Boas", "beberapa presentasi bahan ajar".
Paket ini kami tawarkan dengan harga Rp. 70.000,- . Untuk pemesanan silahkan kontak tim Meontology via sms ke 085925077652 atau email ke hendra_has@deptan.go.id a.n Hendra Sipayung.
PELUANG MENJADI KONTRIBUTOR DI BLOG MARX-DOSTOIEVSKY
Bersama ini kami dari Tim Meontology menyampaikan permohonan maaf atas kurang terupdatenya blog ini. Hal ini diakibatkan kesibukan Bapak Boas di Dept. Filsafat UI , sehingga agak kesulitan untuk mengirimkan tulisan secara rutin.
Namun Bapak Boas telah menyetujui untuk membuka kesempatan bagi rekan-rekan yang ingin memberikan kontribusi tulisan di blog ini. Dimana tulisan yang dimuat akan terlebih dahulu dievaluasi dan mendapat persetujuan dari Bapak Boas.
Dan untuk tulisan kontribusi yang menarik, oleh Bapak Boas, akan turut disertakan dalam koleksi tulisan Marx-Dostoeivsky, yang bakal diseleksi dan menjadi bagian dalam buku "Kumpulan Tulisan Kaum Muda tentang Marx dan Dostoievsky".
Tulisan yang ditampilkan adalah bertemakan pemikiran Karl Marx atau F. Dostoeivsky. Untuk format tulisan, maks. 3 halaman, Arial 10 dan spasi 1. Untuk setiap kutipan mohon disebutkan sumbernya. Ttulisan tersebut dapat dikirimkan kepad kami via email hendra_has@deptan.go.id.
Dalam kredo Ortodoks Yunani manusia terdudukkan sebagai mahluk yang agung dan mulia. Penempatan ini menyebabkan Dostoisevskymenghampiri manusia sebagai yang agung pula. Dalam upaya untuk menciptakan “keagungan manusia” dan “bukan manusia agung, sebagaimana pada Nietzsche,ia menampilkanRaskolnikov, tokoh protagonist Crime and Punishment, melebihi dimensi sosok manusia agung Nietzsche, dariorientasi ontologis “kehendak buta” Schopenhoer, yaitu suatu kekuatan sublimyang sebagasi landasan kekuatandan hidup.
Raskolnikov adalah gambaran manusia yang penuh dengan vitalitas, dalam dirinya tersimpan kekuatan maha dahsyat serta tidak terpahamkan oleh nalar. Ia memiliki intelektual tinggi dan sarat dengan gagasan-gagasan agung tentang manusia. Raskolnikov dituntut agar mampu untuk hidup sendiri dan memutuskan hubungan dengan humanitas. Raskolnikov adalah representasi manusia dengan predikat kehendak berkuasa.
Menurut Dostoievsky, manusia terdiri dari dua kategori yaitu manusia luar biasa dan manusia biasa. Manusia luar biasa memiliki hak untuk melakukan kejahatan dan melanggar hukum. Hak tersebut bukan hak resmi, melainkan lebih merupakan hak yang berasal dari suara hati atau batin. Hak tersebut menentukan kesadaran untuk melakukan tindakan besar demi satu tujuan yang pasti, yaitu memberikan makna terhadap hidup dan menciptakan suatu signifikasi baru terhadap humanitas. Raskolnikov mengatakan bahwa sebagai manusia luar biasa ia memiliki hak, hak itu adalah hak batin untuk memutuskan dengan kesadaran total untuk melanggar hukum [Dostoievsky [CP]: 263].
Raskolnikov tersiksa oleh pertanyaan tentang apakah ia mampu melewati batas-batas dan apakah ia berhak untuk melanggar hukum yang ada. Manusia luar biasa wajib melakukan kejahatan, membunuh dan menumpahkan darah manusia. Tugas suci ini harus dilaksanakan demi kata hatinya dan demi predikatnyasebagai pengujar gagasan-gagasan agung kemanusiaan.
Pembunuhan mutlak dilakukan sebagai syarat untuk menciptakan suatu tatanan dunia baru. Napoleon merupakan acuan baginya untuk menjalankan misi penghancuran tradisi, hukum konvensional guna penegakan prinsip-prinsip kemanusiaan demi penciptaan peradaban universal. Kekuatan itu merupakan landasan bagi manusia yang berani berhenti dan memetik sesuatu daripadanya. Raskolnikov menegaskan bahwa manusia harus memiliki keberanian [Dostoievsky (CP) :423-424] untuk melewati batas-batas dan melakukan pembunuhan.
Tanpa keberanian manusia tidak lain adalah kutu busuk. Atas dasar pemikiran inilah Raskolnikov melakukan pembunuhan. Melakukan pembunuhan adalah manfestasi saei nihilistic manusia. Tujuan hidup adalah untuk menciptakan suatu nilai baru yang berorientasi pada upaya untuk meninggikan martabat manusia; melaksanakan misi suci dengan menumpahkan segenap pikiran dan energi demi kepentingan manusia dan sekaligus menjadi pegangan Raskolnikov.
Pembunuhan yang dilakukan tidak bermotif untuk memperoleh keuntungan, bukan pula untuk membantu keluarga yang sedang dihimpit oleh kesulitan keuangan. Akan tetapi membunuh untuk menemukan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lain yang dimaksud adalah sejenis pembuktian diri dan karenanya manusia mutlak menerobos batas-batas, mampu pula melanggar hukum tanpa dihantui oleh perasaan bersalah. Pembunuhan yang dilakukanoleh Raskolnikov adalah pembunuhan kasuistri. [Dostoievsky (CP: 317]
Pembunuhan kasuistri adalah pembunuhan tanpa motif yang berorientasi pada upaya afirmasi diri, berada diluar batas-batas moralitas dan bukan suatu pembenaran. Raskolnikov sendiri, ia tidak kuasa untuk menjelaskan motif yang tersembunyi dibalik pembunuhan yang dilakukannya. Kekuatan tersebut berkuasa penuh serta tidak terpahamkan dan terus menyiksa dirinya. Raskolnikov menulis teori-teori pembunuhan yang bermotif pada pendewaan terhadap kejahatan dalam majalah “Preview”.
Dalam artikel itu disebutkan bahwa manusia adalah agung sejauh melakukan kejahatan. Permasalahan melakukan atau tidak melakukan kejahatan lebih merupakan pertimbangan moral. Sementara pembunuhan itu sendiri tidak berkaitan dengan moral. Raskolnikov membunuh bukan untuk menguasai milik orang lain, bukan pula untuk menolong sesama akan tetapi semata-mata untuk memperoleh sesuatu yang lain.
Memperoleh sesuatu yang lain adalah suatu kondisi patologis mental. Raskolnikov sendiri tidak mengetahui persis apa yang mendorongnya untuk melakukan pembunuhan. Membunuh demi pembunuhan adalah suatuaspekmaotivatif. Karena di balik pembunuhan keji terdapat sesuatu kekuatan absurd dan tidak terpahamkan. Pembunuhan tanpa larangan dianggap sebagai tindakan agung sejauh dilakukan sesuai dengan dorongan hati nurani. Pembunuhan adalah suatu mediasi menuju kesempunaan manusia.
Makna eksistensial yang tersirat dalam pembunuhan adalah suatu nilai intrinsik suatu tindakan tanpa motif, tanpa tujuan. Pembunuhan berada di luar pertimbangan moral, bukan masalah baik dan jahat [Dostoievsky (CP : 425]. Raskolnikov berpegang teguh pada prinsip dan keyakinannya sebagai manusia luar biasa dengan mengidentifikasikan diri sebagai Napoleon. Sebagai manusia agung ia sadar akan kemutlakan untuk memiliki keberanian. Keberanianadalah syarat mutlak dimiliki demi kepentingan seluruh umat manusia [Dostoievsky (CP :263-264]
Sosok manusia Raskolnikovmengisyaratkan suatumaksimbahwa manusiatunduk padahukum“degenerasi-regenerasi”. Dalam dataran ini, sosok manusia Raskolnikov adalah suatu dasar pijak montologis untukmemahami manusiadalam arti baik dan buruk, dankebebasanyang diaktualisasikandalam masing-masing, kemampuan melacurkan diri dan memperbudak diri; dalam hal Raskolnikov, dalam beberapa idea mengimposedseluruh personsebagaisuatu yang kurang tepat; dalam hal diri manusia awah tanah tercermin kondisigalau dan mencekam dimanastatus ontologism dirimenjadi suatu yang dilematis; menjadi sesuatu atau tidak sama sekali.
Menjadi diri sendiri atau menjadi orang lain atau di luarnya sekaligus.Identitas diri tertampilkan sebagai sesuatu yang eksistensial.Kegalauan dan disorientasi dalam diri gambarankerentanan manusia serta ketidaktahanan untukmelaksanakan beban kebebasan pada Inquisitor agung.
Oposisi biner antarabaik dan buruk, antara “kebebasan untuk kebaikan” dan “kebebasan untuk keburukan “ dalam prosesmediasi dramatik, mengungkapkanmoral dasar dandimensireligius dalam diri manusia dibawahtingkat memperbudak diri yangberasal dari luar, ide paksaan yang memungkinkan regenerasi.
Lebih lanjutmediasi terlempar kedalam fokustiga dimensi dapat dibacadalambatasanpemahamantentang manusia secara lebih mendalamdalam suatu keseluruhan. Dalam tingkatan simbolisme penyakitsebagaimediasiantarasakitdan sehat, mediasi wilayah rumittermasukpengobatan tidak hanya karena berkat Sonya semata, akan tetapijuga berasal dari dalam diri Raskolnikov sendiri, daridimensi moral religius, dimensi totalitas manusia. Dengan demikian
Dostoievsky meletakkantotalitas manusia sebagai mediatorantaraunsur-unsurberlawanan. Di sini, posisi antaraide abstrask dari suaturelitas nalar dan perasaan yang yang dimasukkan, dimensimoral-religiusmembawa persona total ke depan dalam merespon ciuman Kristus. Keseluruhanmediasi iniadalah tempatintegrasi kesalahandalam person, sebagaimana padaKristus denganInquisitor Agung.
Dostoievsky mengatakan untuk merangkulopos ketegangan oposisi biner baik dan buruk, bahwa kebebasan diaktualisasikandalam konteks, bahwa kitadibutuhkankesadaranuntuk aktualisasiketegangan antarabaik danburuk sesuai dengandominasi danidekosong, terhadap kebutuhan orang lain dari kita, bahwa kitaditebusolehkasih.Terdapat kontras antaraduniadegenerasi dan dunia regenerasi. (McBrind : 34-35).
Buku ini berisikan dari kumpulan tulisan ringan, mengulas pemikiran Marx dan Dostoievsky dalam nuansa eksistensialisme ala Nietzsche. Disajikan secara lugas, provokatif, yang bakal membuat Anda tergugah, dengan sedikit mengerutkan dahi namun di akhir pembacaan Anda akan dibawa pada cakrawala pemikiran yang mencerahkan dan revolusioner. Ini bukan karya sekedar filsafat ngejelimet, ada sebuah perbedaan yang tidak akan Anda temukan di buku-buku filsafat lain. Anda tidak percaya? silahkan membacanya dan buktikan.
Untuk mendapatkan buku ini, silahkan melakukan pemesanan ke alamat email hendra_has@deptan.go.id atau dengan meng-sms ke no 081807109782 atau 085925077652 (a.n Hendra Sipayung) dengan menyertakan alamat lengkap Anda. Pembayaran akan dilakukan via transfer rekening. Dan kami akan menginformasikan no rek untuk transfer pembayaran (BCA dan BNI) ke alamat email Anda atau via sms. Pengiriman akan kami lakukan setelah Anda mengkonfirmasikan pembayaran dengan mengirimkan slip pembayaran via email atau cukup memberitahukan kami setelah Anda melakukan transfer.
REFLEKSI PELANGGARAN HAM DALAM RANAH IDEOLOGIS-AGAMA
Tanggal 30 september dan Agustus 1965, persitiwa berdarahditandai oleh pembunuhan sadis. PartaiKomunismenjadi tertuduh.Angkatan Darat dan partai agama, dan massa anti komunisbalik menyerang.PascaG30S/PKI suasana semakin tidak terkendali. Setelah konsolidasi pemerintah dan terbentuknya Orba, suasana tetap dan bahkan semakin memanas. Tenggangwaktu inilahkejahatan negaradalam kaitannya dengan HAMmerupakan pengalamanberharga bagibangsa Indonesia untuk dijadikan sebagairefleksimasa lampau sekaligus proyeksi ke masa depan.Akal sehat dan kondisipluralisme di segala aspek kehidupan mengisyaratkanpentingnya HAM ditegakkan.
Sejarah juga mengajarkanbahwa segenap kejahatan dan pelanggaran terhadap HAM, harus dikutuk termasukdalam hal ini negara.Sebagai bangsa yang bermartabat kekuasaan tidak harusmengorbankanrakyat sendiri. Produksi dan reproduksi ingatanadalah suatu konsekwensi logis dariideologi tersembunyi dari peristiwa G30S/PKI untuk menakut-nakuti masyarakat sehingga mudah dikendalikan. Ia menjadi semacam menara “panoptikon” yang berfungsi sebagai sistem pengawasan dominan tapi akan mudah mengetahuisepak terjangsi terpidana. Kelakuannya mudahdididuga dan diawasi. Tragedi G30S/PKI adalah suatu faktum historisdimananegara melalui pemerintah Orbamelakukan kekerasan dan viktimisasi terhadapkeluarga anggotaPKI.Melaluimekanisme teror dan cara panoptikonistik tersebutsertamerta terwariskandari generasikegenerasi.
Kejahatan dan kekerasan politik dan kekuasaandalam bentukyang mengenaskan seperti sekarang initidak terpisahkan dari tradisi tersebut. Anehnya para pemimpin negara-negara Asiatikmembenarkantindakan mereka sebagai bentuk legimisasi kekerasan dan kejahatan negara. Nilai-nilai Asiatik oleh Soeharto pada masa Orba, diterjemahkanmenjadi sifat dan konsep kebudayaan nasional. Nilai-nilai ini dijadikan dalih pembenaranpelanggaran prinsip-prinsip demokrasi dan pelanggaran hak-hak politik baik di bidang pembangunan ekonomi maupun pembangunan politikyang dijalankan oleh negara.Asumsinya, demikian Ignas Kleiden, negara sebagai institusi harus berusaha melindungi masyarakat dari beban nilai-nilai asingkarena masih terlalu berat dilaksanakan pada waktu itu.
Nilai-nilai Asiatik, yang terkerucutkan ke dalam nilai Indonesia menjadi saranauntuk pembenaran diri negara atas pelanggaran yang dilakukannya terhadap hak-hak politik masyarakat. Pandangan itu sulit dibenarkan secara antropologis.disebabkan karena tidak ada nilai yang hanya mempunyai satu kekuatandengan satu akibat saja. Nilai individualisme yang sering dianggap sebagai sikap yang mengutamakankepentingan sendiri, dalam praktek justrumembuat orangamat bertanggung-jawabterhadap diri sendiri, menghormati hak-hak dan privasi orang lain, dan tidak maumembebani orang lain dengan persoalandan kesulitan sendiri. Sebaliknyakolektivisme dan kekeluargaanyang didukungolehsistem patriarki otoritarian dipuja-puja oleh rezim Soeharto, dalam prakteknya justruberkembangmenjadisuatu egosentrisme kolektifyang eksklusif dan hanya memperhatikansuatu kelompok terbatas, seperti keluarga dan kroni-kroni sendiri, mitra bisnisdan hierarki nomenklatur. Kondisi faktual ini membuat orang tak acuh terhadap mereka yang berbeda di luar lingkungan tersebut. Sementara anggapan tentang nilai-nilai konfusionisme telah mendorong maju ekonomi di negara-negara Asia hanyalah suatu generalisasi berlebihan, karena di Cina daratan sendiri tempat perangkat nilai-nilai itu berasal dan berkembang luas, pertumbuhan ekonomi tidaklah mengesankan.
Dalih penolakan terhadap HAM sering dikaitkan denganperlindungan terhadapinvasi nilai, distorsibudaya asing dengan berlandas padasakralitasnilai domestik, agama, nilai luhur dan situs suci primordialisme.Deskripsi terhadap penolakan HAM yang dimaksudtergambardalamberbagai media massa. Dalamsuratkabar Kompas, 2 April 2004, Hendardi dalam Hak Asasi Manusia (HAM), negara kesatuan RI.dan alat politik,mengatakanbahwa semua aparat NKRI mempunyai kewajiban pokok untuk menghormati, melindungi dan memenuhi tuntutan dan aspirasi HAM. Harus diakui, pengusungan issu HAM dapat dijadikan “alat politik” seperti dituduhkan Hikmanto terhadap pemerintah di negara-negara maju. Akan tetapi, justru berbahayajikahal itu disambut dengan reaksi menggelembungkan semangat nasionalisme karena akan mengancam sendi-sendi perlindungan pemenuhan HAM.
Orientasi nilai Asiatik versi Soeharto menjadi suatu wacana moral yang harus disikapi dan dieksplitaskan secara cermat tanpa berhenti pada pemikiran dogmatis. Namun yang lebih penting lagi bukanlah sekedar justifikasi diri terhadap dunia luar, akan tetapi dampakyang dilahirkan orientasi tersebut kenyataanpelanggaran hak-hak asasi manusia,hak politik danwilayah demokrasidan ruang publik telah ternoda. Pertanyaannya adalah siapa yang bertanggung-jawab terhadap kondisi stagnananomalitas dan kekerasan negaradalam bentuk penganiayaan, kekerasan, penangkapan, intimidasi dan suasanteror.Kondisi patologis ini bisa dijadikansebagai wacana permenungan dan landasan pemikiran kritis. HAM danpartikularisme,nasionalitasdan agamaharusdipahamidalam perspektif yang optimistik, dapat direkonsialisasikantanpa salah satu diantaranyaharus mensubordinasikan yang lainnya.
HAM tidak harus memaksakan diri agar muatan budaya, aspek historisitas dan nilai-nilai Eropa Barat yang dikandungnyaditerima begitu sajaolehbangsa lain.Budayadan kandungan lokal sarat dengan universalitas dan prinsip-prinsip demokrasi serta egalitarianisme, persaudaraan dan kesetaraan yang diagung-agungkan Eropa Barat. Bahkan Islam yang selama inidipersepsikan Barat sebagai agamayangmenolak universalisme danHAM tidaklah demikian halnya. Hak-hak asasi manusia tidak mutlak merujukkepada konsep baku HAM sebagaimanadipahamkan oleh Eropa Barat dan Amerika Serikat. Di negara negara dunia ketiga, bangsa-bangsa di kawasan Timur Tengah dan berbagai negara lain,tidak dapat dipungkiri memiliki nilai-nilai, kepercayaan agama tersendiri yang relevan dan sesuai dengan tuntutan HAM. Untuk itu dibutuhkan suatu sikap arif dan kecerdasan memilih yang pada prinsipnya mencapai suatu proksimitas dan berwawasan emansipatoris bermuatan partisipatoris. Kecurigaan negara-negara dunia ketiga terhadap Barat dapat dijadikan sebagai titik berangkat menuju konsesus nilai dalam persandingannya denganliberalisasi dan demokratisasi Barat. Celakanya sering kalipenguasa di negara-negaraduniaketiga tersebut dengan alasan-alasan tertentu menolakHAM.
Ignas Kleiden dalam kata pengantar padabukuRodha. Howard, HAM Penjelajahan Dalih Relativisme Budaya, mengatakan bahwanilai-nilai Asiatik yang sering diketengahkan oleh pemimpinAsia Tenggara seperti Lee Kwan Yew dari Singapura, Perdana MenteriMoh. Mahatir dari Malaysia, dan Presiden Soeharto dari Indonesiaterkesan naïf dan apolegetik.Pelanggaran oposisi politik selama Orde Baru, Presiden Soehartoberdalih bahwademokrasiharus menyesuaikandengan kebudayaan Indonesia, yang lebih berorientasi padaharmoni daripada konflik.
Kasus pengrusakan dan pengusiran warga Ahmadyah di NTT merupakan kejahatan negara. terhadap salah satu sekte Islam, jamaah Ahmadyah. Pelaku pengrusakan,teror dan intimidasi, dan tindakan anarkis adalahumat Islam sektelainnya. Korban jamaah Ahmadyah Parung, Bogor, pembakaran rumah, pengusiran warga di NTB adalah suatu tragedi teologis yang sangat memprihatinkan terjadi justru dalamtataran kemerdekaan danperadaban yang mengakui demokrasi dan menghormati hak-hak asasi manusia. Kekerasan baru-baru inimengenai pengrusakan masjidNurabwa milik jamaah Ahmadyah di desaRonawila, kabupatenKonawe Selatan, Sulawesitenggara dirusak massa tak dikenal pada saatpuluhan anggotaJemaah sedang melaksanakan acara peringatanMaulud Nabi SAW.Pengurusakan jendela kaca,inventaris mesjid sepertilemari buku, mihrab dan sejumlahbuku ajaranAhmadyah (Koran Tempo, 1 Mei 2006)
Bagi bangsa Indonesia peristiwa tersebutdapat menjadirefleksi historis untuk meciptakan suatu kondusi kondusif bagisemakinterinternalisasikannya nilai-nilai humanitas dan universalitasyang mampu mengatasikepentinganprimordialistik, agama terutama mengingatIndonesia semakin dihadapkan pada permasalaham pluralistik dam kondisimasyarakat global, dan inter-relasiantar warganegara dunia, kosmopolitanisme tanpa kehilangan jati diri bangsa.
Suatu hal yang menjadi opsesi kita sebagai bangsa adalah berupaya untukmemberikan kontribusi terhadap peradaban yang selama inikita dianggap tidak terlalu peduli apalagi berpartisipasi aktif dalam merealisasikan HAM. Dengan hati yangkecutkitadipaksa untuk menerimasebutan sebagai bangsayang kurang peduli HAM.. Untukmeyakinkan dunia tuduhan tersebutadalah a historis dan sama sekali tak berdasar. Namun suatu kerja keras harus dilakukan. melalui tindakan kongkret.